Tuesday, October 25, 2005

Pada Setiap Tabrakan Mobil

Eric Sasono

“Mungkin orang-orang di Los Angeles ini sudah tak pernah bertemu orang lain. Sehingga mereka perlu menabrakkan mobil mereka supaya sekadar bisa merasakan kehadiran orang lain.” Kata-kata ini keluar dari mulut seorang detektif polisi kulit hitam bernama Graham Waters (Don Cheaddle) ketika melihat tabrakan beruntun beberapa mobil.

Setelah Falling Down (Joel Schumacher, 1993) baru kali ini lagi muncul sebuah film yang mencoba jujur terhadap persoalan rasial di Amerika. Dan kejujuran Paul Hagis, sang penulis dan sutradara film ini, demikian berhasil. Amerika mungkin bangga selama ini sebagai sebuah bangsa melting pot. Sebuah bangsa yang justru terbentuk oleh keberagaman dan bangga akan keberagamannya itu. Kebanggan itu sedang dipertanyakan secara serius lewat film ini.

Sebagai sebuah representasi persoalan, film ini sejajar dengan pertanyaan yang hadir lewat media ketika dunia menyaksikan lambannya penanganan terhadap korban topan Katrina di New Orleans. Mana negara adi daya yang mampu mengirimkan puluhan ribu pasukan ke Irak? Mengapa mereka tak bisa membereskan halaman belakang rumah mereka sendiri? Ketika media menyebarkan gambar-gambar mayat bergeletakan di jalan, penjarahan, orang-orang menggigil di jalan-jalan, semua terkejut. Para korban itu berkulit hitam. Mungkin kebetulan, tapi kebetulan ini saja cukup untuk memicu kecurigaan. Jika para korban berkulit putih apakah pemerintah Amerika juga akan demikian lamban?

Amerika memang belum selesai dengan identitas mereka, dan mungkin tak akan pernah. Film Crash ini menggambarkan dengan jujur dan detail yang menggetarkan mengenai ilusi melting pot itu. Dalam film ini digambarkan bahwa sterotip antar ras berjalan sempurna hingga ke detil-detilnya dan tak ada yang bisa menghindar. Film ini dipenuhi dengan tokoh-tokoh dengan nama depan yang sama sekali tak berbau Anglo-Saxon. Memang ada Rick, Graham, Cameron, Ryan, tetapi dalam jumlah sama banyaknya ada Dorri, Farhad, Shaniqua, Ira. Mereka adalah warga negara Amerika yang melting pot itu. Ketika mobil mereke bertabrakan di jalan, mereka akan saling menghardik dan membentak kepada lawan bicaranya: “Do you speak English?!”

Stereotip paling sempurna ketika Waters berbincang dengan asisten jaksa wilayah Jake Flannagan mengenai penembakan yang dilakukan Conklin, seorang polisi kulit putih, terhadap polisi kulit hitam. Penembakan ini sudah ketigakalinya. Waters yang berkulit hitam berusaha menghindari stereotip dengan melihat bahwa tak ada motivasi rasial di balik penembakan ini. Berkali-kali Flannagan menyatakan bahwa semua itu adalah konflik rasial, yang berawal dari stereotip-stereotip. Waters diam saja di sudut sampai ia tak bisa lagi mengelak ketika disodorkan fakta tentang adiknya yang terlibat kriminalitas.

Persoalan rasial ini bukan hanya ekstensif, tapi juga intensif. Konflik rasial memasuki rumah-rumah tangga dan menjadi demikian personal. Jakwa Wilayah Rick Cabot (Brendan Fraser) ditodong oleh dua orang kulit hitam dan dibajak mobilnya serta khawatir untuk membuat pertanyaan tentang warna kulit ini karena bisa merugikannya dalam berkampanye. Petugas Ryan (Matt Dillon) menjadi seorang polisi yang sangat getir dan rasialis karena harus mengurus ayahnya yang tak berdaya buang kencing setelah jatuh sakit akibat usaha ayahnya itu dinyatakan bangkrut. Padahal sang ayah sudah demikian baik menampung kerja puluhan orang kulit hitam. Seorang pemilik toko kelontong keturunan Persia bernama Farhad (Shaun Toub) yang kecurigaannya pada seorang tukang kunci berubah membawa maut ketika si tukang kunci menyatakan bahwa Farhad harus mengganti pintunya. Toko Farhad dirampok akibat ia tak mau mengganti pintu dan Farhad menyalahkan si tukang kunci. Kemudian ia ke rumah si tukang kunci sambil membawa pistol yang baru dibelinya sebagai alat pembela diri.

Semua persoalan rasial ini bagai terpendam di bawah permukaan. Tinggal menunggu terjadinya sebuah tabrakan mobil agar ia keluar ke permukaan. Yang paling menarik dari sajian Paul Haggis ini adalah tak adanya perspektif tunggal dalam melihat masalah. Penonton diajak pada pandangan omnipresent yang bisa mengamati beberapa realitas secara sekaligus. Pelan-pelan peristiwa terbuka hingga penonton tahu bahwa satu peristiwa akan membawa pada sebuah peristiwa berikutnya yang bisa berakibat fatal pada para tokoh dalam film itu. Dan tak ada yang bisa mencegahnya.

Dengan sudut pandang omnipresent seperti ini, konflik menjadi berdimensi banyak. Tak ada pembagian hitam putih, dalam pengertian harfiah maupun kiasan karena warna kulit dalam film ini demikian beragam. Prasangka rasial tokoh-tokoh film yang menemukan jalannya pada peristiwa demi peristiwa berlapis dengan persoalan sosial yang membelit Amerika. Secara sosial, terlihat kriminalitas menjadi persoalan yang membelit masalah rasial ini. Demikian pula dengan skema asuransi kesehatan di Amerika yang menyebabkan prasangka rasial menemukan jalan. Di sinilah film ini menyerupai Falling Down dalam melihat persoalan rasial dan persoalan sosial lainnya sebagai saling mempengaruhi dengan kompleks. Sajian Haggis menjadi istimewa karena dari beberapa detail teknis dalam kriminalitas dan penyelenggaraan asuransi kesehatan, masalah rasial itu muncul.

Crash memang membuka sebuah dimensi baru masalah rasial Amerika sesudah peristiwa besar 11/9 yang mempengaruhi kehidupan mereka sebagai bangsa. Jika Falling Down membuat sebuah komentar sosial yang pedas dan ironik mengenai ketakutan kaum white anglo saxon protestant (WASP) terhadap masalah-masalah sosial Amerika dan prasangka-prasangka rasial mereka sendiri, maka Crash menghadirkan semacam kepasrahan yang mendekati fatalisme. Siapa yang bisa mengubah kenyataan yang sudah berurat berakar ini? Maka Amerika tinggal menunggu angin topan semacam Katrina untuk memperlihatkan borok besar mereka sendiri. Sekalipun sebenarnya pada setiap tabrakan mobil saja persoalan itu bisa dilihat dengan mudahnya.

Monday, October 24, 2005

Religiusitas Layar Kaca

Eric Sasono

Fleksibilitas televisi memang luar biasa. Menjelang Lebaran ia bisa begitu khusyuk bersembahyang, tapi mendekat Natal tiba-tiba sangat meriah merayakannya. Ini memang menjadi bagian komersialisme televisi yang ada di manapun di seluruh dunia. Religiusitas hanya bagian dari mata dagangan yang sama tempatnya dengan mata dagangan lain semisal jurnalisme, infotainmen, olahraga dan sebagainya.

Namun tidak selalu begitu bagi penonton. Religiusitas, salah satu tema paling esensial dalam kehidupan manusia, erat kaitannya dengan identitas yang ambigu. Di satu sisi, religiusitas mendaku identitas yang kental dalam berbagai aspek simbolis yang erat kaitannya dengan toleransi dan di sisi lain punya nilai represi dalam menentukan benar dan salah. Simbol-simbol keagamaan --dalam contoh Islam-- seperti jilbab, peci, sajadah, sholat dan sebagainya merupakan hal yang tak bisa dipermainkan begitu saja bagi penganutnya.

Televisi belakangan menyajikan sesuatu yang mengerikan berupa eksploitasi simbol-simbol religiusitas ini. Serial televisi --sinetron-- menyajikan banyak tema-tema religius dalam judul-judul seperti Hikmah, Taubat, Rahasia Ilahi, Siksa Kubur dan sebagainya. Sinetron dengan tema-tema religius ini umumnya mengkaitkan antara sikap religius tokoh-tokohnya dengan imbalan dan hukuman yang langsung bisa dilihat dalam kehidupan dunia. Umumnya narasi yang diajukan adalah tokoh (atau tokoh-tokoh) baik yang taat beribadah dizalimi oleh tokoh (-tokoh) jahat yang berbuah dengan imbalan bagi tokoh baik dan hukuman bagi tokoh jahat. Hukuman bagi tokoh jahat itu biasanya berupa hukuman (yang ditafsirkan) sebagai hukuman ilahiah seperti siksa kubur misalnya.

Aspek komersial tema-tema religius ini tercium dengan melihat bahwa fenomena kemunculan sinetron semacam ini merupakan ikutan dari suksesnya majalah Hidayah di pasaran. Majalah itu memiliki oplah tertinggi saat ini hingga 200 ribu eksemplar. Dengan keberhasilan majalah ini mencapai oplah setinggi itu, jelas ada pasar yang besar terhadap tema-tema yang diangkat oleh majalah ini.

Ini adalah mekanisme daur ulang pada bisnis hiburan seperti televisi. Televisi akan terus mencari-cari sumber tema dan ungkapan-ungkapan baru karena kecenderungan cepatnya tema dan ungkapan lama menjadi usang. Agar televisi bisa bertahan terus di tengah persaingan yang semakin hebat dan cepat, maka daur ulang tema adalah cara yang paling aman. Dengan daur ulang semacam ini, televisi tak perlu lagi membuka pasar yang baru. Mereka tinggal mengubah cara tutur untuk materi yang sudah ada dan punya pasar yang sudah jelas.
Narasi religiusitas yang didaur ulang ini punya konsekuensi signifikan yang mungkin tak disadari oleh televisi. Ada perbedaan mendasar antara televisi dengan majalah. Pertama, majalah merupakan media dengan tingkat kesukarelaan tinggi. Orang membeli majalah dengan kesadaran untuk mendapatkan isinya sehingga pembaca majalah relatif siap dengan isinya. Kedua, representasi yang dilakukan majalah adalah representasi terbatas dimana realitas tidak berusaha ditiru sedekat mungkin tapi diwakili secara berjarak. Televisi --dan media audio visual-- sejak awal berusaha meniru realitas tanpa jarak.

Kesukarelaan yang rendah dan representasi tak berjarak ini membuat narasi televisi menjadi absolut dibandingkan media lain. Televisi menghadirkan representasi kenyataan tanpa menyediakan pilihan banyak kepada penonton. Memang ada remote control yang bisa membuat penonton memilih, tetapi ketika semua tayangan berisi tema serupa pada waktu yang sama, ini berarti tak ada pilihan buat penonton.

Implikasi lain dalam soal narasi adalah soal kebenaran yag diajukan oleh tayangan-tayangan religius ini. Jika dalam narasi sinetron non-religius, tokoh-tokoh baik / jahat – benar / salah adalah soal perilaku, kini hal itu dikaitkan dengan simbol-simbol religius. Tokoh baik / benar selalu berjilbab, berpeci, sholat, berdoa sambil menangis sementara tokoh jahat selalu digambarkan kejam, tak beragama dengan baik, culas atau berpenyakit hati lain. Jika tadinya kebenaran tampil tanpa beban simbolis semacam ini, dalam narasi sinetron religius jadi penuh simbol.

Terjadilah absolutisme dalam pengajuan nilai kebenaran di sini. Kebenaran selalu dikaitkan dengan religiusitas yang tampak aneh dalam tayangan televisi. Kebenaran berendeng dengan simbol agama / imbalan dan segala yang salah selalu berkait dengan pembangkangan terhadap agama / hukuman. Lebih dari sekadar pendangkalan makna agama / religisuitas, pada narasi semacam ini terjadi juga pemutlakan terhadap agama tertentu sekaligus tak memberi peluang pada kebenaran model lain.

Dengan mengikuti logika komersial televisi, pemutlakan ini terjadi semata lantaran pertimbangan komersial dan tak berhubungan dengan keyakinan. Jika tema ini sudah usang dan didaur ulang --sesuai dengan sifat alamiah bisnis hiburan yang dianut televisi-- akan terbuka kemungkinan bahwa nilai kebenaran akan berubah lagi. Siapkah Anda sebagai penonton akan hal ini?

Ya, fleksibilitas televisi memang luar biasa.

Dimuat di majalah berita mingguan Tempo edisi 3 – 9 Oktober 2005