Friday, November 11, 2005

Kritik Film = Kritik Seni?

Oleh Eric Sasono

Keraguan di judul tulisan ini berangkat dari subyek pada kritik film, yaitu film itu sendiri. Film lebih sering dianggap sebagai sebuah media hiburan ketimbang karya seni. Memang ada film yang dikategorikan sebagai film art atau film seni, tetapi sebenarnya penggolongan ini berangkat dari mekanisme distribusi, bukan dari kandungan di dalamnya. Film yang digolongkan film art biasanya adalah film yang dipertunjukkan di tempat pertunjukan khusus seperti art house.

Tarik menarik antara media hiburan dan karya seni memang menjadi perdebatan klasik dalam dunia film. Dua puluh tahun sejak pertamakali diadakan pertunjukan film di sebuah kafe di Paris oleh Lumiere Bersaudara, para film enthusiast sudah membela posisi film sejajar dengan karya seni lain semisal seni rupa atau teater. Namun di sisi lain, film sebagai kegiatan ekonomi dengan investasi tinggi membuatnya menjadi sebuah produk komersial semata dan mengabaikan estetika.

Seni
Usaha mendefinisikan seni merupakan sebuah usaha yang sia-sia. Seni kerap dianggap sama luasnya dengan kehidupan itu sendiri sehingga usaha mendefiniskan seni sama saja dengan usaha untuk membatasi makna kehidupan. Namun pada dasarnya ada dua kutub ekstrem dalam memandang seni. Kutub pertama beranggapan bahwa seni merupakan sebuah usaha mentransendensi ketrampilan teknik menjadi sebuah pencarian terhadap makna kehidupan. Artinya, untuk melahirkan sebuah karya seni dibutuhkan prasyarat ketrampilan teknik. Karya seni tak mungkin lahir tanpa adanya ketrampilan teknik para pembuatnya. Dengan demikian ada sebuah kualitas intrinsik pada sebuah karya sehingga dianggap sebagai sebuah karya seni, ambil contoh misalnya lukisan Monalisa karya Leonardo DaVinci yang dibuat dengan presisi yang sangat tinggi.

Namun menyandarkan ketrampilan teknis semata-mata sebagai bahan mentah karya seni menimbulkan perdebatan antara seni dan kitsch. Karya-karya kitsch juga dibuat dengan ketrampilan teknis tinggi tetapi gagal dalam mentransendensikan nilai-nilai kehidupan. Kitsch dianggap tak punya nilai penting sehingga tak bisa digolongkan sebagai karya seni.

Kutub ekstrem lain beranggapan bahwa sesuatu bisa dianggap sebagai karya seni semata-mata karena konvensi yang lahir dari interaksi sosial. Karya seni lahir dari sebuah proses kreatif yang harus dipertanggungjawabkan oleh sang kreator di hadapan publik. Ambil contoh komposisi musik karya komposer John Cage yang berjudul 4’33”. Komposisi ini dibuat tanpa satu not pun dan ketika komposisi ini dimainkan, tak terdengar suara apapun selama empat menit tiga puluh tiga detik!

Siapa yang tak bisa menciptakan “komposisi musik” seperti ini? Mengapa karya ini dianggap sebagai karya seni ketika semua orang bisa menciptakannya? Dimana nilai ketrampilan teknik pada penciptaan karya seni semacam ini? John Cage punya penjelasannya. Menurut Cage, kehidupan adalah musik itu sendiri. Suara-suara yang dihasilkan oleh lingkungan manusia sebenarnya sudah merupakan sebuah karya musik yang indah. Apabila ketika komposisi 4’33” itu dimainkan para penonton menjadi resah karenanya, maka itu adalah bagian dari komposisi. Ketika para penonton meninggalkan bangku mereka sambil menggerutu, itu juga bagian dari komposisi tersebut.

Contoh karya John Cage ini mungkin contoh yang ekstrem. Namun inilah contoh bahwa karya seni bersifat kontekstual. Sebuah karya bisa tak dianggap karya seni pada masanya tapi berubah pada waktu dan tempat lain. Contoh lain adalah Vincent Van Gogh. Sepanjang hidupnya ia hanya bisa menjual satu lukisan. Namun setelah ia mati, lukisan-lukisannya menjadi lukisan-lukisan termahal sepanjang sejarah.

Marilah kita padukan kedua kutub ini. Di satu sisi, sebuah karya seni mengandung nilai-nilai instrinsik. Karya seni harus lahir dari pemahaman terhadap ketrampilan teknis yang bisa diwujudkan dalam karya tersebut. Di sisi lain, ia harus mampu dipertanggungjawabkan dalam interaksi sosial. Kreator harus mempertanggungjawabkan proses kreatifnya atau bahkan menyampaikan sesuatu yang dianggapnya penting lewat karyanya tersebut. Dengan memadukan kedua kutub ini, kita bisa melihat peluang film untuk dianggap sebagai karya seni.
Film punya nilai intrinsik berupa rangkaian ketrampilan teknik yang bahkan lebih kompleks ketimbang karya seni lain. Film membutuhkan ketrampilan menulis, akting, seni rupa, fotografi dan sinematografi hingga arsitektur. Namun, sebagaimana banyak karya lainnya, film tak selalu berhasil mencapai nilai ekstrinsiknya. Tak seluruh kreator film mampu mempertanggungjawabkan proses kreatifnya atau karyanya tak menyampaikan sesuatu yang dianggapnya penting. Banyak film yang diproduksi semata sebagai barang dagangan semata.

Kritik Film
Dengan melihat kedua nilai pada film ini, maka kritik film harus mampu mempertimbangkan keduanya. Di satu sisi, ada penilaian terhadap nilai-nilai intrinsik film itu. Seorang kritikus film harus mampu melihat pilihan-pilihan yang tersedia bagi seorang kreator dan mempertanyakan pilihan tersebut bagi muatan dan cara tutur yang dipilih oleh sang kreator. Di sisi lain, kritikus terkadang perlu meninjau nilai ekstrinsik film dan melihatnya dalam konteks yang lebih luas.

Tak bisa dilupakan bahwa kritik film akan sangat bergantung pada karya yang dihasilkan. Di sisi lain, produksi film juga bergantung pada lingkungan produksi yang menghasilkannya. Dengan demikian, karena karya film bersifat kontekstual, maka kritik film juga sama kontekstualnya. Hal ini bisa kita lihat dari pengertian tentang kritik itu sendiri.

Kritik film, dengan melihat pada kata kritik, bisa bermakna ganda. Dalam bahasa Inggris, kritik berasal dari critic yang berarti orangnya, alias kritikus. Produk yang dihasilkan oleh kritikus bisa berupa tinjauan (review) terhadap sebuah film. Namun bahasa Inggris juga mengenal critique, sebuah kata yang biasanya dipakai dalam konteks filsafat. Di sini, kritik --seperti juga Kritik dalam bahasa Jerman-- bermakna sesuatu yang abstrak, berasal dari bahasa Yunani, Krites, yang artinya penghakiman nilai (value judgment).

Kritik dalam pengertian pertama digunakan di Amerika dan bekerja di media massa umum. Dari sisi lingkungan produksi, film di Amerika merupakan kegiatan komersial. Untuk kebutuhan ini, nilai intrinsik film di Amerika diarahkan untuk mengejar kesempurnaan representasi realitas. Dengan demikian, penonton akan mengasosiasi film dengan pengalaman sehari-hari mereka. Maka film tak mengajukan gugatan berarti terhadap realitas, melainkan meneguhkan realitas dan pada akhirnya mengajukan hiburan yang siap telan bagi penonton tanpa ada usaha untuk mempertanyakan lagi realitas.

Dalam konteks ini, kritik film berusaha mencari koherensi dalam nilai intrinsik film guna mencapai kesempurnaan asosiasi antara realitas film realitas sehari-hari penonton. Film maupun kritiknya sama-sama mengabdi pada representasi. Dalam hal nilai ekstrinsik, kritikus film berusaha untuk mengoptimalkan pertukaran ekonomi kegiatan menonton. Dengan demikian, kritikus film akhirnya lebih banyak memberi saran dengan bentuk dua jempol atau memberi bintang sebagai tanda film itu layak tonton atau tidak.

Kritik film dalam pengertian kedua, pengertian yang abstrak, digunakan dalam konteks lingkungan produksi film yang lebih menekankan pada pengajuan gagasan, baik kultural maupun sosial. Di negara-negara seperti Perancis pra 1980-an dan Jerman, film lahir sebagai bagian dari kegiatan kultural yang menyatu dengan bentuk-bentuk ekspresi kultural lain semisal seni rupa, teater atau bahkan gerakan politik dan filsafat. Maka film menjadi sarat gagasan dan terkadang bersifat menggugat realitas sehari-hari penonton, sekalipun tak seluruhnya demikian.

Dengan konteks lingkungan produksi seperti ini, maka kritikus film membahas nilai intrinsik film untuk menilai apakah pilihan-pilihan teknis yang diambil oleh kreator sudah tepat untuk gagasan yang diajukannya. Pembahasan seperti ini akhirnya berusaha mencapai sebuah bentuk pengungkapan yang khas untuk sebuah gagasan tertentu yang menjadi muatan film. Hal ini tampak misalnya dengan rumusan kritikus Andre Bazin dalam jurnal Cashier du Cinema terhadap gerakan Nouvelle Vague di Perancis yang dipelopori oleh Jean-Luc Goddard dan Francois Truffaut. Bazin merumuskan pilihan-pilihan teknik yang khas dari film-film sutradara terhadap gagasan yang mereka ajukan serta signifikansi gagasan itu dalam masyarakat.

Konteks Indonesia
Dengan melihat kritik film selalu berkaitan dengan produk film itu sendiri, kita tiba pada persoalan mendasar ketika membicarakan kritik film di negeri ini. Persoalan itu bersisi ganda, yaitu pada kreator dan kritikus. Di sisi kreator, kebanyakan kreator film di negeri ini masih berkutat pada usaha representasi yang serupa dengan kreator di negara seperti Amerika Serikat. Namun ada persoalan besar dalam nilai intrinsik film di negeri ini dimana banyak film dikerjakan dengan ketrampilan teknis tak memadai sehingga seorang kritikus senior JB Kristanto pernah menyebut bahwa film kita mengabaikan akal sehat. Representasi itu kerap tak tampil sempurna karena lemahnya elemen penyusun utamanya: kepaduan logika internal film-film negeri ini.

Dengan demikian kritik film akan berkutat pada hal-hal elementer baik dalam pembahasan nilai intrinsik maupun ekstrinsiknya. Pembahasan nilai intrinsik akan berurusan dengan ketaksambungan logika, editing yang tak koheren, akting yang tak meyakinkan dan sebagainya. Ketidakberesan hal-hal elementer ini tak akan menghasilkan pembahasan aspek teknikal yang penting dari film. Akibatnya kritikus tak akan mampu membantu melakukan perumusan terhadap cara tutur seperti apa yang sebaiknya digunakan untuk muatan yang diusulkan untuk film Indonesia.

Pembahasan nilai ekstrinsik akhirnya lebih berpeluang. Namun alih-alih membahas nilai penting karya itu di masyarakat, kritik film lebih banyak menjadi pemberi rekomendasi untuk menonton. Padahal peluang membahas nilai ekstrinsik yang lebih besar tetap terbuka.

Misalnya yang dilakukan oleh harian Kompas ketika melihat fenomena film Jelangkung. Film ini sempat mengejutkan banyak orang ketika berhasil mendatangkan penonton hingga melebihi satu juta orang dan dibahas sangat luas di kalangan anak muda Jakarta dari mulut ke mulut. Dengan bermodal sekitar 400 juta rupiah, film ini mendatangkan pendapatan kotor hingga 11 milyar rupiah. Kemudian film ini menghasilkan gelombang peniruan film-film horor serupa. Padahal di sisi lain, film Jelangkung ini dikerjakan dengan ketrampilan teknis yang relatif pas-pasan. Penceritaan dalam film ini mengandung cacat logika. Penggunaan kamera video digital pada film ini juga menghasilkan gambar dengan kualitas seadanya. Namun Kompas melihat kemampuan film ini secara sosiologis. Film ini mengangkat secara sangat tepat urban legend, semacam folklore pada masyarakat perkotaan yang dipercaya kebenarannya. Maka penonton datang ke bioskop karena keberhasilan tersebut, dan bukan karena estetika film ini. Ini adalah contoh bagaimana nilai ekstrinsik film dibahas lebih banyak ketimbang nilai intrinsiknya.

Contoh lain adalah tulisan Seno Gumira Ajidarma ketika membahas Gie di majalah Tempo. Seno menulis bahwa film itu harus dilihat dalam konteks lebih besar untuk membuka diskusi publik mengenai keterbukaan. Dari sini bisa kita lihat bahwa pembahasan nilai ekstrinsik sebuah film juga punya sumbangan penting bagi proses membuat film dan akhirnya pada proses bagaimana bangsa ini belajar.

Sisi lain persoalan adalah pada kritikus film. Kritikus film negeri ini lahir dari kebijakan redaksional media massa. Ada dua implikasi terhadap hal itu. Pertama, banyak kritikus yang tak paham bagaimana membahas nilai intrinsik sebuah film. Mereka tak mengerti ketersediaan pilihan-pilihan teknik pada pembuatan sebuah film. Akibatnya pembahasan mengenai film lebih banyak berisi sinopsis film ditambah sedikit data produksi. Hal ini jelas tak memberi sumbangan berarti baik bagi kreator maupun bagi (calon) penonton. Kedua, film kerap digolongkan sebagai bagian dari liputan bidang hiburan sehingga substansi yang terkandung dalam film tertutupi oleh prinsip names make news dimana para jurnalis-kritikus film lebih terpesona oleh bintang-bintang yang bermain di dalamnya ketimbang membahas lebih jauh mengenai substansi sebuah film.

Pekerjaan Rumah
Dengan kondisi demikian, maka baik kreator maupun kritikus sama-sama memiliki pekerjaan rumah. Kreator harus mampu membuat film yang sudah tak lagi punya persoalan teknik yang elementer. Sekalipun film diniatkan menjadi produk komersial, para kreator harus tetap memperlihatkan penguasaan terhadap ketrampilan teknik mereka yang sesuai dengan muatan yang ingin mereka sampaikan. Dengan prasyarat inilah baru sebuah film bisa ditinjau dengan baik, termasuk kemungkinan untuk membongkar secara kritis terhadap cara tutur yang disajikan. Tanpa pemenuhan prasyarat ini, maka tak akan ada pembahasan yang baik terhadap sebuah film.

Di sisi kritikus, mau tak mau mereka harus belajar sebaik-baiknya memahami aspek teknis produksi film. Banyak cara yang dapat dilakukan mulai dari merasakan sendiri proses produksi film, berdiskusi dengan para kreator hingga membaca dan melakukan riset mengenai teknik pembuatan film. Hal ini tak berarti bahwa seorang jurnalis-kritikus film yang mendapat penugasan untuk meliput film harus menjadi seorang ahli mengenai teknik pembuatan film. Pada dasarnya kebutuhan ini serupa dengan kebutuhan untuk memahami persoalan sebaik-baiknya serupa dengan kebutuhan liputan bidang lain semisal ekonomi, hukum atau ilmu pengetahuan.

Akhirnya kritik film negeri ini memang masih berada pada sebuah simpang jalan. Sebagaimana film Indonesia yang masih mencari-cari bentuk, kritik film menghadapi tantangan lebih besar. Keraguan mengenai apakah kritik film merupakan kritik seni mungkin tak terjawab sepenuhnya, tapi kedua pihak dari dua sisi mata uang yang sama ini mudah-mudahan terbantu oleh tulisan sederhana ini.Yang harus dilakukan selanjutnya adalah: marilah sama-sama mengerjakan pekerjaan rumah kita.