Tuesday, January 03, 2006

Saya Tak Selesai Menonton Serambi

eric sasono

saya mendengar selentingan tentang film ini. christine hakim akan membuat film berjudul serambi, begitu kira2. kemudian ketika christine hakim memberi pidato di acara eagle award metro tv, ia kembali menyebut2 film ini. saya hadir di acara itu. christine menyebut film ini sebagai sebuah dokudrama yang disutradarai oleh 4 orang sutradara, di antaranya garin nugroho dan viva westi. nama lainnya tak terlalu akrab bagi saya sehingga saya lupa. ketika itu christine berkata bahwa format serambi yang dokudrama merupakan sebuah usaha 'akal-akalan'. maksudnya, film dokumenter dianggapnya belum mendapat tempat yang ajeg dalam film indonesia, sehingga film ini perlu membangun drama agar lebih akrab buat penonton.

sampai di sini saya sedikit berkerut kening, karena sepanjang tahu saya film dokumenter tak selalu berarti membosankan. teman2 yang menonton film2 dokumenter di jiffest tahun lalu pasti sepakat soal ini. namun sudahlah.

kemudian saya mendengar film ini lagi ketika bertemu garin nugroho tanggal 23 desember 2005 di yayasan set. garin sempat bercerita soal film ini dan bagaimana christine hakim sibuk memasarkan film ini sekaligus juga melakukan kine transfer terhadap film ini (atau membuat copy, saya lupa) di perancis. garin sempat mengungkapkan bahwa enak sekali kerja dengan christine, seperti misal film mereka terdahulu: daun di atas bantal. pada ddab, film belum rilis, untung sudah didapat. dari mana? saya tanya. dari penjualan yang dilakukan christine ke distributor di eropa. film ini juga begitu? saya tanya lagi. garin bilang, belum. tapi biaya jelas ditanggung banyak pihak. dari rubrik pokok dan tokoh majalah tempo baru saya tahu bahwa penyandang dana film ini adalah centre nationale cinematographie, perancis.

inilah bekal pengetahuan saya ketika memutuskan untuk nomat senin lalu. saya dan istri saya sedikit berharap menyaksikan kembali apa yang pernah dihasilkan kolaborasi christine-garin ketika membuat daun di atas bantal. mungkin tak akan sehebat itu mengingat ada beberapa nama yang tak terlalu saya kenal, tapi harapan saya tetap tinggi.

saya kemudian mengajak salman aristo untuk ikut serta menonton. kebetulan kantor salman satu arah dengan arah perjalanan saya ke bioskop sehingga saya menyempatkan menjemputnya. di mobil salman bercerita bahwa hanung bramantyo, sutradara peraih piala citra dan bekas astrada garin, berniat menonton film itu dan sedang ada di pondok indah mall. wah, bisa nonton bareng nih.

sampai di PIM, hanung memang ada di sana, sedang diwawancara, entah oleh media apa. kemudian tak jelas apakah hanung akan menonton atau tidak. akhirnya, saya, istri saya dan salman menonton film itu.

film ini dibuka dengan dibuka dengan caption yang membuat saya berkerut kening. caption itu jelas meniru 'vertigo'-nya hitchcock dengan mencari arti kata serambi, yaitu ruangan di depan rumah. saya heran pada kalimat kedua caption itu yang tak berhubungan dengan pengertian ini. sayangnya saya lupa kalimat kedua.
setelah itu ada caption lagi yang membuat saya dan aris saling berpandangan. caption itu berkata bahwa serambi bisa berarti sebuah jalan untuk menuju mekah. kemudian kalimat kedua berkata sesuatu tentang aceh yang juga seputar hal itu.

ini adalah menit pertama dan saya sudah curiga. apakah garin dan kawan2 sedang berusaha menghadirkan fragmentasi pada film dokumenter mereka? tampaknya ya. film kemudian dilanjutkan dengan beberapa tokoh yang berbicara langsung dengan penonton dengan wajah menghadap kamera (talking to camera) yang langsung membuat saya merasa berjarak dengan para tokoh itu. pada umumnya mereka bercerita tentang kehilangan orang2 yang mereka sayangi. saya langsung merasa sedang dikuliahi. tak adakah cara yang lebih halus untuk menghadirkan cerita mengenai kehilangan? mengapa harus sebanal itu? bukankah bisa... ah, sudahlah, dalam hati. mereka pasti sudah susah payah membuat ini. saya sok tahu sekali.

film kemudian berjalan seperti yang sudah saya perkirakan. pelan-pelan memang mulai muncul tokoh. ada usman, seorang tukang becak yang sedang mencari istrnya yang hilang. tokoh kedua seorang anak muda (namanya rizal kalau saya tak salah), yang selalu memakai kaos che guevara dan memiliki banyak sekali kaos che guevara yg diperlihatkan berjejer di tangkai jemuran. astaga! apa ini? apakah pembuat film ini sedang ingin memperlihatkan "tabrakan" antara ikon kiri/ revolusi dengan aceh yang bersyariat islam d tengah kematian?

kemudian juga seorang anak kecil perempuan yang bersama teman-temannya bernyanyi dengan syair "islam sampai mati" dan bertepuk "aku anak saleh" sambil berputar dengan becak motor tanpa tentu arah. sign apalagi yang ingin diberikan di sini? saya, istri saya dan salman aristo sudah tak tahan. kami sudah saling pandang dan mulai berkomentar-komentar kecil. saya sendiri sangat tidak enak. selain di belakang masih ada penonton lain, juga karena tak enak hati karena ada nuansa tak merespeki para pembuat film ini.

semakin lama fragmentasi semakin terasa. saya mencoba mengapresiasi dan menangkap tanda-tanda yang ingin diberikan oleh para pembuat film ini. namun saya menangkap angin kosong. lautan tanda yang diberikan sama sekali tak membuat saya aktif sebagai penonton. adegan, plot dan unsur2 mendasar film tak disediakan sama sekali sebagai kerangka acuan. sedangkan tanda yang disajikan terlalu dijejal-jejalkan sehingga menjadi banal. dialog para pemain/subyek dalam film ini juga terlalu arbitrer dan tak bisa dijadikan kerangka apapun. memang ada topik kematian, kesedihan, kemahakuasaan tuhan, bencana, ambisi manusia, perang dan sebagainya. tapi semua itu terlalu longgar dan sama sekali tak bisa menjadi kerangka referensi apapun. dialog yang terlihat tanpa pengarahan itupun akhirnya membuat film ini jadi semacam khotbah berisi filosofi sehari-hari yang dilakukan tanpa otoritas. siapa para subyek ini mengajarkan saya tentang aceh? apa yang mereka ceritakan? tidak bisakah saya punya pandangan sendiri tentang apa yang bisa saya tangkap tentang aceh? saya merasa usaha menghadirkan intersubyektivitas yang dilakukan di sini berubah menjadi semacam penjajahan intelektualitas kecil-kecilan. persoalannya sederhana saja: film ini tidak dikerjakan dengan matang, bahkan terasa sekali dibuat sekadarnya. banyak sekali momen, gambar, tema dan unsur-unsur lain yang bisa membuat film ini jadi sesuatu yang baik. sayang sekali.

akhirnya sesudah lebih dari tiga puluh menit, istri saya tak tahan. saya dan salman juga sepakat. kami bertiga bangkit dari tempat duduk dan keluar ruangan bioskop. saya sudah merasa mencoba semampu saya untuk bertahan tapi daya tahan itu ada batasnya. saya pernah keluar ruangan untuk film "rembulan di ujung dahan" sebuah film televisi karya garin nugroho. dulu saya menonton film televisi ini bersama rizal iwan, kenny santana dan joko anwar. saya ingat akhirnya saya dan joko keluar ruangan dan memutuskan untuk pergi ke toko buku aksara melihat peluncuran edisi bahasa inggri buku "jazz, parfum dan insiden"-nya seno gumira ajidarma. maka sepanjang jalan dari goethe institute, tempat pemutaran film itu, ke toko buku aksara itulah saya mendengar cerita joko rencananya membuat film berjudul janji joni.

dengan pengalaman "rembulan di ujung dahan" itu akhirnya saya keluar. ada rasa tidak enak yang serius. dulu saya bisa keluar karena saya bukan siapa-siapa. sekarang, saya kritikus film peraih piala citra. keluar dari sebuah pertunjukan film adalah soal serius. tapi saya membela dua hal: hubungan dengan istri saya dan kesehatan pikiran saya. daripada keduanya rusak, lebih baik saya keluar. dan keluarlah saya di tengah pertunjukan.

begitulah. ini adalah kali kedua saya keluar di tengah pertunjukan film. di tengah perjalanan keluar, kami melihat ada tiga orang yang tampak tertidur di kursi mereka.

sesudah keluar, hanung menelepon salman aristo. ternyata hanung berada di dalam bioskop! hanung, tika angela dan teman mereka yang dipanggil mbak eno, duduk di belakang kami ikut menonton film serambi. mereka tak melihat kami keluar bioskop dan mencari-cari kami berada dimana. kebetulan kami sedang berada di ace hardware menemani salman yang sedang melihat-lihat furniture (mahal ternyata di sana..). lantas salman melaporkan pembicaraan telepon itu dan berkata bahwa hanung akan keluar bioskop juga.

tak lama hanung bersama dua rekannya keluar. kami tertawa-tawa agak pahit dan tak enah hati. saya bilang ke hanung: "nung! gimana kau ini. gurumu bikin film kok kau keluar." (hanung pernah menjadi astrada-nya garin). dan hanung menjawab: "lha, kritikusnya aja keluar!".
hehehe, sialan si hanung!

itulah pengalaman saya menonton serambi. ugh! untung nomat, kalau tidak 50 ribu seorang untuk nonton di pondok indah. nomat saja masih 22 ribu limaratus seorang. tapi kan lebih sayang lagi uang yang dipakai buat bikin film itu. kalau dikasih ke...

ah, sudahlah!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home