Friday, January 20, 2006

Ruang Kita dalam Film

Eric Sasono
Ada yang unik dari tokoh Soe Hok Gie dalam film Gie karya sutradara Riri Riza. Tokoh ini kerap menyepi ke gunung ketika ia merasa kehidupan kota begitu mengusiknya. Di gununglah Soe Hok Gie bisa menyepi dan merenung akan makna kehidupan. Karena kota --Jakarta tempat tinggal Soe Hok Gie-- adalah sebuah wadah pertarungan politik yang menyesakkan dada, sekalipun bagi Soe Hok Gie itu berarti panggilan untuk berjuang. Namun di gununglah Soe Hok Gie melepaskan sesak di dada itu dan siap untuk bertarung kembali demi idealismenya.
Film ini membuka sebuah kemungkinan bagi sebuah studi mengenai ruang dalam budaya populer kita. Ruang (space) mendapat perhatian dalam studi-studi budaya populer karena ruang merupakan tempat bertemunya antara gagasan dengan kenyataan. Dalam ruanglah gagasan diuji, fungsi-fungsi dan aktivitas dijalankan. Ruang menjadi sesuatu yang penting dalam membentuk identitas, cara berpikir dan akhirnya pelaksanaan dari gagasan-gagasan.
Ruang kadang dibedakan dengan tempat (place). Ruang memang merupakan perwujudan kongkret dari gagasan-gagasan. Sedangkan tempat lebih bermakna praktis, sebuah lokasi nyata tempat fungsi dan aktivitas dijalankan. Studi tentang ruang lebih bermakna interaksi dari gagasan-gagasan, seperti misalnya usulan Jurgen Habermas mengenai ruang publik (public space) sebagai sebuah sarana demokratisasi. Sedangkan studi tentang tempat meneliti pada fungsi-fungsi, aktivitas-aktivitas dan organisasi sosial yang mengiringinya, seperti studi tentang perkotaan yang dipelopori oleh Mahzab Chicago tahun 1930-an.
Kedua studi ini dapat dilihat representasinya pada produk budaya populer. Representasi ini mencerminkan pandangan para kreator budaya populer dalam melakukan interaksi antara gagasan dengan kenyataan yang dihadapinya. Peristiwa terjadi dalam ruang dan tempat. Penggambaran ruang dan tempat akhirnya mencerminkan gagasan di baliknya, termasuk pendefinisian tentang identitas dan gaya hidup yang dijalani oleh tokoh-tokoh dalam film. Pada akhirnya penggambaran ruang dalam film sedikit banyaknya ini menjadi sebuah representasi bagi kehidupan kita.
Beberapa Penggambaran tentang Ruang dan Tempat
Gie sudah menggambarkan ruang yang terbagi antara ruang pertarungan politik dan ruang perenungan. Ibukota tahun 1960-an yang digambarkan dalam film ini merupakan ibukota yang sama dengan sekarang: ruang bagi perjuangan mengejar idealisme melawan oportunisme politik. Sedangkan puncak gunung adalah ruang steril dari politik dan tempat berpikir tentang kehidupan yang akhirnya diwujudkan kembali dalam usaha mencapai demokrasi yang diidam-idamkan. Sebuah ruang perenungan yang murni.
Terobosan penggambaran ruang dan kaitannya dengan religiositas dilakukan dengan sangat menarik oleh Garin Nurgoho dalam Rindu Kami Pada-Mu. Film yang ber-setting sebuah pasar tradisional ini menceritakan tentang religiositas sehari-hari dalam sebuah lingkungan yang tak terduga yaitu riuh rendahnya pasar tradisional. Di sini Garin mengajukan penggambaran religiositas sebagai sesuatu yang sederhana dalam sebuah ruang yang dihuni oleh orang-orang kecil dengan kehidupan sehari-hari mereka. Sebuah musholla sederhana tanpa kubah di tengah pasar menjadi sebuah tempat pelarian yang sangat kukuh dari seorang guru ngaji bernama Bagja (Didi Petet) ketimbang mengikuti hasrat politik saudara-saudaranya yang menjadi mesin peraih suara bagi partai politik. Dalam penggambaran ruang ini, terlihat juga adanya kerinduan sang pembuat film terhadap sebuah ruang yang murni dan tak terpolusi oleh kepentingan politik yang rendah. Pengkontrasan dengan religiositas pada kehidupan uzlah (exile) Pak Bagja di musholla ini menjadikan kemurnian religiositas itu menjadi sangat kuat. Terbayang adanya kesejajaran antara musholla Pak Bagja dengan puncak gunung Gie. Keduanya adalah tempat berlindung dari polusi politik yang mengotori ruang kehidupan manusia Indonesia, sekalipun keduanya berada pada kurun dan konteks yang sama sekali berbeda.
Sedangkan penggambaran tempat dilakukan dengan sangat menarik pada Eliana, Eliana, juga karya sutradara Riri Riza. Film ini menggambarakan Jakarta sebagai sebuah tempat meluruhnya identitas tradisional sekaligus juga pencarian para migran akan identitas baru dalam kerangka mempertahankan hidup. Tokoh perempuan muda, Eliana (Rachel Maryam), merupakan seorang migran dari Padang yang mewakili kaum urban berhadapan dengan Bunda yang mewakili tradisi dan identitas lama. Representasi ini sangat mirip dengan penggambaran mengenai kota dari salah seorang tokoh Mahzab Chicago, Louis Wirth mengenai kota sebagai tempat pembentukan identitas modern dan meluruhnya identitas tradisional juga benturan-benturan yang terjadi di perkotaan akan proses tersebut.
Di sini para pembuat film memenangkan modernitas yang diusung oleh Eliana ketimbang tradisi yang dibawa oleh Bunda dari sebuah kota yang jauh. Namun proses itu digambarkan terjadi dengan tidak mudah.
Janji Joni (sutradara Joko Anwar) juga menggambarkan kota Jakarta sebagai sebuah tempat bagi petualangan anak muda kelas bawah. Joni (Nicholas Saputra), seorang pengantar rol film bioskop, mengalami sebuah petualangan instan yang sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan sehari-harinya ketika ia berusaha untuk memamerkan diri di depan seorang perempuan cantik penonton bioskop (Mariana Renata) yang diincarnya. Film ini menggambarkan kota Jakarta sebagai tempat bagi petualangan yang penuh penipuan, kekerasan, dan sedikit mistik, bahkan dalam kesehariannya. Di film ini Jakarta juga menjadi sebuah tempat meluruhnya batas kelas sosial ketika seorang pengantar rol film berusaha menarik hati seorang penonton bioksop, sesuatu yang jarang ditemui dalam kehidupan nyata.
Yang paling menarik dari Janji Joni adalah keberadaan tokoh Adam Subandi (Sujiwo Tedjo) sebagai wakil dari mistisisme yang dianut diam-diam oleh penduduk kota metropolitan seperti Jakarta. Adam Subandi, raja maling sekaligus dukun, dipenuhi aura misterius yang seakan mewakili keinginan orang Jakarta untuk mengintip mencari tahu sesuatu yang “tidak tertulis” dan tidak diberitakan oleh media-media pemberitaan formal. Ini adalah sebuah kultur yang berkembang di halaman belakang penduduk Jakarta, yang tak akan pernah bisa dihapuskan dan akan terus mencari jalan keluar.
Beberapa film lain mencoba untuk membuat representasi Jakarta sebagai tempat bagi perdagangan narkotika beserta kekerasan yang mengiringinya. Film Gerbang 13 dan Bad Wolves mencoba melakukan hal itu. Namun kedua film ini gagal dalam representasinya karena kekurangan ketrampilan pembuatnya dalam membangun reka-percaya (make-believe). Banyaknya tokoh yang berbahasa Inggris dengan semena-mena serta tembak menembak bak film gangster Amerika. Sulit untuk membuat penonton percaya bahwa peristiwa-peristiwa itu terjadi di tanah air kita. Kalau saja mereka menggambarkan kehidupan perdagangan narkoba di kawasan Tanah Abang beserta problem sosial di dalamnya, mungkin ceritanya akan lain.
Kenapa Jakarta?
Sub judul ini harus dijawab dengan kenyataan bahwa produksi film masih banyak dilakukan di Jakarta oleh orang yang tinggal di Jakarta. Ada penggambaran Papua dalam film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (Garin Nugroho) yang merepresentasikan persoalan hak asasi manusia, ide kemerdekaan dan religiusitas di kawasan pegunungan yang jauh terpencil. Cinta Silver (Lance) mencoba menghadirkan Bali sebagai sebuah eksotisme yang bersifat urban dengan penggambaran fashion dan pesta kaum urban. Film ini masih terasa bersudut pandang Jakarta.
Secara umum masih sedikit penggambaran ruang dan tempat di luar Jakarta dalam film kita belakangan. Ini berimplikasi pada representasi identitas kita dalam film yang masih terasa Jakarta-sentris. Hal ini terasa mundur dibandingkan film-film kita dahulu yang lebih variatif dalam merepresentasi ruang dan tempat. Representasi gagasan dan identitas dalam ruang dan tempat dalam film kita memang belum lengkap.
Lebih parah lagi, film-film kita memang masih menjadikan ruang dan tempat sebagai setting, bukan sebagai representasi dari gagasan tentang peristiwa yang dialami para tokohnya. Representasi yang dilakukan para pembuat film kita masih terbatas dan masih sulit untuk menengok, mencari dan mendiskusikan identitas kita di dalam film-film belakangan ini.

3 Comments:

Blogger joewilliams6667 said...

I read over your blog, and i found it inquisitive, you may find My Blog interesting. So please Click Here To Read My Blog

http://pennystockinvestment.blogspot.com

9:14 PM  
Blogger fitriah said...

bicara tentang ruang, ruang bisa dpakai untuk menelanjangi tokoh agar lebih intim dengan penontonnya. Jika itu berlaku di film realis, bagaimana film2 lain bisa menelanjangi tokohnya? apa ruang sebatas dimensi yang terdri atas setting dan artistik saja?

fitriahdwiastuti.blogspot.com

10:34 AM  
Blogger iin said...

menarik mas..
saya tertarik mempelajari budaya para pembuat ketika memproduksi film, mentransformasikan ruang di dunia ke ruang di 'dunia kamera' kemudia di 'dunia layar'. bisa berdiskusi lebih lanjut?

1:53 PM  

Post a Comment

<< Home