Friday, December 16, 2005

Catatan untuk Festival Film Indonesia 2005

Eric Sasono
Festival Film Indonesia (FFI) 2005 akan menjadi hajatan insan film keduakalinya sesudah kevakuman penyelenggaraan dipatahkan oleh FFI tahun lalu. Tentu hajatan ini diharapkan tak sebatas ramai-ramai (festive) tanpa ada sesuatu yang berarti di dalamnya. Celakanya karakter FFI sejak semula mengandung bahaya tak adanya muatan penting. FFI sebagai sebuah festival adalah festival film yang unik, karena --tak sebagaimana festival lainnya di seluruh dunia-- FFI tak melakukan pemutaran film. Padahal inti keramaian dari sebuah festival film justru adalah pemutaran film itu sendiri. Festival film seperti Cannes Film Festival misalnya, acara utama adalah pemutaran film yang berupa world premiere, atau pemutaran pertamakali film itu di hadapan publik luas.

Dengan demikian yang tertinggal dari substansi sebuah FFI selain pesta-pestanya adalah penganugerahan Piala Citra. Sejak lama Piala Citra dan beberapa piala lainnya menjadi indikator bagi keberhasilan kerja para insan film dalam aspek estetika. Hasil kerja keras pekerja film mendapat kredit dan pengakuan selain ukuran-ukuran keberhasilan komersial film yang mereka buat. Pada ajang inilah para pekerja film dapat berbangga diri dengan pencapaian-pencapaian kreatif dan tak semata menundukkan diri pada capaian komersial. Beginilah seharusnya sebuah festival.

Obyektivikasi subyektivitas

Padahal sebuah piala dalam ajang kompetisi film semacam ini adalah obyektifikasi dari subyektivitas. Penilaian terhadap film berangkat dari ukuran-ukuran yang subyektif. Memang ada ukuran-ukuran standar teknis baku dalam menilai sebuah film yang beranjak dari ukuran ketrampilan para pekerjanya. Namun pada akhirnya penilaian film sebagai sebuah produk utuh sangat berkaitan dengan persoalan selera yang subyektif dan ini tak terhindarkan.

Contoh terbaik soal ini adalah penghargaan Academy Awards alias Piala Oscar dimana pemenang didapat dari pemungutan suara yang dilakukan oleh anggota AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Sciences) terhadap seluruh nominator. Sedangkan nominator biasanya dipilih oleh para pekerja kreatif yang tergabung dalam serikat atau gilda pekerja film. Para penyeleksi nominator ini adalah orang-orang yang mengerti betul ketrampilan teknis pembuatan film. Namun dengan keputusan akhir di pemungutan suara, tampak bahwa pertimbangan teknis akhirnya dikalahkan oleh pertimbangan populer selera para anggota AMPAS.

Di sinilah subyektivitas menjadi obyektivitas. Hal ini tak terhindarkan sekalipun subyektivitas tak pernah bisa didamaikan. Banyak sekali penghargaan yang dianggap keliru sasaran. Misalnya keberhasilan film Shakespeare in Love dalam meraih piala Oscar tahun 1997 yang dianggap berhasil meraih Oscar karena studio produksinya, Miramax, melakukan kampanye besar-besaran menjelang pemungutan suara ketimbang karena estetika film itu.

Di sinilah tampak jelas bahwa subyektivitas bisa tetap berjalan sendiri, sedangkan penganugrahan piala itu berjalan ke arah lain dan memaksa orang yang tak seuju mengakui, suka atau tidak. Obyektivitas sudah terjadi ketika pemenang sudah ditetapkan.

Soalnya tinggal proses menuju penetapan pemenang itu. Apakah seluruh proses penganugrahan itu berjalan dengan proses yang memungkinkan pilihan terbaik? Sudahkah setiap film mendapat kesempatan setara untuk dinilai? Bagaimana mekanisme pra-seleksi dilakukan? Apakah juri yang dipilih adalah juri yang kompeten? Dan seterusnya.

Proses

Untuk mencapai peraih Piala Citra, panitia FFI meminta para produser untuk mendaftakan film mereka. Setelah produser mendaftar, panitia FFI akan membentuk komite seleksi yang ditugaskan pra-nominasi atau menyeleksi film unggulan dalam bahasa panita FFI. Tahun ini komite seleksi menetapkan tujuh film unggulan. Dari ketujuh film unggulan inilah kemudian dewan juri menetapkan lima nominasi untuk masing-masing kategori. Dari lima nominasi, dipilihlah satu yang akan menjadi pemenang Piala Citra tahun ini.

Proses pendaftaran ini sebenarnya mengandung bahaya. Biasanya pendaftaran diperlukan untuk sebuah festival yang melakukan pemutaran film, bukan malam penganugrahan semacam FFI atau Oscar. Bandingkan dengan malam penganugrahan Piala Oscar yang menilai seluruh film yang diputar di bioskop komersial Los Angeles sekurang-kurangnya tujuh hari antara 1 Januari hingga 31 Desember. Dengan demikian tak perlu pendaftaran. Sedangkan jika pendaftaran sebuah festival film meminta pendaftaran, maka hal itu adalah untuk diputar pada festival yang bersangkutan.

Bayangkan seandainya tiga produser utama film Indonesia ngambek kepada FFI dan tidak mendaftarkan filmnya. Seandainya pula produser-produser itu kebetulan memproduksi film-film dengan kualitas estetika tinggi. Maka FFI akan kehilangan legitimasi serius ketika film-film yang tak mendaftar itu tak menjadi pemenang bahkan masuk nominasi.

Selanjutnya proses pra-nominasi ke nominasi yang bertahap ini juga mengandung kelemahan. Komite seleksi yang berjumlah 7 orang dan diketuai oleh N. Riantarno ini memilih 7 dari 27 film yang didaftarkan ke panitia. Dari ketujuh film inilah nominasi dilakukan. Kemudian dewan juri menilai ketujuh film dan memilih 5 nominasi untuk setiap kategori. Maka hasilnya adalah nominasi yang dipublikasikan panitia itu.

Mengapa nominasi hanya dilakukan dari film-film unggulan? Salah satu anggota komite seleksi mengatakan (saya parafrase) bahwa nominasi dilakukan hanya dari film unggulan karena FFI adalah festival film, bukan festival akting festival editing atau festival unsur-unsur pendukung film lain. Dengan demikian ketujuh film ini dianggap ”selesai” sebagai film sebelum dinilai unsur-unsur pendukungnya.

Tradisi pemilihan film unggulan pernah dilakukan dalam FFI sebelumnya. Hal ini terjadi karena kesulitan dewan juri jika harus menilai film dalam jumlah banyak. Pada tahun 1980-an, ketika produksi film Indonesia masih ratusan setiap tahun, sulit bagi dewan juri untuk menilai seluruh film. Dengan demikian, diperlukan adanya pra-nominasi berupa pemilihan film unggulan untuk memudahkan kerja dewan juri. Pertimbangan praktis ini sedikit banyak masuk akal. Namun dengan 27 film pada tahun ini, apakah diperlukan adanya pra-seleksi semacam ini? Jumlah ini tak jauh berbeda dengan film yang masuk seksi kompetisi di Festival Film Cannes di Perancis yang berkisar di angka 20.

Jika memang alasan praktis menyempitkan penilaian itu bisa diterima, mengapa pula jumlahnya harus tujuh film yang menjadi unggulan? Mengapa tidak sepuluh atau tiga belas atau lima? Memang ada peluang jumlah berapapun akan tetap dipertanyakan. Namun dengan membatasi jumlah film unggulan, maka pilihan-pilihan estetika dewan juri FFI akan semakin tersempitkan. Memang ini festival film dan bukan festival unsur-unsur pembuat film. Namun mengapa harus menyempitkan diri dan menutup kemungkinan dengan pertimbangan-pertimbangan jumlah angka atau kuota? Pilihan-pilihan komite seleksi itu pasti merupakan subyektivitas kelompok, lantas mengapa tak dilebarkan saja subyektivitasnya sehingga lebih membuka kemungkinan?

Delegitimasi

Berbagai kelemahan ini berpotensi mendelegitimasi FFI sebagai indikator estetika film Indonesia. Dahulu memang FFI adalah “hajatan insan film” dimana nuansa pesta lebih terasa ketimbang nuansa kerja kreatif dan kemungkinan menggadang kerja lanjutan darinya. Mungkin hal ini tidak menjadi persoalan berarti sampai mati surinya FFI pada tahun 1992 karena sampai masa itu tak ada alternatif yang berarti bagi FFI. Masyarakat, kecuali para ‘insan film’ juga tak memiliki perbandingan berarti dengan festival lain karena ketidakmengertiannya.

Namun kini FFI diselenggarakan di alaf baru yang sama sekali berbeda dengan 13 tahun lalu. Tak heran jika tahun lalu FFI sudah mulai kehilangan pamor dibandingkan dengan Jakarta International Film Festival (Jiffest) yang lebih terasa sebagai festival sesungguhnya. FFI sudah harus membenahi diri secara serius agar tak semakin terdelegitimasi dan ditinggalkan orang. Atau jadikan saja FFI sebagai sebuah subyektivitas. Buat saja ajang penghargaan lain yang lebih bisa dipertanggungjawabkan dan memakai ukuran yang berbeda dengan FFI sehingga masyarakat bisa memilih seleranya sendiri. Seperti halnya ada Piala Oscar dan ada Independent Spirit Awards di Amerika untuk menyediakan selera yang berbeda untuk kalangan berbeda. Dan tetap berhati-hati dengan penyelenggaraan agar tak ditumpangi kepentingan lain semisal distributor film. Dengan begini obyektivitas yang tercipta dari FFI akan menjadi subyektivitas baru di tengah beragamnya ajang semacam ini.
Tulisan ini pernah dimuat di Media Indonesia, 10 Desember 2005 di halaman 14. Namun bagian akhir yang menurut saya penting telah diedit. Ini adalah versi lengkap tanpa editing dan judul asli.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home