Tuesday, July 12, 2005

Metafisika pasca 11 September

Oleh Eric Sasono

Bagaimana menjelaskan awal dan akhir kemanusiaan? Pertanyaan ini merupakan sebuah pertanyaan abadi manusia yang terus menggantung sepanjang masa dan di setiap tempat. Jawaban atas pertanyaan ini telah menghasilkan filsafat dan metafisika yang tak ada akhirnya serta terus diperdebatkan sepanjang keberadaan manusia. Salah satu jawaban terakhir disajikan oleh Steven Speilberg dengan mengadaptasi sebuah novel karya HG Wells, War of The Worlds, ke dalam bentuk sebuah film.
Kabarnya Spielberg sudah lama sekali berniat memfilmkan novel ini, tapi ia menunggu sampai saat yang tepat. Sampai tibalah salah satu ikon terpenting Hollywood saat ini, Tom Cruise, juga tampak berminat untuk ikut serta mengerjakannya. Maka jadilah sebuah sajian penuh spekulasi dari Spielberg yang tampak ingin ikut serta menjawab pertanyaan mendasar di awal tulisan ini tadi. Jawaban seperti apa yang ia hasilkan? Apakah ia berhasil menjawab dengan tepat? Apa pula arti jawaban itu dalam konteks kehidupan saat ini? Semua inilah yang membuat film ini menjadi sangat menarik.

Kecenderungan War of the Worlds untuk menjadi metafisika tampak dari ketidakrepotannya dalam menjelaskan mengenai alien atau makhluk angkasa luar yang menyerang bumi. Film ini dengan tenang dan tanpa kompromi memberi gambaran begitu saja asumsi-asumsi dan spekulasi manusia bahwa bumi ini sedang diincar oleh sekelompok makhluk berintelegensi tinggi untuk dijadikan tempat tinggal. Mereka sudah melakukannya berjuta-juta tahun yang lalu dan tampak sedang menunggu saat yang tepat. Kapan saat yang tepat itu? Tak ada penjelasan. Apakah ia menunggu saat Ray Ferrier (Tom Cruise) sedang mengasuh dua orang anaknya yang berangkat remaja? Kita tak melihat langsung hubungan sebab akibat antara serangan alien itu dengan kehidupan tokoh utama dalam film ini. Kedua peristiwa ini tak berhubungan satu sama lain. Sebuah spekulasi dalam bentuk pertanyaan mungkin saja diajukan dalam melihat penggambaran seperti ini. Apakah hal ini merupakan refleksi atas kegalauan bentuk keluarga di Amerika saat ini menghadapi pertanyaan-pertanyaan tentang kemungkin akhir dunia? Perpecahan keluarga tampak tak berdaya menghadapi rangkaian pertanyaan sulit seputar penyerang bumi, siapa mereka, mengapa mereka menyerang dan seterusnya.

Film ini memang tak memberi penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Satu-satunya penjelasan terhadap pertanyaan-pertanyaan itu berada di luar struktur film dan berbicara langsung terhadap penonton lewat narasi voice over Morgan Freeman yang menjelaskan sesuatu yang sudah harus diterima begitu saja oleh penonton tanpa banyak pertanyaan. Narasi itu menjelaskan bahwa manusia tak percaya bahwa bumi sudah diincar sejak lama oleh makhluk luar angkasa, dan akhirnya makhluk itu akhirnya binasa sejak pertamakali mereka melakukan invasinya. Penjelasan ini begitu kering, tak teruji dan bersifat arbitrer (semena-mena). Film ini tak berniat sama sekali menguji atau pun menjelaskan narasi di awal dan akhir film itu. Semuanya seakan-akan sesuatu yang sudah harus diterima tanpa perlu penjelasan. Sama sifatnya seperti metafisika yang menjadi penjelasan atas segala peristiwa ajaib dan gaib yang terjadi di seputar manusia. Narasi ini akhirnya sejajar sifatnya dengan penjelasan akan keberadaan jin dan makhluk-makhluk supernatural yang berada dalam alam kepercayaan manusia di negeri ini.

Apakah yang diimplikasikan oleh metafisika seperti yang diusulkan oleh Spielberg tersebut? Kepanikan. Panik adalah sebuah kata yang saat ini menguasai alam pikiran Amerika seperti yang digambarkan oleh film tersebut. Sejak serangan pesawat tanggal 11 September 2001, Amerika sebagai sebuah bangsa memang mengalami kepanikan besar yang tak terkira. Inilah pertamakalinya Amerika diserang di tanahnya sendiri oleh sebuah kekuatan yang tak dimengerti oleh mereka. Hal inilah yang direspon oleh pemerintahan Amerika dalam bentuk pre-emptive strikes atau kampanye serangan-serangan militer berupa pencegahan ke Afghanistan dan Irak sesudah peristiwa serangan terhadap gedung World Trade Center itu dengan alasan untuk mencari Usamah bin Ladin. Bangsa Amerika kemudian merespon lagi situasi tak dimengerti itu dengan memilih ulang George W. Bush yang dianggap mampu memberikan keamanan terhadap mereka terhadap kemungkinan serangan itu lagi. Hanya kepastian dan kampanye ofensif yang bisa meredakan kepanikan, dan bukan kebebasan serta demokrasi.

Di manakah demokrasi Amerika pada film ini? Demokrasi tertinggal di belakang layar. “Kita harus menyerang, mencari kelemahan mereka” kata tokoh Harlan Ogilvy (Tim Robbins). Ada dua hal yang tergambar oleh tokoh ini: kepanikan yang mendekati kegilaan dan kekuatan senjata. Ogilvy membuat benteng perlindungan bawah tanah yang aman dan mampu menyelamatkannya dari serangan mematikan makhluk-makhluk luar angkasa itu. Namun ada daya tahan manusia di sini, dan itu tergambar dengan jelas pada tokoh Ogilvy ini yang sudah dekat sekali dengan kegilaan. Ia tak mampu lagi mengukur kekuatan dirinya sendiri dan musuhnya. Pemecahan yang dipikirkannya adalah pemecahan bersenjata, sekalipun hal itu tampak sangat tak masuk akal mengingat musuh yang dihadapi adalah sesuatu yang tak jelas. Hanya satu hal yang jelas olehnya: musuhnya itu berkekuatan sangat besar. Mungkin karena ketidakmengertian sehingga ia mengira kekuatan itu sangat besar, karena toh pada akhirnya musuh tersebut mati dengan sendirinya.

Memang tak ada pre-emptive strike pada film ini. Kepanikan mereka jauh lebih besar untuk bisa mengambil langkah seperti itu. Kepanikan itu terlalu besar untuk dijelaskan oleh akal sehat. Spielberg sempat mengungkapkan sebuah kata kunci yang mengganggu banyak orang di Amerika: terorisme. Sedikitnya dua kali pertanyaan: “apakah ini teroris?” muncul dalam film ini sebagai usaha penjelasan terhadap serangan yang menimpa tanah Amerika sesudah peristiwa 11 September. Pertanyaan itu termentahkan oleh gambaran sangat terus terang oleh Spielberg. Terorisme sama sekali bukan penjelasan bagi kepanikan Amerika, ada sesuatu yang lebih besar yang tak terjelaskan, inilah yang disugestikan oleh Spielberg di sini.

Sugesti ini berasal dari alam pikiran Spielberg sendiri yang sedikit banyaknya juga menjadi alam pikiran bangsa Amerika. Pengalaman mereka terhadap alien serta rangkaian cerita yang bergenerasi sudah memenuhi pengalaman mereka membuat penerimaan terhadap alien sudah tak lagi dipertanyakan oleh sebagian orang. Maka penggambaran alien sebagai penyebab bencana dan kemungkinan penghancuran bumi ini samalah kiranya dengan penggambaran tuyul dan jin sebagai penyebab berbagai peristiwa tak masuk akal di negeri kita. Penggambaran Spielberg dalam film ini memang sedang memilih untuk sebuah metafisika yang mendekati tahyul.

Beberapa kritikus merasa bahwa Spielberg sedang bermain-main dengan alam pikiran Amerika. Terorisme yang mereka rasa sedang mengancam dirasakan terlalu besar untuk diletakkan di bawah sesuatu yang lain: metafisika. Tak semua orang percaya pada metafisika yang diusulkan oleh Spielberg dan merasa bahwa terorisme saja sudah cukup mengerikan dan membawa kepanikan yang tak terperikan. Namun Spielberg merasa bahwa ia berhak untuk mengajukan sebuah pertanyaan lain yang sama besarnya. Ia tahu bahwa ada konteks bagi metafisika yang diajukannya itu. Selebaran-selebaran pencarian orang yang ditempel di sembarang tempat memberikan gambaran akan kota New York pasca serangan 11 September itu. Ia memang menurunkan metafisikanya dalam konteks sesudah serangan 11 September.

Konteks itu digambarkan dengan kepanikan massal suatu bangsa. Kepanikan adalah sesuatu yang secara ironi menjadi semangat bangsa Amerika saat ini dalam mendefinisikan dirinya. Amerika tak pernah terlahir memiliki nasionalisme. Pada bangsa dimana imigran penuh seperti Arnold Schwarzenegger bisa menjadi gubernur ini, nasionalisme adalah semacam lelucon kesiangan. Mereka lebih mengenal patriotisme, sebuah semangat yang lebih aktif ketimbang nasionalisme yang harus lebih dulu ajek mendaku sebuah identitas ketimbang kehendak untuk bertindak. Spielberg memang tak ingin bicara nasionalisme maupun patriotisme. Ia memang hanya sedang berkomentar tentang kepanikan sebagai sebuah mode dalam menjalani hidup. Penyebabnya sesuatu yang tak pasti. Dalam film ini, mungkin penyebabnya adalah makhluk luar angkasa. Mungkin dalam kehidupan lain bernama kehidupan nyata, penyebab itu adalah terorisme. Karena itu terimalah kepanikan itu sebagai sebuah mode menjalani hidup. Sedangkan penjelasannya, Spielberg sudah memilih metafisika, sebuah kenyataan di balik dunia fisik yang kita ketahui dan kita alami.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home