Wednesday, September 20, 2006

Berbagi Suami: Pertanyaan Dua Sisi

Eric Sasono

Perbincangan tentang seksualitas manusia sama tuanya dengan umur peradaban manusia. Segala usaha transendensi manusia dari kehidupan sehari-hari selalu berurusan dengan pengelolaan hasrat-hasrat seksual dalam berbagai bentuknya. Tradisi, agama dan filsafat sangat peduli terhadap seksualitas, menandakan betapa mendasarnya seksualitas buat kehidupan manusia. Tak ada agama dan tradisi yang tak membicarakan seksualitas baik dalam kerangka mengekang, menyalurkan ataupun merayakannya.

Dengan demikian seksualitas akan sangat berkaitan dengan spiritualitas. Susan Sontag mengajukan pengertian spiritualitas sebagai rangkaian rencana, istilah dan ide dalam rangka mencari jalan keluar dari kontradiksi struktural yang berada secara inheren dalam situasi manusia. Ia sejajar dengan tak hanya struktur sosial tetapi juga usaha transendensi yang dilakukan manusia di sebaliknya. Sementara itu seksualitas kerap diartikan sebagai proses dan relasi sosial yang berkaitan dengan pengelolaan hasrat-hasrat, manusia terutama dan utamanya adalah hasrat seksual. Spiritualitas kerap jadi salah satu dasar bagi seksualitas.

Spiritualitas sejauh ini mengenal jalan keluar pengelolaan hasrat adalah melalui pernikahan. Dalam beberapa tradisi dan agama tertentu, pernikahan adalah ritus pasasi (rites of passage) yang sama niscayanya kelahiran dan kematian. Nyaris tak ada struktur sosial, betapapun sederhananya, yang tak mengenal pernikahan. Clifford Bishop (Sex and Spirituality, 1996) mencatat hanya suku Nayar di pantai Malabar, India yang tak mengenal pernikahan. Itupun hanya sampai pertengahan abad kesembilan belas. Jaman modern melibasnya.

Di sisi lain, pernikahan yang menetapkan pengelolaan hasrat seksual manusia bersumber dari agama dan tradisi, memang sedang berada dalam keguyahan landasan pijaknya. Representasi media sedang memperlihatkan institusi ini tak mampu memberi jalan keluar dari ketegangan penyaluran salah satu hasrat terpenting manusia: sex. Akhirnya muncul pertanyaan bersisi ganda. Sisi pertama mempertanyakan soal ketidakmampuan institusi dan proses sosial yang lahir dari pengelolaan hasrat sex ini dan menyarankan kemunculan alternatif-alternatif terhadapnya. Di sisi kedua, pertanyaan itu mengarah pada kesungguhan komitmen manusia terhadap sumber agama dan tradisi sebagai dasar pengelolaan itu yang kemudian memunculkan usulan terhadap pengetatan terhadap pelaksanaan agama dan tradisi dalam kehidupan sehari-hari.

Poligami

Di tengah situasi semacam ini, Nia Dinata mengajukan sebuah komentar yang sangat menarik. Berbagi Suami, film terbarunya, mengamati bagaimana pertemuan antara spiritualitas dan seksualitas itu dalam instutusi sosial bernama poligami. Pilihan ini menarik. Karena sekalipun kecenderungan monogamis tampak jadi moda dominan dalam kehidupan sekarang ini, ia bukan pilihan satu-satunya. Dengan mengajukan ragam spiritualitas yang sangat berbeda tanpa disadarinya, Nia Dinata tiba pada pertanyaan tentang keberhasilan atau kegagalan institusi sosial bernama poligami dan pernikahan. Pada gilirannya, sikapnya terhadap spiritualitas itu juga tercermin di sini.

Dengan menyodorkan tiga cerita berbeda, Nia Dinata melihat bagaimana perilaku poligami tak hanya dipandang dalam kerangka hubungan-hubungan antar tokohnya tetapi juga menampilkan gagasan yang melatarbelakanginya. Film ini menjadi sebuah komentar budaya (cultural commentary) yang sangat kuat dan berbau satir. Spiritualitas dan seksualitas terlihat berpadu dalam ketiga cerita dalam film ini, dengan pernikahan sebagai institusi tempat keduanya bertemu.

Pada cerita pertama dalam film ini, spiritualitas itu tampil banal dalam melihat seksualitas. Pak Haji bernama Ali Imran (El Manik) dengan tegas menyebut alasan “menghindari zina” sebagai alasan berpoligami. Di film ini spiritualitas agama Islam tampak gemar pada verbalisme dalam menganjurkan dan menerapkan doktrin-doktrinnya. Verbalisme ini terlihat sebagai pemecahan yang simplistis terhadap persoalan seksualitas laki-laki. Sementara sang perempuan, Salma (Jajang C. Noer) dengan mudahnya menerima pemecahan terhadap seksualitasnya dengan banalitas yang sama yaitu berupa pembelaan posisi suaminya, laki-laki yang diuntungkan itu.
Nia Dinata tidak membahas persoalan seksualitas perempuan di bagian ini. Bisa jadi karena wacana dalam bagian ini memang berangkat dari hegemoni wacana kebaikan agama. Salma mengutipkan Al-Quran untuk menggambarkan penerimaan dalam wacana kebaikan itu sekalipun wacana itu dibantah oleh seorang perempuan anti poligami (Dewi Irawan) dengan wacana serupa. Memang terkandung kompleksitas persoalan apabila seksualitas (dalam arti penyaluran hasrat) Salma harus dibahas juga secara sejajar. Nia tampaknya memilih untuk mengabaikannya sehingga membuat segmen ini menjadi sangat karikatural. Para tokohnya menjadi sangat satu dimensi, dan karena itu dengan mudahnya kita mengenali tokoh semacam itu dalam hidup kita sehari-hari.

Cerita kedua justru dibuat sama sekali tanpa verbalisme argumen. Ada sebuah presumsi kuat dan pandangan dunia yang tampak diterima begitu saja tanpa perlu dibicarakan sedikitpun. Poligami hanyalah konsekuensi. Pak Lik (Lukman Sardi) cukup tertawa lebar untuk menggambarkan bahwa ia adalah sentra bagi tiga perempuan di sekelilingnya. Ia bahkan bukan patron ekonomi. Istri-istrinya tampak mensubsidi subsitensi kehidupan ekonomi mereka. Ia lebih mirip situs pemujaan dimana ketiga perempuan dengan cara pandang “semangat” kepasrahan perempuan Jawa memenangkan keikhlasan, harmoni dan kebaikan di atas kebutuhan mendasar mereka sendiri.

Semangat mereka mirip dengan penggambaran perempuan dalam prosa liris Linus Suriyadi Pengakuan Pariyem, hanya saja dalam film ini semangat itu bersifat kolektif. Bentuk hubungan mereka seakan penggambaran relijiusitas sehari-hari dengan obyek sembahannya sendiri. Nama obyek sembahan itu adalah phallus dan Sri (Ria Irawan), istri pertama Pak Lik, adalah pemuja yang taat terhadapnya dengan ritual berupa hubungan seks yang penuh ekstase. Minak Jinggo: miring enak, jengking monggo..

Pak Lik yang sangat machoistik ini menjadi simbol bagi egoisme laki-laki. Ia bagai mewakili Priapus, tokoh dewa kebun pengusir gagak dalam mitologi Greco-Roman yang kerap digambarkan dengan penis gigantik. Jika pembuat film ini seorang laki-laki mungkin ia akan menggambarkan hal ini untuk merayakan phallosentrisme. Dalam film ini, perempuan bernama Nia Dinata justru mencemooh phallosentrisme itu. Kedua istri Pak Lik yang lain, Dwi (Rieke Dyah Pitaloka) dan Siti (Shanty), justru mengembangkan orientasi seksual mereka sendiri (yang bernama lesbianisme) dan lari dari pemujaan phallus itu.

Cerita ketiga berangkat dari spiritualitas yang sama sekali berbeda. Pada keluarga etnis Cina pengusaha restoran bebek Koh Abun (Tio Pakusadewo), spiritualitas berkaitan dengan kesejahteraan. Pada etnis Cina, pengelolaan hasrat (seksualitas) dan usaha transendensi manusia (spiritualitas) dipercaya harus selalu berkaitan dengan kesejahteraan. Kesejahteraan merupakan konsekuensi dari ketaatan beragama yang sangat penting. Maka dari itu mustahil Koh Abun menceraikan Cik Linda (Ira Maya Sopha) yang membawa hoki kepada usaha dagangnya. Nia Dinata menambahkan latar belakang Katolik yang sebenarnya tak terlalu perlu karena menipiskan keterkaitan spiritualitas dengan kesejahteraan ini.

Dengan logika yang sama, maka sangat wajar Ming (Dominique) meminta apartemen dan mobil sebagai pertukarannya menjadi istri muda Koh Abun. Penggambaran ini adalah penggambaran spiritualitas yang tak memisahkan dunia materi dan non-materi. Keduanya berada dalam ranah yang sama, berhubungan satu sama lain. Tak ada pembenaran ideologis bagi pologami. Pada pragmatisme semacam ini, tubuh adalah alat tukar yang berharga tanpa harus menjadi rendah dan hina. Tubuh dan dunia material punya nilai sendiri dalam merancang kemenangan spiritualitas. Sampai akhirnya Ming menegaskan posisinya yang rela menukarkan tubuh dengan rangkaian pencapaian duniawi.

Bentuk-bentuk Keluarga

Ketiga cerita ini dijahit oleh Nia Dinata dengan sebuah motif yang sangat dikenal oleh bangsa ini: peristiwa tsunami di Aceh di akhir tahun 2004. Motif ini seakan mengingatkan bahwa seperti halnya tsunami di Aceh, poligami adalah sebuah pengalaman kolektif bangsa ini. Bedanya, jika tsunami dibicarakan terbuka di berbagai media dan membuat anak-anak kehilangan waktu menonton televisi mereka karena para orangtua berebut menonton “berita penting” itu, maka poligami selalu berada di wilayah abu-abu. Poligami adalah wilayah media infotainmen yang kerap dianggap tak memperlakukan materi berita mereka sendiri secara pantas. Kebohongan dalam soal poligami seakan tak ada urusannya dengan persoalan lain bangsa ini.

Namun Nia Dinata seakan mengingatkan dua hal. Pertama, keluarga (apapun pengertian keluarga itu) adalah sebuah landasan yang masih penting dan punya arti dalam kehidupan bersama. Kedua, kebohongan di tingkat keluarga tetap merupakan kebohongan. Maka ketika sebuah keluarga dibangun dari kebohongan dan penyembunyian, ada sesuatu yang salah dalam keluarga itu.

Komentar budaya yang diajukan Nia ini tampak seakan menguji keluarga Indonesia. Keluarga yang dipercaya sebagai dasar struktur masyarakat harus teruji dengan pertanyaan yang paling tajam terhadap bentuk, signifkansi dan operasinya. Jawaban terhadap pertanyaan ini pada akhirnya akan menentukan apakah struktur masyarakat kita mampu menghadapi tantangan yang berasal dari fondasinya sendiri.

Film Indonesia belakangan memang banyak mengajukan bentuk keluarga yang tidak lagi konvensional. Sudah banyak keluarga dengan orangtua tunggal (single parent) digambarkan dalam berbagai film. Film-film tahun 2006 ini bahkan menggambarkan keluarga yang lebih tidak konvensional lagi. Garasi (Agung Sentausa) menggambarkan kehidupan komunal sebagai pengganti bagi bentuk keluarga inti yang kaprah dikenal. Realita, Cinta dan Rock ‘n’ Roll (Upi Avianto) memperlihatkan keluarga dengan ibu yuppies yang secara periodik membawa “calon ayah” untuk diperkenalkan kepada anaknya serta ayah yang transeksual.

Pada Berbagi Suami ini, selain berbagai bentuk keluarga poligamis dengan segala gagasan yang mendasarinya, Nia Dinata menggambarkan bentuk keluarga yang juga jauh dari konvensional. Ayah dimiliki secara kolektif oleh anak-anak yang tak tinggal seatap, sedangkan ibu tidak selalu berarti hubungan biologis.

Keluarga sebagai usulan pemecahan masalah juga tidak konvensional dalam Berbagi Suami. Mari bandingkan dengan film lain. Ketika (Dedi Mizwar, 2005) menawarkan keluarga konvensional yang membawa cinta dan impian sebagai usaha memenangkan kehidupan itu sendiri. Ada Apa dengan Cinta?( Rudi Soedjarwo, 2002) menawarkan keluarga orangtua tunggal sebagai pemecahan konflik rumah tangga. Berbagi Suami mengajukan penawaran yang lebih jauh lagi dalam segmen cerita kedua.

Ketika Dwi dan Siti memutuskan untuk lari dari rumah Pak Lik sambil membawa kedua anak biologis Dwi, terkandung sebuah pemecahan yaitu keluarga homoseksual dengan kedua orangtua lesbian. Pemecahan ini tergolong revolusioner yaitu lesbianisme sebagai penolakan terhadap phallosentrisme. Belum pernah ada film Indonesia yang menawarkan pemecahan seperti ini.

Di sisi lain, Nia menyindir penerimaan terhadap poligami. Pada segmen pertama, hal itu tampak jelas dengan nasehat terakhir Pak Haji kepada anaknya, Nadim, untuk menikah dengan satu orang perempuan saja. Apalagi di bagian akhir ketika seorang perempuan yang lebih muda (Lauda Cinthya Bella) datang ke pemakaman Pak Haji sambil menggendong bayi dan berteriak memanggil Pak Haji. Ketiga istrinya tak tahu bahwa sang suami punya istri keempat. Nadimpun terbengong bersama ibunya dan tak lagi terkejut. Karikatur pun terbentuk dengan sempurna.

Jawaban

Dengan mengajukan karikatur seperti ini, Nia Dinata tampak seperti sedang menampilkan sebuah komentar yang tulus. Namun ketika penggambaran ini dikembalikan kepada soal guyahnya lembaga perkawinan, Nia tampak berpihak pada pertanyaan pada sisi pertama. Ia sedang menyindir institusi pernikahan serta landasan spiritual yang mendasarinya. Pada gilirannya, dan juga sebagaimana ditampilkan dalam film, Nia mengajukan bentuk-bentuk alternatif. Salah satu alternatif di Berbagi Suami adalah keluarga dengan kedua orangtua lesbian.

Sebagai sebuah komentar sosial, sebagaimana Arisan!, film ini telah menggambarkan sebuah karikatur yang sangat baik. Bahkan Berbagi Suami terlihat lebih riang, tanpa beban dan jauh dari kesan menggurui dalam menyampaikan karikatur itu. Namun sebagaimana karikatur, tidak semua pihak siap menerimanya. Dibutuhkan kelegaan hati untuk menertawakan para obyek yang ada dalam karikatur itu. Sayangnya di karikatur ini Nia seakan tidak menggambarkan dirinya sendiri. Para obyek dalam karikatur ini bagai ikan-ikan yang berada dalam akuarium dan disaksikan segala kelucuan, keriangan dan ceritanya dari sebuah jarak yang dibatasi oleh sekat kaca. Untung saja Nia tampak menguasai betul cerita yang ditampilkan dan mampu menceritakannya dengan penuh daya tarik.

Nia mampu menghadirkan seluruh elemen film (terutama akting yang berubah dari potensi batu sandungan besar menjadi kekuatan utama) yang membuat seluruh bangunan ceritanya terpercaya. Kerja mengarahkan ensamble akting ini dilakukan Nia dengan cukup halus. Beberapa shot yang dilakukan oleh Nia juga cukup nakal dengan menghadirkan makna seksualitas yang bertumpuk-tumpuk. Misalnya tangan Koh Abun sempat di close-up di balik rok Ming yang sedang dan terus saja berdandan. Demikian pula saling lirik antara Nadim (Winky Wirawan) dengan istri ketiga ayahnya, Ima (Atiqa), dengan usia mereka yang tak berbeda jauh. Semua ini berhasil membuat elemen-elemen film bercerita dengan sangat baik, lancar dan secara sempurna menyampaikan maksud sang pembuat film.

Apakah cerita saja cukup? Nia memang berpijak di satu sisi persoalan itu dan mengajak penonton filmnya memandang dari sisi itu. Ini adalah pilihan Nia dan ia tampaknya merasa perlu menyampaikan maksudnya dengan cara seperti ini untuk mengorek apa yang disebutnya underground privileges para laki-laki di Indonesia ini.

Dengan menempatkan para obyek ceritanya dalam akuarium seperti itu, Nia sebenarnya telah menempuh resiko kehilangan titik berangkat bersama, common ground --kalimatun sawaa dalam istilah yang dipopulerkan Almarhum Nurcholis Madjid-- dalam membicarakan pernikahan, poligami dan segala seluk beluknya di negeri ini. Ini adalah sebuah resiko pilihan yang bisa jadi tak harus dikuatirkan hingga sejauh itu.