Tuesday, July 04, 2006

Film Superhero: Percayalah Kami Juga Manusia

Clark Kent adalah kritik Superman terhadap kelemahan kemanusiaan
Bill – Kill Bill 2

Pernah lihat seorang super hero bajunya luntur di mesin cuci? Super hero itu bernama Spider-Man. Nama aslinya adalah Peter Parker, seorang anak muda lulusan SMA yang kerja serabutan. Sempat menjadi fotografer lepasan di Daily Buggle, menjual potret Spider-Man, alter ego-nya. Sempat menjadi pengantar pizza dengan sebuah skuter mini yang sudah peyot, sampai akhirnya harus memakai kekuatan supernya supaya tak terlambat mengantarkan pizza tersebut. Namun akhirnya ia terlambat juga karena harus menyelamatkan dulu dua orang anak kecil yang sedang bermain di jalan dari sebuah truk yang nyaris melindas mereka. Dasar super hero! Tak bisa lepas dari kewajibannya berbuat baik kepada sesama manusia.
Itu semua bisa Anda temukan pada film Spider-Man 2 (2003), sekuel dari Spider-Man yang sukses. Masih dengan sutradara Sam Raimi seperti pada film sebelumnya, film ini mengejutkan banyak orang. Mengapa? Soalnya adalah ternyata film ini menggambarkan seorang super hero yang sangat manusiawi. Ternyata Spider-Man lebih banyak berurusan dengan persoalan-persoalan dirinya ketimbang berkelahi dengan lawan-lawan super yang sulit dikalahkan. Tentu ada penjahat super yaitu Doctor Octopus yang merupakan jelmaan dari Doctor Octavius yang dihormati oleh Peter. Dengan demikian perkelahian ini agak menyulitkan Spider-Man karena ia tahu bahwa dibalik kejahatan sang dokter, ada manusia yang ia hormati di balik itu. Dan ini memperkuat persoalan manusiawi Spider-Man: bahwa persoalannya sebagai super hero sama besarnya dengan persoalannya sebagai manusia biasa.
Dari film Spider-Man 2 ini, kita bisa melihat ada tiga plot yang menegaskan sifat manusiawi seorang manusia super. Pertama, tentu saja konflik antara Spider-Man melawan Dr. Octopus (Alfred Molina). Mulai dari pertemuan pertama mereka dan kekaguman Peter Parker terhadap Dr. Octopus. Campur tangan Harry Osborne terhadap konflik itu, hingga perkelahian terakhir mereka di depan mesin ciptaan Dr. Octopus. Ini adalah plot yang mengedepankan aspek superhero dari sang manusia laba-laba. Kedua adalah kisah romance antara Peter Parker a.k.a Spider-Man dengan Mary Jane Watson (Kristen Dunst). Kisah cinta mereka yang dimulai di Spider-Man, terus berkembang karena ternyata Mary Jane mulai berpacaran dan dilamar oleh John Jameson (Daniel Gillies) putra Jonah Jameson (JK Simmons) pemilik harian Daily Buggle. Dan plot ketiga adalah konflik batin Spider-Man dengan kekuatan supernya. Jika pada bagian pertama konflik ini, Spider-Man dibantu oleh Paman Ben, dalam sekuelnya, tak ada Paman Ben untuk membantu. Dan konflik batin ini semakin meningkat sehingga Spider-Man sempat menanggalkan bajunya dan membuangnya ke tempat sampah. Plot ini adalah penggambaran sebuah krisis identitas yang menimpa seorang anak muda dengan kekuatan luar biasa. Ia dihadapkan pilihan antara meneruskan kehidupan sebagai Spider-Man atau mencopot topengnya dan menjadi Peter Parker yang lemah dan berkacamata.
Dengan tiga plot yang sama pentingnya dan jalin menjalin ini, tak heran jika kritikus terkenal James Berardinelli menyebutkan bahwa menonton film Spider-Man 2, kita akan mendapatkan tiga genre film sekaligus: film superhero (plot pertama), film romance (plot kedua) dan film coming of age (plot ketiga). Sebagai informasi saja, plot coming of age berurusan dengan pertumbuhan psikologis anak muda yang sedang tumbuh.
Berardinelli cukup jeli untuk merumuskan film ini sedemikian, tetapi sebenarnya hal ini wajar mengingat bahwa perkembangan film superhero belakangan ini mencatat adanya hal yang berbeda dengan film-film superhero tahun 1980-an seperti Superman atau Captain Amerika. Tulisan ini mencoba melacak darimana asal perkembangan sedemikian dari film-film superhero.

Adaptasi Komik
Film superhero kebanyakan diadaptasi dari media komik. Perkembangan industri media komik diawali dengan sebuah asumsi bahwa komik adalah sebuah media yang diperuntukkan bagi pembaca anak-anak dan remaja. Dengan demikian, komik ditandai dengan keberadaan tokoh-tokoh manusia berkekuatan super atau makhluk planet atau makhluk supernatural berkekuatan super dan berhati mulia. Mereka berkelahi melawan para penjahat, yang juga punya kekuatan super, yang berniat untuk menguasai dunia. Karakter-karakter dan perkembangan plot dalam komik-komik ini begitu tipikal dan mudah ditebak.
Dari cerita dan tokoh-tokoh sederhana ini komik kemudian berkembang ke beberapa arah. Pertama adalah penciptaan tokoh-tokoh baru. Penerbit besar seperti DC Comic menciptakan tokh-tokoh seperti Green Arrow, Black Canary, Hawk Man dan Hawk Woman serta tokoh-tokoh di samping tokoh-tokoh utama mereka Superman dan Batman. Tokoh-tokoh ini tidak pernah sedemikian berhasil hingga mampu menggeser tokoh-tokoh utama mereka. Akhirnya beberapa tokoh muncul sebentar dan kemudian menghilang atau digabungkan dengan tokoh-tokoh utama. Arah kedua adalah penciptaan karakter-karakter side-kick ataupun tokoh ikutan dari tokoh utama yang sudah terkenal. Karakter seperti Robin, Bat Girl sampai Nite Wing dan Azrael adalah tokoh-tokoh yang dikembangkan seputar tokoh utama Batman. Bahkan Arkham Asylum, tempat mengurung para penjahat super musuh Batman sempat dijadikan seri tersendiri oleh penerbit DC. Tokoh Superman juga mempunyai tokoh sampingan seperti Supergirl bahkan Superdog, anjing yang memiliki kekuatan super bagaikan Superman.
Arah ketiga adalah penggabungan tokoh-tokoh super dalam seri seperti Justice League of America dan The Teen Titans. Seri ini menggabungkan tokoh-tokoh yang tidak terlalu populer dengan tokoh utama seperti Batman, Superman atau Robin. Mereka bersama menghadapi penjahat-penjahat yang mega super kekuatannya. Arah keempat adalah cross-over atau persilangan antara tokoh super dari dua penerbit utama komik di Amerika, DC dan Marvel. Dalam arah ini kita bisa membaca komik-komik semisal Superman vs Spider-Man atau Batman vs Hulk.
Namun keempat arah ini lebih ditujukan bagi para pembaca anak-anak dan remaja. Berbagai variasi arah perkembangan komik ini tidak mampu menembus pasar orang dewasa. Padahal usia komik dan tokoh-tokohnya sudah cukup tua, sehingga pembaca anak dan remaja yang setia para komik harus meninggalkan media kesayangan mereka ini. Hal ini terjadi sampai munculnya gerakan revisionis di pertengahan tahun 1980-an.
Gerakan revisionis dalam dunia komik dipelopori boleh tiga orang penulis yaitu Frank Miller, Alan Moore dan Grant Morrison. Mereka awalnya bekerja untuk penerbit besar menangani cerita-cerita untuk komik anak dan remaja. Namun mereka merasa tidak puas dengan cerita yang masih berkutat pada problem-problem anak dan remaja. Ketidakpuasan ini mendorong mereka untuk membuat cerita dengan problem yang lebih dewasa yang ditujukan kepada pembaca-pembaca dewasa.
Para penulis revisionis ini ditandai dengan kemampuan mereka mengajukan penawaran cerita yang berada di luar pakem yang sudah ditetapkan oleh para penerbit besar seperti DC dan Marvel. Mereka mengubah cara pandang terhadap tokoh-tokoh yang sudah dikenal dan mengintroduksi problem-problem yang tidak pernah disentuh pada masa-masa sebelumnya, yaitu problem-problem yang hanya bisa dinikmati sepenuhnya oleh para pembaca dewasa.
Frank Miller melakukan hal ini pada tokoh Batman dalam seri The Return of The Dark Night. Dalam komik yang kini hamper mendekati posisi klasik ini, Miller mengubah sama sekali problem tokoh Batman dari problem cerita yang konvensional untuk anak dan remaja ke cerita yang lebih bermuatan untuk orang dewasa. Cerita ini memakai tokoh Batman pada usia 50-an tahun dan sudah mulai menggantung jubahnya. Problem yang dihadapi oleh Bruce Wayne, alter ego Batman, adalah problem yang bersifat psikologis sekaligus sosiologis dimana tindakan superhero yang dilakukannya berkaitan dengan struktur social masyarakat, terutama menghadapi penjahat-penjahat berupa orang-orang mutant. Komik ini mendapat sukses besar merevisi karakter Batman. Revisi juga dilakukan Miller dalam Batman: Year One. Seri ini menggambarkan kisah tahun pertama kehidupan Batman, mulai dari keputusannya menjadi superhero sampai ia berkenalan dengan Selina Kyle yang menjadi Catwoman. Miller bekerjasama dengan artis Frank Mazuchelli menghasilkan gambaran pahlawan super yang penuh dilemma psikologis yang hanya mampu dinikmati sepenuhnya oleh pembaca dewasa.
Revisi yang dilakukan oleh Alan Moore dicatat pada seri Watch Men yang legendaries itu. Moore, penulis asal Inggris yang bekerja di DC Comic itu awalnya mengusulkan cerita Watch Men untuk karakter-karakter yang sudah dikenal dalam DC Comic, tetapi usulannya tidak diterima. Akhirnya ia menciptakan karakter-karakter yang baru sama sekali untuk memuat cerita Watch Men ini. Dalam Watch Men, Moore mengeksplorasi problem yang dialami para superhero, seperti halnya problem manusia biasa. Di sini, Moore misalnya megintroduksi pemilihan kostum superhero yang bersifat ironi. Dalam sebuah flashback, Moore menggambarkan superhero yang salah memilih kostum berjubah sehingga harus mengalami kecelakaan ketika sedang mengejar penjahat akibat jubahnya itu. Namun Moore tidak berhenti di situ. Dalam Watch Men, Moore mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi manusia super, penciptaan alam semesta, ambisi manusia super dan ketakutan-ketakutan mereka. Seri ini kemudian menjadi magnum opus yang memuat problem-problem besar kehidupan dan persoalan kemanusiaan yang mendasar.
Penulis komik revisionis ini tidak berjalan sendirian karena di penerbit-penerbit kecil non-DC dan Marvel, penulis-penulis lain juga mengangkat problem-problem yang dewasa dalam cerita mereka. Nama seperti Todd McFarlane yang sempat merevitalisasi Spider-Man di Marvel memiliki tokoh sendiri yaitu Spawn di bawah bendera penerbit Image. Image memberlakukan kebijakan yang berbeda dengan DC dan Marvel dimana para penulis memiliki sepenuhnya hak atas karakter yang mereka ciptakan sehingga para penulis bisa memberi muatan yang berada di luar pakem seperti yang diterapkan di DC dan Marvel. Dengan demikian McFarlane dengan Spawn mampu menghadirkan problem superhero yang tidak biasa dan bersifat cutting-edge.
Dua arah perkembangan cerita superhero ini kemudian memberi peluang untuk inovasi bagi para penulis, baik dalam merevisi karakter superhero maupun untuk menciptakan karakter-karakter baru yang kompleks. DC bahkan membuka lini Vertigo yang diperuntukkan khusus bagi pembaca dewasa. Tokoh Swamp Thing dijadikan percobaan dalam lini ini dan ternyata sangat berhasil mendatangkan pembaca dewasa sekaligus mengejutkan bagi para creator komik karena kemungkinannya dalam mengeksplorasi cerita. Tokoh yang hidupnya penuh tragedy ini mampu mengantarkan cerita bermuatan problem lingkungan hidup dan problem lain yang lebih besar daripada cerita tentang super hero melawan super villain. Akhirnya lini Vertigo milik DC Comic ini berhasil mendapat pembaca setianya. Termasuk mengadopsi serial Sand Man yang dikerjakan penulis Neil Gaiman yang berhasil menciptakan cultisme di kalangan pembacanya.
Marvel tidak mau kalah dengan DC dalam merekrut penulis-penulis non-mainstream. Mereka dipekerjakan oleh Marvel untuk menggarap seri-seri Ultimate. Seri ini tidak merupakan lini baru melainkan sempalan dari karakter-karakter yang sudah populer lebih dulu seperti Spider-Man, X-Man, Wolverine dan The X-Force tetapi dengan memuat problem cerita yang lebih dewasa.
Keberhasilan yang dimulai para revisionis ini kemudian melahirkan para penulis revisionis generasi kedua dan ketiga yang juga meninjau ulang karakter superhero. Nama-nama seperti Kurt Busiek, Brian Michael Bendis hingga Warren Ellis dan Mark Millar kini mendapatkan pembaca yang sangat luas di komik-komik utama milik DC dan Marvel.
Sementara komik yang berada di luar dua penerbit besar ini juga menciptakan karakter-karakter dan seri yang terus mengeksplorasi problem-problem yang dewasa dan lebih rumit. Frank Miller mengerjakan Sin City di penerbit Dark Horse dengan tokoh Cerebus yang unik. Dark Horse juga menerbitkan Hell Boy karya Mike Mignola yang merupakan karakter yang problematic.

Nasib film superhero
Dengan perkembangan komik seperti ini, film-film superhero sulit untuk menjadi film anak-anak semata. Tahun 1990-an mencatat dimulainya adaptasi problem-problem dewasa itu ke dalam bentuk film. Nama yang mungkin paling penting dicatat dalam melakukan hal itu adalah sutradara Tim Burton ketika ia mengerjakan adaptasi Batman dalam Batman. Burton mengoptimalkan bahasa film dalam mengeksplorasi problem manusia kalelawar itu dari komik ke layer perak. Burton menggunakan sebuah setting kota yang muram dan gothic untuk memberi kesan kelam bagi karakter Batman. Tidak cukup dengan itu, ia memilih pemeran Michael Keaton untuk menjadi Batman/Bruce Wayne. Di sini tampak sekali Burton ingin mengedepankan aspek problematic Batman dalam karakter Keaton ketimbang seorang playboy yang tampan dan flamboyant. Di sini juga Keaton memilih adanya kisah cinta platonis antara Bruce Wayne / Batman dengan wartawan Vicky Vale (Kim Basinger), sebuah problem yang sangat dewasa. Setelah adaptasi oleh Burton ini, film superhero memang tak pernah sama lagi. Dalam Batman Returns, Burton kembali memuat problem yang dewasa. Tokoh Penguin (Danny DeVito) merupakan tokoh problematic ketimbang tokoh ambisius yang semata ingin menguasai dunia. Pertarungan Batman dengan Penguin lebih mirip pertarungan antar ego ketimbang perkelahian dua orang manusia dengan kekuatan super.
Adaptasi-adaptasi Batman dari Burton ini memang sempat mengecewakan para penonton remaja karena mereka tak bisa memahami problem Batman. Penonton anak-anak juga lebih banyak yang takut dalam melihat Batman ketimbang gembira dan memuja. Akhirnya Warner Brothers mengubah pendekatan ini dalam Batman Forever dan Batman and Robin. Sutradara Joel Schumacher yang mengerjakan kedua film ini mencoba mengembalikan Batman sebagai tokoh bagi anak-anak dan remaja. Schumacher memang berhasil mendatangkan kembali kecintaan anak-anak dan remaja terhadap karakter Batman dalam kedua film ini, tetapi mendatangkan kekecewaan bagi para penonton dewasa.
Perkembangan film superhero kemudian tampak mencoba menggabungkan kedua problem dewasa dan remaja ini dan memberi porsi untuk keduanya. Problem-problem yang diintroduksi oleh para penulis revisionis dan ditebalkan oleh Tim Burton menjadi format yang diterapkan oleh para filmmaker dalam mengadapsi tokoh-tokoh komik super maupun dalam membuat film superhero. Di sini kita bisa melihat bahwa sedikitnya ada dua format masalah yang kerap dimunculkan oleh para filmmaker dalam membuat film-film pahlawan super mereka. Problem pertama adalah problem eksistensi diri. Kekuatan super dilihat bukan sebagai sebuah keuntungan malahan sebagai sebuah masalah. Para pahlawan super ini bergulat dengan ketidaknormalan mereka dibandingkan dengan manusia biasa di sekitar mereka. Problem kedua adalah sifat manusiawi dari para superhero. Superhero, di samping kekuatan super mereka dan kecenderungan mereka menolong manusia biasa, juga adalah manusia yang bisa marah, sedih, kecewa bahkan jatuh cinta dan cemburu. Aspek manusiawi superhero ini dieksplorasi dan dijadikan konflik utama dalam film para superhero ini. Kita akan melihat problem-problem ini secara konsisten hadir dalam film-film superhero pasca Batman, di luar Batman Forever dan Batman and Robin.

X-Men
Dalam film X-Men (Bryan Singer, 1999) tampak usaha untuk itu. Film yang merupakan adaptasi dari serial X-Men milik Marvel ini terlihat sekali bahwa sutradara Bryan Singer mencoba memberi porsi seimbang antara kedua problem itu. Film ini menceritakan kehidupan para mutant dengan kekuatan super yang dipimpin oleh Profesor Charles Xavier (Patrick Stewart) melawan para mutant jahat yang dipimpin oleh Magneto alias Eric Schlessner (Ian McKellen). Singer dengan sengaja mengambil problem Wolverine alias Jack Logan (Hugh Jackman) sebagai pivotal point alias titik tumpu masalah para superhero ini. Keresahan Logan akan latarbelakang dan eksistensinya sebagai Wolverine menjadi problem yang menghantuinya sepanjang film dan sedikit banyaknya menjadi refleksi bagi para mutant berkekuatan super lainnya.
Refleksi problem ini juga tampak pada tokoh Jane Gray (Famke Janssen) dan Rogue (Anna Paquin) yang bingung dengan kemampuan super mereka. Jane Gray beruntung karena ia cepat bertemu dengan Profesor Xavier sehingga tak berkepanjangan mengalami masalah ini. Namun Rogue sempat merasa bingung dan merasa bahwa kekuatan supernya adalah sebuah kutukan baginya. Ia sempat melarikan diri dari sekolah yang didirikan oleh professor Xavier karena merasa bahwa kutukannya itu tak tersembuhkan.
Namun Singer melihat kegagalan Batman versi Tim Burton dalam meraih penonton anak-anak dan remaja sehingga ia mengimbangi pencarian diri Wolverine dan tokoh-tokoh lain itu dengan rangkaian aksi yang menarik dari para superhero tersebut. Perkelahian antara Wolverine dengan Sabre Tooth atau pertunjukan kekuatan super dari Storm, Jane Gray, Cyclop dan Mystique menjadi bumbu yang menyedapkan untuk diikuti oleh penonton remaja dan anak-anak. Film ini akhirnya dianggap sebagai sebuah keberhasilan penting dari Singer untuk mendekatkan penonton remaja dan anak-anak dengan penonton dewasa.
Singer kemudian melanjutkan formula ini dalam X-2, The X-Men United (2003) yang merupakan sekuel dari X-Men. Pencarian diri Wolverine masih mendapat porsi yang besar di sini. Ditambah lagi dengan munculnya tokoh Nightcrawler alias Kurt Wagner (Alan Cumming) yang dalam kehidupannya sehari-hari adalah seorang pendeta dan pemain sirkus. Wolverine berhasil bertemu dengan Kolonel Stryker yang bertanggungjawab atas eksistensi dirinya sebagai Wolverine. Wolverine berhasil mengetahui bahwa dirinya adalah sebuah eksperimen yang gagal dari Koloner Stryker, seorang military-scientist, dalam menciptakan senjata mematikan. Problem eksistensi Wolverine dapat diikuti dengan menarik oleh para penonton dewasa.
Problem eksistensi ini juga muncul dalam pergulatan batin Nightcrawler yang mempertanyakan kekuatan supernya di hadapan Tuhan. Latar belakangnya sebagai pendeta membuatnya menghubungkan kekuatan supernya dan wujud dirinya yang tidak normal dengan kekuatan hukuman dari Tuhan akan dosa-dosa yang diperbuatnya. Hal ini menjadi penolakan bagi Nightcrawler untuk menerima dirinya sehingga ia merajah seluruh badannya. Tak heran jika ia bertanya kepada Mystique (Rebecca Romijn Stamos) --yang mampu meniru wujud siapa saja-- mengapa tidak bersembunyi sepanjang hidup dari wujud yang mengerikan sebagai seorang mutant.
Problem pencarian diri ini diimbangi oleh Singer dengan rangkaian aksi yang menarik dan konflik sederhana para superhero ini dalam melawan karakter jahat Kolonel Willian Stryker yang berniat memusnahkan para mutant. Keberhasilan formula Singer ini tak urung membuat ia mendapat kepercayaan untuk mengerjakan X-3 sekuel lanjutan bagi film ini, sekalipun akhirnya Singer kabarnya melepas kesempatan itu dan berminat untuk mengerjakan Superman Returns yang diprediksi akan tayang pada tahun 2006.

Hulk
Problem pencarian diri tampak lebih tebal dalam Hulk (2003) yang dikerjakan oleh sutradara Ang Lee. Hulk alias Bruce Banner (Eric Bana) sejak awal adalah kelinci percobaan dari ayahnya David Banner (Nick Nolte). Tampak sekali Bruce Banner sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya dapat bermutasi menjadi raksasa hijau perkasa apabila ia berada dalam kondisi marah. Dengan demikian, kekuatan super Hulk sejak awal adalah sebuah masalah bagi Bruce Banner.
Masalah ini bahkan dipertebal dengan pengetahuan Hulk akan penyebab mutasi dirinya itu. Ketika Hulk mengetahui bahwa ia menjadi korban percobaan ayahnya selama ini, konflik antara Hulk dengan David Banner menjadi konflik antara ayah dengan anak. Pertanyaan-pertanyaan eksistensi Hulk menjadi pertanyaan-pertanyaan hubungan antara ayah dengan anak. Maka dalam film ini, selain problem eksistensi diri, muncul juga problem superhero yang manusiawi, yaitu problem hubungan antara ayah dan anak.
Namun karena film ini memilih sebuah cerita hitam-putih dimana David Banner digambarkan tergilakan oleh ambisinya, konflik antar ayah dan anak ini ditipiskan menjadi konflik antara pahlawan super dengan penjahat super. Karena memang David Banner muncul lagi dalam kehidupan Hulk sebagai seorang manusia yang termutasi dan memiliki kekuatan super.

Daredevil
Daredevil adalah sebuah kekecualian. Ada dua kekecualian dalam film ini. Pertama, Daredevil yang diadaptasi dari komik terbitan Marvel mengandung kekecualian bahwa superhero adalah sebuah masalah sebagaimana tokoh-tokoh dalam komik Marvel umumnya. Jika pada X-Men dan Hulk, superhero adalah sebuah problem ketidaknormalan melawan kenormalan manusia, pada Daredevil masalah ini tidak muncul. Kebutaan Daredevil alias Matt Murdock (Ben Affleck) yang diimbangi dengan kepekaan indranya tidak pernah menjadi masalah sebagaimana mutasi gen pada X-Men atau kecelakaan pada Hulk dan Spider-Man. Kekecualian kedua, film ini tipis sekali memuat problem-problem dewasa, tidak seperti film superhero pasca Batman.
Kalau pun ada problem dewasa pada film ini adalah penggambaran lingkungan politik dari konflik ini, di mana Murdock adalah seorang lawyer pada firma hukum gratisan yang melawan King Pin, seorang taipan yang berpengaruh secara politik. Namun materi ini tidak tergarap dengan mendalam sehingga tampak hanya menjadi tempelan bagi konflik antara manusia super melawan penjahat super semata.

Spider-Man
Spider-Man baik yang pertama maupun sekuelnya adalah sebuah keberhasilan besar dalam menggabungkan aspek problem anak-anak/remaja dengan problem dewasa. Sejak awal, kekuatan super Spider-Man adalah sebuah kecelakaan akibat seorang nerd Peter Parker terkena gigitan laba-laba super. Konsekuensinya, Peter Parker mengalami kebingungan identitas akibat kekuatan supernya. Ditambah lagi dengan karakter Peter yang seorang remaja membuatnya lebih bingung lagi menghadapi kemampuan barunya ini. Sejalan dengan komiknya, sutradara Sam Raimi lihai sekali memanfaatkan curhatnya Peter kepada Paman Ben mengenai kekuatan supernya ini dan kegagalan Peter menyelamatkan hidup Paman Ben dari perampok sebagai sebuah motivasi yang mendorong Peter untuk menjadi pahlawan super. Dengan demikian, superhero bukanlah sesuatu yang secara otomatis melainkan sebuah pilihan yang harus dihadapi secara manusiawi.
Dalam sekuelnya, Raimi malahan lebih berani lagi mengeksplorasi kedua perkembangan problem manusia super ini seperti yang saya gambarkan dalam pembukaan tulisan ini. Spider-Man makin berhadapan dengan pilihan menjadi superhero atau menjadi manusia biasa. Kemudian masalah-masalah pada diri seorang superhero ternyata adalah persoalan yang juga muncul pada manusia biasa, seperti kesulitan mendapat pekerjaan, jatuh cinta, dan baju yang luntur di mesin cuci.

Hell Boy
Hell Boy sejak awal adalah sebuah terobosan dari cara tutur komik seperti yang saya gambarkan di atas. Komikus Mike Mignola berhasil mendapatkan sukses lewat seri ini di penerbit Dark Horse yang mengijinkannya untuk mengapakan saja karakternya. Sehingga materi cerita Hell Boy sudah merupakan materi yang penuh muatan dewasa sejak semula.
Dalam filmnya materi itu bisa diwujudkan dengan baik oleh sutradara Guillermo DelToro yang memang penggemar berat Hell Boy. Karakter ini lahir dari sebuah peristiwa tak sengaja ketika pintu neraka dibuka. Sehingga sebetulnya karakter Hell Boy adalah sebentuk iblis. Untungnya ia dibesarkan oleh ilmuwan baik yang membesarkannya dengan ajaran-ajaran moral yang baik. Sehingga ia memilih jalan untuk melawan kekuatan jahat yang berniat menguasai dunia lewat kekuatan supernatural mereka. Namun tak urung, film ini mampu mengeksplorasi kesulitan Hell Boy (Ron Perlman) dalam membuat pilihan ketika tawaran sebagai raja diraja dimunculkan ke hadapannya oleh musuh-musuhnya. Ia sempat bertransformasi menjadi iblis yang siap membuka pintu bagi kejahatan di neraka untuk turun ke muka bumi. Pergulatan identitas antara jagoan super dan iblis ini menjadi porsi yang cukup besar diturunkan dalam film.
Sutradara DelToro juga tak lupa menghadirkan karakter Hell Boy yang manusiawi. Ia adalah seorang ‘anak muda’ yang hidup abadi tetapi berkelakuan seperti seorang remaja. Ia takut menyatakan cintanya pada Liz Sherman yang juga mempunyai kekuatan super. Bahkan ia sempat mencemburui John Myers (Rupert Evans) yang sempat dekat dengan Sherman.

The Incredibles
Terobosan paling menarik dalam film superhero justru muncul dari film animasi The Incredibles (2004). Film ini bukan merupakan adaptasi dari komik, tapi terlihat sekali terpengaruh oleh problem-problem superhero yang dibawa oleh dunia komik. Film ini menceritakan sebuah keluarga superhero yang muncul dari perkawinan dua tokoh super Mr. Incredible dan Elastigirl. Mereka menghasilkan anak-anak super, Violet, Dash dan Jack Jack. Seluruh problema manusia super yang muncul dalam berbagai komik dan cerita tentang superhero dieksplorasi habis-habisan di sini, dan dengan tetap menghadirkan keriangan film animasi yang layak dikonsumsi anak-anak dan remaja.
Premis utama film ini yaitu bagaimana superhero membangun keluarga sudah menghadirkan sisi manusiawi para manusia super itu. Para superhero ini, alih-alih mendapat persoalan berupa musuh super, dalam film ini justru dihadapkan dengan tuntutan hukum karena menyelamatkan orang yang akan bunuh diri. Juga terbongkarnya identitas mereka berkali-kali yang membuat mereka harus terus menerus pindah kota dan ganti identitas yang membuat mereka tak kunjung bisa menetap dan membangun kehidupan keluarga, sehingga Elastigirl merasa kesal mereka tak bisa kunjung membangun keluarga dan kehidupan yang mapan sebagai sebuah keluarga biasa.
Problem normal vs tidak normal juga muncul dalam problem yang dihadapi oleh anak-anak super dalam keluarga ini. Violet yang memiliki kemampuan menghilang merasa ia tak bisa naksir begitu saja pada seorang cowok keren yang dikecenginya setiap hari. Karena ia merasa dirinya tidak normal. Sementara Dash yang bisa berlari secepat kilat selalu tak pernah punya kesempatan berkompetisi dengan anak-anak lain, terutama dalam lomba lari, karena kemampuan supernya. Dengan problem semacam ini, pilihan untuk memakai topeng dan menjadi superhero adalah sebuah pergulatan batin yang sulit. Terutama bagi seorang gadis remaja seperti Violet yang tak pernah membayangkan dirinya menjadi seorang superhero dan tak bisa meneriman ketidaknormalannya sebagai sebuah anugrah bagi dirinya. Bagaimana mungkin ia bergulat dengan persoalan super hero karena dalam urusan menata rambut saja ia tak bisa memutuskan apakah akan membiarkan rambutnya tergerai atau memakai bandana.
Pergulatan antara kehidupan pribadi dengan peran sebagai penjahat super secara konsisten muncul dalam film ini. Mr. Incredible alias Robert Parr harus menentang kecenderungannya untuk menjadi penolong orang kecil ketika ia bekerja di perusahaan asuransi. Atasannya yang super pelit membuatnya sulit untuk menjalankan nalurinya sebagai penolong, sampai akhirnya ia mengakali dengan memberitahu seluruh prosedur dalam perusahaan tersebut sehingga orang-orang kecil yang ia tolong bisa mengakali peraturan perusahaannya. Tokoh sampingan Frozone alias Lucious Best juga mengalami problem serupa ketika ia berjanji untuk makan malam dengan istrinya sementara robot raksasa sedang menyerang kota. Sang istri menyembunyikan pakaian super Frozone agar makan malam mereka tak terganggu. Ketika Frozone berargumen bahwa ia membutuhkan pakaian super itu untuk ‘the greater good’, sang istri berteriak bahwa dirinyalah ‘the greater good’ itu. Adegan ini cukup mengundang tawa bagi para penonton dewasa yang memahami problem-problem pilihan antara profesi dan kemesraan dalam rumah tangga semacam itu. Yang menarik juga adalah diskusi pemilihan kostum antara Mr. Incredible dengan perancang baju super Edna Mode. Diskusi ini berupa pemilihan antara kostum berjubah atau tidak yang jelas mengambil dari ironi yang dihadirkan Alan Moore dalam Watch Men. Bedanya Alan Moore menjadikannya ironi yang murung, film ini justru menjadikannya humor ironis yang menyegarkan.
Konflik antara superhero melawan penjahat super, Syndrome, juga lanjutan dari konflik manusia super. Syndrome tak dianugrahi kekuatan super sehingga keinginannya menjadi side-kick bagi Mr. Incredible tak terpenuhi. Ia kemudian mengembangkan berbagai teknologi yang mampu membuatnya menjadi super, dan ingin menjadi pahlawan super yang dipuja masyarakat setelah para pahlawan super sempat dicela sekian lama dan bersembunyi sebagai manusia biasa. Menjadi pahlawan super adalah sebuah ambisi yang konyol pada diri Syndrome, ketimbang sebuah pilihan atau keputusan mulia yang diambil dengan sulit.
Dengan adanya The Incredibles ini, sebenarnya film-film superhero, terutama The Fantastic Four, akan menghadapi tantangan besar ke depan. Seluruh problem dan bentuk-bentuk kekuatan sudah diambil oleh film ini, sehingga peluang menghadirkan kesegaran baru tak akan mengejutkan lagi. Dengan beberapa proyek seperti Batman Begins, Superman Returns, The Fantastic Four, Batman versus Superman, Spider-Man 3 dan X-3 yang ada di depan, kita masih menunggu problem apalagi yang akan dihadirkan. Apakah kekuatan super itu masih berkembang menjadi problem? Apakah sisi manusiawi para superhero masih mendapat porsi dan eksplorasi yang menarik? Apakah Clark Kent akan terus mengkritik problem-problem yang dihadapi oleh Superman? Kita tunggu saja..
(16 Desember 2004)

5 Comments:

Blogger Firman Firdaus said...

ada lagi film superhero yang menurut saya cukup manusiawi: 'The Unbreakable'-nya M Night Shyamalan, dibintangin Bruce Willis.

4:33 PM  
Blogger budibadabadu said...

salam kenal, mas eric. sekitar 3 atau 4 tahun silam saya juga pernah menulis perihal hal-hal manusiawi superhero. "Superman the Ordinary Man."

3:04 AM  
Blogger HoneyBee said...

awesome! gue juga moviefreak! leminaw ada film2 apaan ya...!

cheers,
hn
visit my movie blog http://hanitje.blogdrive.com

2:40 PM  
Blogger zhaw said...

tulis tentang spawn doooooonk.......

kalo bisa bukan cuman hell spawn, tapi spawn spawn yg lainnya jg

12:15 AM  
Blogger Wisnu said...

Tulis tentang Kamen Rider dong mas....Aku juga buat tulisan tentang Superhero Jepang VS Superhero Amerika. Liat aa di
tsugamu.wordpress.com

6:46 PM  

Post a Comment

<< Home