Friday, December 16, 2005

Malam Penganugrahan, Malam Kegundahan

Eric Sasono

Saya datang ke malam anugrah Piala Citra FFI tahun 2005 sebagai nominator untuk kritik film dengan sedikit kegundahan. Tak nyaman rasanya berada di sebuah pesta yang glamor semacam ini. Sebagai nominasi, saya masuk lewat pintu nominasi / VIP sedangkan istri saya harus lewat pintu undangan. Jadilah kami berpisah.

Kegundahan agak berkurang karena saya bersama banyak teman. Saya masuk bersama Ekky Imanjaya, Edwin, Cesa David, Sastha Sunu dan Salman Aristo yang juga nominator. Agak nyaman berada di antara orang yang kita kenal. Namun kegundahan itu memang berangkat dari sebab yang lain.

FFI buat saya memang pesta dan tak punya substansi. Satu-satunya substansi hanyalah pada malam anugrah Piala Citra ini yang diharapkan menjadi semacam barometer bagi keberhasilan artistik film-film Indonesia. Kegundahan saya sudah bermula sejak Komite Seleksi menetapkan film-film unggulan, kemudian pada mekanisme penjurian secara keseluruhan. (lihat tulisan saya di harian Media Indonesia, tanggal 10 Desember 2005 halaman 14).

Sebagai nominator, saya duduk bersisian dengan Ekky Imanjaya dan Stevy Widyana dari harian Suara Pembaruan. Ada nama-nama kami di bangku, seperti juga halnya nama-nama para nominator lain. Satu demi satu nama pemenang diumumkan dan kegundahan saya meningkat sedikit demi sedikit.

Pertama ketika editing terbaik diumumkan. Ternyata Yoga K. Soeprapto (Janji Joni) mengalahkan Sastha Sunu (Gie) yang saya jagokan atau Cesa David Luckmansyah (Brownies). Lantas saya mencoba mengingat lagi Janji Joni dan merasa masih bisa menemukan alasan artistik untuk kemenangan Yoga. Biasa saja penilaian saya salah.

Namun ketika pengarah tata artistik diumumkan, kegundahan saya meningkat. Bagaimana mungkin Iri Supit (Gie) dikalahkan dari Frans XR Paat (Virgin)? Apa yang dinilai oleh para juri? Iri sudah berhasil membawa suasana film Gie kembali ke tahun 1960-an dengan sangat sempurna. Penataan artistiknya sudah melampaui penataan artistik karena sudah berhasil sepenuhnya mengembalikan sebuah setting waktu lampau yang sama sekali tak mudah. Menonton film Gie, tak ada lagi perasaan bahwa film itu di-shot di “panggung” yang dikreasikan oleh seorang penata artistik. Kalau pun ada pesaing terdekat Iri Supit, menurut saya itu adalah Eros Efflin (Brownies) yang punya selera artistik yang sangat baik.

Tak tahan akan kegundahan itu, saya mengirim SMS kepada salah satu anggota dewan juri film bioskop, JB Kristanto mempertanyakan mengapa Iri tak dimenangkan. Ia tak membalas SMS itu. Belakangan baru dibalasnya. Ternyata ia sedang berada di Yogyakarta untuk menjadi juri Festival Film Dokumenter. Ia menjanjikan waktu untuk mengobrol membahas soal ini.

Di tengah-tengah acara yang membosankan dan sama sekali tak tertata rapi, kegundahan saya bertambah. Pasalnya beredar SMS dan omongan dari mulut ke mulut mengenai bocoran pemenang. Marcella Zalianty (Brownies) dan Hanung Bramantyo (Brownies) bakal menang. Nicolas Saputra akan menang untuk nominasi dia di Gie. Sedangkan film terbaik tetap pada Gie. Mulailah saya sedikit menghitung-hitung komposisi pemenang. Biasanya --tidak selalu-- film terbaik dilihat dari komposisi kemenangan yang berhasil diraihnya. Gie mendapat sinematografi (Yudi Datau) dan aktor terbaik (Nicolas Saputra). Bagaimana kemudian ia ditetapkan sebagai film terbaik?

Bagi saya sendiri keberadaan Gie di FFI tahun ini membawa beban besar kepada para juri, siapapun yang menjadi juri. Dengan nilai penting karya ini sebagai sebuah catatan sejarah dan politik yang besar dan dikerjakan penuh emosi, perjuangan dan pergulatan intelektual, akan sulit untuk mengalahkan Gie dari film apapun yang menjadi pesaingnya. Gie sejak awal diproduksi sudah menyempitkan pilihan peraih Piala Citra tahun 2005. saya bersyukur masih ada Ketika yang bisa menyumbangkan saingan serius lewat skenario (Musfar Yasin) yang akhirnya meraih piala, sekalipun menurut saya seharusnya Janjo Joni (Joko Anwar) juga patut mendapat nominasi, sekalipun pilihan saya untuk skenario tetap pada Ketika.

Puncak kegundahan adalah pada pilihan sutradara terbaik. Ketika Marcella dan Nico menang seperti disebutkan oleh desas-desus itu, saya sudah mulai gundah. Artinya Hanung bakal menang. Hanung memang sahabat saya. Saya ikut campur tangan ketika ia mengerjakan Brownies. Kami menulis skenario bersama pada malam tahun baru 2004 di rumah saya di Cilangkap. Saya ingat ketika itu saya, Hanung dan Salman Aristo mulai bekerja jam 9 malam. Menjelang jam 12, kami keluar rumah dan melihat ke arah langit. Lalu ketika tepat jam 12, kami saling mengucapkan selamat tahun baru dan meneruskan bekerja. Sampai jam 4 pagi.
Seharusnya ada kegirangan saya Hanung bisa menang karena saya adalah teman satu timnya. Termasuk dalam “keluarga besar Brownies”, kata Marcella dalam ucapan terimakasihnya. Namun saya tak bisa bergembira. Apalagi ada sebuah momen yang membuat kegundahan itu bertambah. Ketika pembacaan nominasi, nama Riri Riza tak muncul di layar besar di samping panggung, yang artinya juga tak muncul di televisi! Saya dan istri saya yang duduk berdampingan serta Tika Angela Sandy, line producer film Brownies, saling bertatapan. ‘Kok mas Riri nggak muncul?’kami bertiga saling pandang penuh tanya. Ketika itu saya langsung bercuriga bahwa ini jangan-jangan balas dendam pihak televisi kepada Riri Riza atasucapan terimakasihnya tahun lalu ketika ia naik untuk menerima Piala Citra sebagai penulis skenario di film Eliana, Eliana. Ketika itu Riri mengucapkan sesuatu yang sangat sinis terhadap televisi.
Di tengah kebingungan karena nama Riri tak disebut sebagai nominator, nama Hanung disebut sebagai peraih Piala Citra. Saya terpaku dan tidak bisa bertepuk tangan. Terlalu sulit bagi saya untuk bisa menerima hal semacam ini. Namun tepuk tangan tetap riuh di assembly hall JHCC. Hanung naik ke atas panggung dengan terlebih dulu memeluk Riri Riza. Saya yang melihatnya merasakan kegundahan dengan kemenangannya. Bagaimana dengan dirinya sendiri? Akhirnya Hanung menyatakan kegundahannya dalam pidato ucapan terimakasihnya. Ia merasa bahwa seharusnya ia hanya menjadi cheerleader bagi kemenangan Riri Riza dan bahkan ia meminta maaf kepada Riri Riza. Bagi saya tidak begitu. Dewan juri yang merebut piala itu dari Riri Riza dan memberikannya kepada Hanung.

Suasana gundah ini bertahan lama pada diri saya. Saya merasakan istri saya juga memiliki kegundahan yang sama. FFI sebagai barometer capaian artistik dikalahkan entah oleh pertimbangan apa. Saat itulah saya berpikir bahwa FFI hanyalah bagi-bagi piala saja, tak lebih dari sebuah arisan. Mungkin sejak awal saya seharusnya beranggapan begitu saja sehingga tak terlalu kecewa dengan hasil-hasil seperti ini. Namun ketika kita bersangka baik terhadap sesuatu, bukankah yang kita harapkan adalah yang terbaik darinya?

Tibalah akhirnya pada pengumuman film terbaik. Hasilnya sudah jelas. Desas-desus yang berkembang sepanjang acara terbukti adanya. Tak ada kejutan lagi. Antiklimaks yang sempurna. Menjelang pengumuman film terbaik, saya melihat Hanung membawa pialanya kembali dari ruang belakang panggung. Saya langsung menghampirinya untuk mengucapkan selamat. Dengan lirih sambil menggeleng-gelengkan kepala ia berkata: “arisan! Ini arisan, mas..!” Saya merasa bahwa ia juga gundah dengan hasil ini. Saya tersenyum dan menepuk bahunya.

Akhirnya Gie memang menang dan Riri Riza naik ke atas pentas untuk mewakili produser film ini, Mira Lesmana yang memutuskan untuk tak datang ke malam penganugrahan ini. Saya bisa melihat bagaimana Riri tetap bisa berbesar hati dengan segala macam kekacauan ini.
Saya melihat piala yang saya dapatkan. Tentu saya bersyukur luar biasa karenanya. Namun kegundahan-kegundahan ini sedemikian mengganggu saya. Apakah saya akan mendaftarkan tulisan saya untuk ikut dikompetisikan di FFI tahun depan? Saya tak tahu. Mungkin saya harus bertemu dengan Mas Kris JB supaya dia bisa menjelaskan soal-soal di balik layar dan pertimbangan-pertimbangan yang tak saya ketahui.

Ah, mungkin saya memang terlalu serius dan terlalu mudah untuk bermurung.

Catatan untuk Festival Film Indonesia 2005

Eric Sasono
Festival Film Indonesia (FFI) 2005 akan menjadi hajatan insan film keduakalinya sesudah kevakuman penyelenggaraan dipatahkan oleh FFI tahun lalu. Tentu hajatan ini diharapkan tak sebatas ramai-ramai (festive) tanpa ada sesuatu yang berarti di dalamnya. Celakanya karakter FFI sejak semula mengandung bahaya tak adanya muatan penting. FFI sebagai sebuah festival adalah festival film yang unik, karena --tak sebagaimana festival lainnya di seluruh dunia-- FFI tak melakukan pemutaran film. Padahal inti keramaian dari sebuah festival film justru adalah pemutaran film itu sendiri. Festival film seperti Cannes Film Festival misalnya, acara utama adalah pemutaran film yang berupa world premiere, atau pemutaran pertamakali film itu di hadapan publik luas.

Dengan demikian yang tertinggal dari substansi sebuah FFI selain pesta-pestanya adalah penganugerahan Piala Citra. Sejak lama Piala Citra dan beberapa piala lainnya menjadi indikator bagi keberhasilan kerja para insan film dalam aspek estetika. Hasil kerja keras pekerja film mendapat kredit dan pengakuan selain ukuran-ukuran keberhasilan komersial film yang mereka buat. Pada ajang inilah para pekerja film dapat berbangga diri dengan pencapaian-pencapaian kreatif dan tak semata menundukkan diri pada capaian komersial. Beginilah seharusnya sebuah festival.

Obyektivikasi subyektivitas

Padahal sebuah piala dalam ajang kompetisi film semacam ini adalah obyektifikasi dari subyektivitas. Penilaian terhadap film berangkat dari ukuran-ukuran yang subyektif. Memang ada ukuran-ukuran standar teknis baku dalam menilai sebuah film yang beranjak dari ukuran ketrampilan para pekerjanya. Namun pada akhirnya penilaian film sebagai sebuah produk utuh sangat berkaitan dengan persoalan selera yang subyektif dan ini tak terhindarkan.

Contoh terbaik soal ini adalah penghargaan Academy Awards alias Piala Oscar dimana pemenang didapat dari pemungutan suara yang dilakukan oleh anggota AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Sciences) terhadap seluruh nominator. Sedangkan nominator biasanya dipilih oleh para pekerja kreatif yang tergabung dalam serikat atau gilda pekerja film. Para penyeleksi nominator ini adalah orang-orang yang mengerti betul ketrampilan teknis pembuatan film. Namun dengan keputusan akhir di pemungutan suara, tampak bahwa pertimbangan teknis akhirnya dikalahkan oleh pertimbangan populer selera para anggota AMPAS.

Di sinilah subyektivitas menjadi obyektivitas. Hal ini tak terhindarkan sekalipun subyektivitas tak pernah bisa didamaikan. Banyak sekali penghargaan yang dianggap keliru sasaran. Misalnya keberhasilan film Shakespeare in Love dalam meraih piala Oscar tahun 1997 yang dianggap berhasil meraih Oscar karena studio produksinya, Miramax, melakukan kampanye besar-besaran menjelang pemungutan suara ketimbang karena estetika film itu.

Di sinilah tampak jelas bahwa subyektivitas bisa tetap berjalan sendiri, sedangkan penganugrahan piala itu berjalan ke arah lain dan memaksa orang yang tak seuju mengakui, suka atau tidak. Obyektivitas sudah terjadi ketika pemenang sudah ditetapkan.

Soalnya tinggal proses menuju penetapan pemenang itu. Apakah seluruh proses penganugrahan itu berjalan dengan proses yang memungkinkan pilihan terbaik? Sudahkah setiap film mendapat kesempatan setara untuk dinilai? Bagaimana mekanisme pra-seleksi dilakukan? Apakah juri yang dipilih adalah juri yang kompeten? Dan seterusnya.

Proses

Untuk mencapai peraih Piala Citra, panitia FFI meminta para produser untuk mendaftakan film mereka. Setelah produser mendaftar, panitia FFI akan membentuk komite seleksi yang ditugaskan pra-nominasi atau menyeleksi film unggulan dalam bahasa panita FFI. Tahun ini komite seleksi menetapkan tujuh film unggulan. Dari ketujuh film unggulan inilah kemudian dewan juri menetapkan lima nominasi untuk masing-masing kategori. Dari lima nominasi, dipilihlah satu yang akan menjadi pemenang Piala Citra tahun ini.

Proses pendaftaran ini sebenarnya mengandung bahaya. Biasanya pendaftaran diperlukan untuk sebuah festival yang melakukan pemutaran film, bukan malam penganugrahan semacam FFI atau Oscar. Bandingkan dengan malam penganugrahan Piala Oscar yang menilai seluruh film yang diputar di bioskop komersial Los Angeles sekurang-kurangnya tujuh hari antara 1 Januari hingga 31 Desember. Dengan demikian tak perlu pendaftaran. Sedangkan jika pendaftaran sebuah festival film meminta pendaftaran, maka hal itu adalah untuk diputar pada festival yang bersangkutan.

Bayangkan seandainya tiga produser utama film Indonesia ngambek kepada FFI dan tidak mendaftarkan filmnya. Seandainya pula produser-produser itu kebetulan memproduksi film-film dengan kualitas estetika tinggi. Maka FFI akan kehilangan legitimasi serius ketika film-film yang tak mendaftar itu tak menjadi pemenang bahkan masuk nominasi.

Selanjutnya proses pra-nominasi ke nominasi yang bertahap ini juga mengandung kelemahan. Komite seleksi yang berjumlah 7 orang dan diketuai oleh N. Riantarno ini memilih 7 dari 27 film yang didaftarkan ke panitia. Dari ketujuh film inilah nominasi dilakukan. Kemudian dewan juri menilai ketujuh film dan memilih 5 nominasi untuk setiap kategori. Maka hasilnya adalah nominasi yang dipublikasikan panitia itu.

Mengapa nominasi hanya dilakukan dari film-film unggulan? Salah satu anggota komite seleksi mengatakan (saya parafrase) bahwa nominasi dilakukan hanya dari film unggulan karena FFI adalah festival film, bukan festival akting festival editing atau festival unsur-unsur pendukung film lain. Dengan demikian ketujuh film ini dianggap ”selesai” sebagai film sebelum dinilai unsur-unsur pendukungnya.

Tradisi pemilihan film unggulan pernah dilakukan dalam FFI sebelumnya. Hal ini terjadi karena kesulitan dewan juri jika harus menilai film dalam jumlah banyak. Pada tahun 1980-an, ketika produksi film Indonesia masih ratusan setiap tahun, sulit bagi dewan juri untuk menilai seluruh film. Dengan demikian, diperlukan adanya pra-nominasi berupa pemilihan film unggulan untuk memudahkan kerja dewan juri. Pertimbangan praktis ini sedikit banyak masuk akal. Namun dengan 27 film pada tahun ini, apakah diperlukan adanya pra-seleksi semacam ini? Jumlah ini tak jauh berbeda dengan film yang masuk seksi kompetisi di Festival Film Cannes di Perancis yang berkisar di angka 20.

Jika memang alasan praktis menyempitkan penilaian itu bisa diterima, mengapa pula jumlahnya harus tujuh film yang menjadi unggulan? Mengapa tidak sepuluh atau tiga belas atau lima? Memang ada peluang jumlah berapapun akan tetap dipertanyakan. Namun dengan membatasi jumlah film unggulan, maka pilihan-pilihan estetika dewan juri FFI akan semakin tersempitkan. Memang ini festival film dan bukan festival unsur-unsur pembuat film. Namun mengapa harus menyempitkan diri dan menutup kemungkinan dengan pertimbangan-pertimbangan jumlah angka atau kuota? Pilihan-pilihan komite seleksi itu pasti merupakan subyektivitas kelompok, lantas mengapa tak dilebarkan saja subyektivitasnya sehingga lebih membuka kemungkinan?

Delegitimasi

Berbagai kelemahan ini berpotensi mendelegitimasi FFI sebagai indikator estetika film Indonesia. Dahulu memang FFI adalah “hajatan insan film” dimana nuansa pesta lebih terasa ketimbang nuansa kerja kreatif dan kemungkinan menggadang kerja lanjutan darinya. Mungkin hal ini tidak menjadi persoalan berarti sampai mati surinya FFI pada tahun 1992 karena sampai masa itu tak ada alternatif yang berarti bagi FFI. Masyarakat, kecuali para ‘insan film’ juga tak memiliki perbandingan berarti dengan festival lain karena ketidakmengertiannya.

Namun kini FFI diselenggarakan di alaf baru yang sama sekali berbeda dengan 13 tahun lalu. Tak heran jika tahun lalu FFI sudah mulai kehilangan pamor dibandingkan dengan Jakarta International Film Festival (Jiffest) yang lebih terasa sebagai festival sesungguhnya. FFI sudah harus membenahi diri secara serius agar tak semakin terdelegitimasi dan ditinggalkan orang. Atau jadikan saja FFI sebagai sebuah subyektivitas. Buat saja ajang penghargaan lain yang lebih bisa dipertanggungjawabkan dan memakai ukuran yang berbeda dengan FFI sehingga masyarakat bisa memilih seleranya sendiri. Seperti halnya ada Piala Oscar dan ada Independent Spirit Awards di Amerika untuk menyediakan selera yang berbeda untuk kalangan berbeda. Dan tetap berhati-hati dengan penyelenggaraan agar tak ditumpangi kepentingan lain semisal distributor film. Dengan begini obyektivitas yang tercipta dari FFI akan menjadi subyektivitas baru di tengah beragamnya ajang semacam ini.
Tulisan ini pernah dimuat di Media Indonesia, 10 Desember 2005 di halaman 14. Namun bagian akhir yang menurut saya penting telah diedit. Ini adalah versi lengkap tanpa editing dan judul asli.