Thursday, July 28, 2005

Menyoal Tema Film Indonesia

Eric Sasono
Dalam sebuah diskusi, seorang teman mengajukan sebuah pertanyaan yang menarik. Dahulu, pada masa Orde Baru, banyak pembuat film mengeluh akan ketiadaan kebebasan. Sehingga mereka tak membuat film yang memuat kritik dan protes, terutama kepada pemerintah. Sekarang jaman sudah berubah. Mengapa mereka tak membuat film-film yang kritis? Mengapa tema yang muncul cenderung itu-itu saja? Mengapa film cinta, film remaja dan film horor yang terus menerus keluar di bioskop?
Sebenarnya itu pertanyaan saya juga. Namun saya ingin merumuskan ulang pertanyaan itu, karena sebenarnya film yang memuat kritik dan protes terhadap pemerintah hanya satu aspek saja dari keragaman tema yang kurang terlihat pada film-film Indonesia. Jika dibatasi pada film yang bernuansa kritik dan protes, kita hanya bicara pada film-film politik atau sosial-politik. Bagi saya film dengan tema politik atau sosial-politik semacam ini adalah bagian dari sebuah political activism. Aktivisme politik yang saya maksud di sini adalah, ketika seorang pembuat film dengan sengaja membuat film dengan maksud membuat representasi kehidupan sosial-politik yang dianggapnya buntu dan patut diterobos. Kehidupan politik dalam konteks negara seperti Indonesia pada masa Orde Baru dapat dianggap sebagai sebuah tabu yang tak bisa dibicarakan secara terbuka. Maka pilihan untuk mengangkat tema politik merupakan bagian dari sikap politik sang pembuat film (sutradara) terhadap kehidupan politik bangsanya.

Bagi saya, tabu politik bukan satu-satunya. Ada tabu sosial dan tabu budaya yang juga patut dipersoalkan. Beberapa masalah sosial dan budaya tergeletak begitu saja dan masyarakat berjalan di atas masalah tersebut tanpa pernah mempersoalkannya. Film Indonesia belakangan ini juga merepresentasikan kecenderungan tak mempersoalkan masalah-masalah itu. Masyarakat dianggap tak bermasalah dan film hanya menyentuh tema-tema pinggiran. Film Indonesia juga sedikit yang menyinggung tema-tema yang mengomentari kehidupan sosial (social commentary) dan kehidupan budaya (cultural commentary). Padahal kehidupan sosial dan kehidupan budaya, ketika dipotret dengan baik dalam film, akan mampu untuk memberi sumbangan penting bagi kehidupan kita sebagai sebuah bangsa. Apakah film-film dengan tema ini juga tak pernah muncul dalam film Indonesia belakangan?
Dengan penjabaran semacam ini, maka pertanyan teman saya akan saya rumuskan ulang. Mengapa tak banyak film yang tema-temanya bersandar pada persoalan-persoalan sosial-politik-budaya yang ada di masyarakatnya? Mengapa representasi kehidupan sosial-politik-budaya di negara bernama Indonesia ini tak pernah tampil dalam pandangan-pandangan yang kritis, atau paling tidak, tidak diterima begitu saja tanpa pertanyaan (taken for granted). Seperti apa saja gambaran kehidupan sosial-budaya-politik negeri ini tampil dalam film? Mengapa para pembuat film cenderung mengulang-ulang tema yang menerima begitu saja kenyataan kehidupan sosial-politik dan budaya bangsa ini?
Proses Representasi
Mengapa seorang pembuat film memutuskan untuk mengangkat tema tertentu dan bukan tema lainnya? Jika melihat kasus demi kasus, alangkah sulitnya menemukan jawaban akan pertanyaan tersebut karena tiap orang berpikir dengan cara berbeda. Mari kita berangkat dari asumsi bahwa film-film Indonesia belakangan memang lebih banyak tak perpersoalkan konteks masyarakat tempat mereka berada. Masyarakat tidak ditampilkan sebagai masyarakat yang bermasalah, dan tema film hanya bersentuhan dengan persoalan-persoalan pinggiran saja. Hal ini tak terlepas dari kecenderungan para pembuat film untuk semata-mata mencari keuntungan dari kegiatan membuat film. Hal ini bukanlah sesuatu yang tak wajar, tetapi kecenderungan seperti ini mengandung implikasi bahwa film melakukan misrepresentasi terhadap masyarakat.
Film bagaimanapun adalah sebuah representasi. Dibandingkan dengan media lain, film memiliki kemampuan untuk meniru kenyataan sedekat mungkin dengan kenyataan sehari-hari. Tentu yang saya maksud di sini adalah film live action (bukan film animasi) sekaligus film yang bercerita (film naratif, lawannya adalah film eksperimental yang tidak mengandung narasi atau cerita). Proses representasi itu diawali dengan cara para pembuat film dalam melihat masyarakatnya. Seperti apakah mereka melihat masyarakat yang akan mereka gambarkan dalam film? Apakah masyarakat itu memiliki masalah atau tidak? Di titik ini penting sekali bagi seorang pembuat film untuk mengenali masyarakatnya. Ia tidak hanya harus memiliki wawasan yang luas terhadap masyarakat tetapi juga harus memiliki keresahan akan masyarakat tersebut. Ia harus mampu melihat kenyataan dan tidak menerimanya begitu saja, melainkan mencoba untuk melihat apa yang di bawah permukaan. Seorang pembuat film harus memiliki perspektif.
Sesudah proses melihat, maka kemudian seorang pembuat film harus membuat rangkaian seleksi. Ia harus memisahkan hal-hal yang dianggap relevan dan tidak relevan untuk kebutuhan ceritanya. Proses seleksi ini sangat tergantung pada perspektif apa yang dimiliki oleh sang pembuat film. Hasil seleksi akan tergantung pada perspektif tersebut. Misalnya apabila seorang pembuat film sejak awal memiliki perspektif yang melihat bahwa orientasi seksual yang normatif adalah heteroseksualitas, maka ia akan menyingkirkan atau memandang rendah kemungkinan adanya tokoh homoseksual dalam filmnya. Atau jika seorang pembuat film sangat memegang norma bahwa bentuk keluarga harus selalu terdiri dari ayah-ibu dan anak(-anak), maka ia akan menyingkirkan atau memandang rendah kehidupan sebuah keluarga dengan orangtua tunggal (single parent). Ini adalah contoh-contoh saja.
Setelah seleksi dilakukan, maka kemudian adalah rekonstruksi. Proses rekonstruksi ini diwujudkan sejak proses penulisan skenario hingga film itu selesai. Proses syuting menjadi proses rekonstruksi yang paling penting. Kedua proses sebelumnya yaitu perspektif dalam melihat masyarakat dan seleksi akan diwujudkan ke dalam bentuk film, sebuah tiruan terhadap kenyataan. Dalam proses terakhir ini terkandung sebuah hal penting yang bernama reka-percaya (make believe). Sang pembuat film harus mampu membuat filmnya mampu dipercaya oleh para penonton. Ia harus membuat gambaran yang adekuat terhadap perspektif dan proses seleksinya. Dan hal ini penuh dengan hal-hal teknis yang sangat detil. Misalnya ketika pembuat film ingin menggambarkan kehidupan orang miskin yang tinggal di emperan jalan, tak mungkin ia memakaikan baju yang selalu bersih kepada pemain filmnya.
Dengan melihat film sebagai proses representasi, kita bisa melihat bahwa banyak persoalan yang melanda para pembuat film Indonesia. Sejak dari proses memandang masyarakat, banyak pembuat film yang tidak berani atau luput melihat masyarakat sebagai sesuatu yang bermasalah. Mereka menerima masyarakat begitu saja seakan segala sesuatu berjalan dengan normal. Apakah penyebabnya?
Kegagalan pembuat film
Masalah kegagalan representasi (misrepresentasi) masyarakat dalam film Indonesia bermula dari kegagalan pembuat film untuk memahami masyarakatnya sendiri. Kegagalan ini berangkat dari sedikitnya dua hal. Pertama adalah kurangnya pengetahuan tentang kehidupan masyarakat. Banyak pembuat film yang terlalu banyak menonton film dan kurang membaca buku mengenai kehidupan sosial, budaya dan politik masyarakat. Hal ini juga terjadi pada kehidupan komikus Indonesia. Para komikus Indonesia belakangan terlalu banyak membaca komik dan kurang mengenali kehidupan masyarakat. Sehingga mereka terus menerus bergulat dengan bentuk-bentuk grafis komik dan tidak kunjung menemukan cerita yang baik yang mampu diterima dengan luas oleh masyarakat. Tampaknya hal ini merupakan hal umum yang terjadi di kalangan banyak kreator di Indonesia.
Kedua adalah kurangnya hasrat untuk menggugat sesuatu yang berangkat dari keresahan mereka sendiri. Berbagai fenomena yang tampak di sekitar pembuat film sebenarnya merupakan material yang sangat kaya untuk dieksplorasi untuk menjadi cerita-cerita yang menarik. Namun tampaknya para pembuat film tidak memiliki dorongan hasrat (passion) untuk memberi komentar atau catatan kaki terhadap hal tersebut. Mereka membiarkannya lewat dan memilih untuk mencari sesuatu yang aman-aman saja. Padahal berbagai fenomena permukaan ini tinggal diikuti dengan riset yang baik akan mampu menghasilkan sebuah tema representasi yang kritis dan menarik.
Kedua hal ini merupakan kegagalan internal dari para pembuat film sendiri. Namun tak bisa dipungkiri bahwa ada hambatan yang bersifat eksternal terhadap munculnya tema-tema yang merepresentasikan kehidupan masyarakat secara kritis. Hambatan itu bernama kepentingan bisnis. Tak bisa dipungkiri bahwa sebuah film merupakan sebuah kegiatan ekonomi yang melibatkan investasi yang besar. Sebuah film dihasilkan dengan menghabiskan uang milyaran rupiah dan diharapkan untuk kembali dalam waktu yang singkat, ini adalah prinsip ekonomi. Dengan kesadaran bahwa film adalah kegiatan bisnis, maka para pembuat film (terutama produser) ingin mengembalikan uang mereka secepatnya dengan keuntungan sebesar-besarnya. Hal ini tidak masalah sepanjang mereka melakukannya tanpa semata-mata mengambil jalan pintas.
Banyak bentuk jalan pintas, salah satunya adalah peniruan. Ketika Petualangan Sherina berhasil mendatangkan keuntungan kotor hingga 10 milyar rupiah kepada produsernya, maka bermunculanlah film-film seperti Petualangan Seratus Jam, Joshua oh Joshua hingga Tina Toon dan Lenong Bocah yang mencoba peruntungan serupa dengan film anak-anak. Demikian pula ketika Ada Apa Dengan Cinta? berhasil meraih 2,6 juta penonton, maka bermunculan film-film remaja sejenis dengan harapan sama beruntungnya dan tak ada yang berhasil kecuali Eiffel I’m in Love yang beruntung meraih 3 juta penonton dan menjadi film nasional dengan penonton di bioskop terbanyak sepanjang masa hingga saat ini. Juga ketika Jelangkung bermodalkan kurang dari 500 juta rupiah menghasilkan keuntungan kotor hingga 11 milyar rupiah, orang berpikir bahwa akan mudah mendapat hal serupa dari film horor. Ternyata tak semudah itu.
Para peniru ini tak sadar bahwa kesuksesan-kesuksesan itu lahir dari kerja keras dan kejelian membaca pasar. Petualangan Sherina, sekalipun sempat ditanggapi dengan sangat pesimis, dikerjakan dengan waktu yang cukup dengan pengerjaan yang sangat baik. Pada film inilah penonton Indonesia percaya bahwa film Indonesia mampu bertutur tidak kalah dengan film-film Hollywood, tentu dengan tema dan persoalan yang khas Indonesia sendiri. Demikian pula kasusnya dengan Ada Apa Dengan Cinta? Jelangkung mencatat keberhasilan lain berupa keberhasilan sosiologis. Film ini mengangkat urban legend, semacam folklore pada masyarakat perkotaan kontemporer, sehingga para penonton sempat memepercayai bahwa hantu yang disyuting oleh film tersebut adalah hantu sungguhan. Apalagi produser film itu, Erwin Arnada, melakukan teknik pemasaran yang jitu. Ia membeli satu tiket dan tak menggunakan tiket tersebut hingga bangku bioskop itu kosong ketika pertunjukan berlangsung. Maka penonton kebingungan mengapa bisa ada bangku kosong di tengah antrean riuh rendah yang sanggup memecahkan kaca jendela sinepleks di sebuah mal di Jakarta Selatan. Maka mereka berspekulasi bahwa bangku kosong itu ditempati hantu yang ingin menonton film itu. Berkembanglah desas-desus ini sehingga orang semakin penasaran untuk menonton dan tembuslah angka satu juta penonton sekalipun film itu hanya diputar di dua sinepleks di Jakarta.
Beberapa film yang patut dicatat
Keberhasilan ekonomi tidak selalu keberhasilan representasi. Film-film sukses di atas juga tak mencatat adanya pandangan kritis terhadap masyarakat. Mereka masih bergulat dengan tema-tema pinggiran dan tak mempersoalkan lingkungan tempat para tokoh dalam film itu tinggal. Hanya saja film-film itu digarap dengan serius atau dipasarkan dengan sangat jitu sehingga berhasil meraih keuntungan yang besar. Hal inilah yang kemudian membuat para peniru dan pencari jalan pintas untuk percaya begitu saja bahwa tema-tema pinggiran semacam inilah yang harus dibuat.
Namun beberapa film mampu menghadirkan representasi yang mempersoalkan masyarakatnya. Paling tidak, dalam film-film ini lingkungan tempat para tokoh ini hidup dipandang tidak sebagai sesuatu yang ideal. Film-film ini mengomentari atau menggugat pandangan-pandangan mapan masyarakat dan para tokohnya terlibat dalam komentar atau gugatan terhadap pandangan-pandangan mapan itu. Saya memang tak berhasil mencatat seluruhnya, tetapi beberapa film ini sudah cukup berhasil dalam mengangkat tema-tema yang tak taken for granted dalam memandang masyarakatnya.
Eliana-eliana (Riri Riza, i-sinema, 2002)
Film ini menggambarkan kehidupan seorang perempuan muda lajang pendatang di Jakarta. Perempuan bernama Eliana ini memiliki persoalan untuk tinggal di Jakarta berupa kemandirian, tempat tinggal dan pekerjaan. Ia bisa bertahan karena dukungan-dukungan dari hubungan-hubungan pertemanan di sana. Hubungan pertemanannya ini kemudian menjadi kritis ketika Heni, teman Eliana itu, mengalami krisis dalam kehidupannya. Eliana terancam untuk kehilangan kemampuannya bertahan di kota keras bernama Jakarta.
Persoalan ini kemudian dibenturkan dengan kedatangan ibunda Eliana dari Padang untuk menjemput anaknya pulang dengan pesawat pertama keesokan harinya. Dengan kedatangan sang ibu, persoalan bergeser menjadi pertarungan ego antara keduanya dengan latar belakang budaya masing-masing. Di satu sisi, Eliana sebagai seorang yang mengalami urbanisasi sedang berada dalam proses pembuktian untuk berhasil hidup di Jakarta sementara sang ibu dengan latar belakang budaya matrilineal Minang berusaha untuk mengembalikan kontrol penuh terhadap anaknya. Film ini berhasil memberikan komentar terhadap kehidupan sosiologis Jakarta dan perbenturan budaya antar generasi. Kehidupan antara perempuan muda pendatang di Jakarta dengan perempuan tua dari generasi yang lebih mapan secara ekonomis dan budaya juga mendapat perhatian yang cukup. Komentar sosiologis dan kultural inilah yang membuat film Eliana-eliana patut untuk dicatat.
Arisan! (Nia Dinata, Kalyana Shira, 2002)
Film peraih Piala Citra pada FFI tahun 2004 ini menggambarkan sebuah social commentary yang agak sinis dan komikal terhadap kehidupan sebagian kaum jetset di Jakarta. Kaum jetset ini bagai hidup di awang-awang dengan kegiatan pertemuan arisan rutin setiap bulan dengan biaya 100 dolar setiap kali arisan. Pada kegiatan arisan tersebut mereka berkumpul membicarakan mengenai fashion, kursus Bahasa Spanyol dengan seorang guru yang tampan sekaligus mereka umumnya sudah berkeluarga. Sutradara film ini, Nia Dinata menyempatkan diri untuk melakukan riset kecil-kecilan memperhatikan perilaku para peserta arisan tingkat tinggi ini.
Film ini juga membenturkan antara pandangan normatif tentang heteroseksual dengan tokoh utama yang sedang berada pada perjalanan menuju homoseksualitas. Perbenturan ini diwakili oleh situasi keluarga sang tokoh utama, Sakti, yang masih memegang nilai-nilai tradisional Batak yang tak kompromis terhadap homoseksualitas. Bahkan Sakti pada saat itu sedang dalam proses dijodohkan dengan pariban-nya. Sekalipun penyelesaian masalah homoseksualitas versus kultur Batak ini digambarkan terlalu mudah, namun konflik semacam ini hadir dengan cukup signifikan.

Virgin (Hanny Saputra, Sinemart, 2004)
Persoalan seksualitas remaja perempuan dan keperawanan mereka diangkat dengan sangat berani dan kontrovresial pada film ini. Para tokoh remaja dalam film ini kebanyakan adalah para remaja perempuan yang tak ragu menjual keperawanan mereka untuk mendapatkan uang. Proses transaksi bahkan dilakukan di sebuah toilet umum di sebuah pusat perbelanjaan. Selanjutnya seksualitas juga ditampilkan berhadapan dengan kegandrungan para remaja perempuan ini untuk berhasil memasuki kehidupan dunia industri audio visual. Dengan sangat cerdas, film ini berhasil menghadirkan contoh kasus dari VCD sabun mandi yang sempat menghebohkan dengan hasrat para remaja itu untuk bisa berhasil memasuki dunia industri audio visual. Pertukaran-pertukaran antara tiket masuk industri audio visual dengan seks digambarkan dengan sangat banal dan terus terang tanpa keraguan sedikitpun.
Sayangnya Virgin punya kelemahan mendasar dalam membangun reka-percaya. Banyak peristiwa dalam film ini yang tak dibangun dengan cukup meyakinkan dan membuat penonton menertawakan adegan-adegan yang seharusnya tak lucu. Namun menurut saya keberanian Virgin menabrak tabu seksualitas dan keperawanan dengan sangat entengnya merupakan sebuah gugatan yang sangat serius yang seharusnya mendapat perhatian lebih besar.

Ketika (Deddy Mizwar, Demi Gisela Film, 2004)
Film ini dibuka dengan caption (tulisan di layar) “Peristiwa ini terjadi KETIKA hukum ditegakkan di negeri ini.” Jelas sekali dengan tulisan ini, pembuat film ini meniatkan film ini menjadi sebuah sindiran yang sangat serius bahwa hukum memang belum ditegakkan di negeri ini. Dan menurut saya sindiran itu berhasil dengan sangat mengena. Film ini diawali dengan bunuh dirinya para konglomerat akibat jatuh miskinnya mereka setelah harta mereka semua disita untuk pengembalian utang mereka yang jatuh tempo. Mereka benar-benar melarat hingga pakaian di badan pun merupakan milik negara yang dipinjamkan selama setahun kepada mereka sampai mereka bisa hidup dengan layak lagi. Tokoh utama dalam film ini juga mengalami hal serupa, namun ia gagal bunuh diri. Kemudian ia harus menjalani hidup dari awal lagi sebagai orang miskin yang tak punya apa-apa sama sekali.
Kemudian digambarkan betapa hukum benar-benar dijalankan dengan ketat dengan seluruh sistem yang berjalan dengan baik sehingga proses konglomerat itu untuk kembali pada kehidupan normal menjadi sebuah proses yang penuh parodi jika dibandingkan dengan kenyataan yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Film ini sudah sangat berhasil menggambarkan parodi politik dengan nuansa komedi.
Catatan Akhir Sekolah (Hanung Bramantyo, ReXinema, 2005)
Apakah sekolah sesuatu yang ideal? Tidak dalam film ini. Film ini menggambarkan bahwa sekolah sebagai sebuah komunitas yang liar dan tak terkendali. Murid-murid di sekolah digambarkan sebagai anak-anak yang selalu menemukan cara untuk mencontek, bolos sekolah, melihat gambar-gambar porno di dalam kelas, bertengkar atau nyaris berkelahi karena alasan sepele dan hal-hal semacam itu. Bagaimana dengan para guru? Mereka tak mendapatkan porsi yang cukup kecuali sang kepala sekolah. Kepala sekolah digambarkan sebagai seorang yang korup dan gemar menggoda murid-murid perempuan cantik di sekolah tersebut.
Berbeda dengan kebanyakan film remaja, film ini tidak sekadar menjadikan sekolah sebagai latar belakang kisah cinta tetapi benar-benar menggambarkan kehidupan sekolah tersebut. Dan lebih dari sekadar menggambarkan sekolah, film ini juga menggambarkan persoalan-persoalan kehidupan sekolah, tidak hanya aspek idealnya saja. Tentu kisah cinta juga termasuk di dalamnya, namun hal ini menjadi bagian dari persoalan kehidupan sekolah saja, dan tidak menjadi tema utama film tersebut.
Gie (Riri Riza, Miles Film, 2005)
Gie merupakan jawaban paling tuntas atas pertanyaan teman saya di atas. Film ini merupakan sebuah film biografi dari salah satu tokoh gerakan mahasiswa tahun 1966, Soe Hok Gie yang diangkat dari buku Catatan Harian Seorang Demonstran yang ditulisnya. Konteks cerita film itu sendiri merupakan periode waktu dimana pergulatan politik Indonesia sedang berada titk kulminasi paling tingginya dalam sejarah kontemporer bangsa ini. Soe Hok Gie merupakan sosok cendekiawan yang sejak masa kecilnya sudah berdiri dan berteriak lantang atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Ketika memasuki masa mahasiswa, ia meneruskan hal tersebut dengan terus menulis mengenai kondisi politik sekitar akhir tahun 1950-an hingga tahun 1966 dan sesudahnya yang dianggapnya penuh penyimpangan, kesewenang-wenangan dan korupsi.
Yang menarik dari film ini justru adalah pemberian konteks sosial politik pada tokoh Soe Hok Gie. Film ini dibuka dengan caption (tulisan di layar) yang menyebutkan bahwa dunia sedang berada dalam Perang Dingin dan Indonesia berada di tengah-tengahnya. Semua orang bagai menunggu akan kemana Soekarno, Presiden Indonesia waktu itu, akan berpihak. Dengan permulaan seperti itu, film ini jadi sarat akan muatan politik dan ideologi. Soe Hok Gie mencerminkan pergulatan itu dari sudut pandang seorang yang berpikiran lurus dan setia selalu pada pikiran lurusnya itu. Maka ketika perjuangan menumbangkan Soekarno berhasil, Soe Hok Gie diliputi rasa bersalah karena yang muncul memimpin bangsa ini dalam anggapannya justru adalah tentara. Ini adalah sebuah representasi yang sangat penting akan kepolitikan masa itu dan cerminannya pada perpolitikan Indonesia kontemporer sekarang ini.
Cerminan yang lebih penting lagi adalah pada caption pada akhir film. Caption itu mengatakan bahwa Orde Baru akhirnya tumbang setelah 32 tahun berkuasa. Namun impian Soe Hok Gie tentang Indonesia yang adil, demokratis dan bersih dari korupsi belum terwujud sampai sekarang. Ini adalah sebuah pernyataan politik paling terang-terangan yang pernah dibuat oleh seorang pembuat film di negeri ini! Sekalipun film Gie sendiri mengambil setting waktu periode 1950-an hingga 1969, namun persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Soe Hok Gie masih bisa dilihat refleksinya pada kehidupan sekarang. Dan Riri Riza, sang sutradara film itu secara langsung dan terus terang menyebutkankan hal tersebut sebagai penutup filmnya.

Memang tak semua film merupakan jawaban atas pertanyaan tentang representasi yang kritis tentang kehidupan masyarakat Indonesia tetapi film-film ini mencoba tidak menerima begitu saja segala sesuatu yang tampak di permukaan. Namun dengan besar hati saya merasa bahwa Gie sudah berhasil menjawab pertanyaan ini dengan sangat telaknya. Sayangnya pada film-film ini sambutan penonton tampak tidak terlalu antusias. Hanya Arisan! dan Virgin yang berhasil mencuri perhatian penonton, tetapi film-film lainnya gagal di pasaran. Sampai tulisan ini dibuat, saya belum tahu bagaimana nasib peruntungan film Gie dalam hitungan jumlah penontonnya.
Apakah memang tema-tema ini merupakan tema yang tidak laku sehingga akhirnya membenarkan pikiran untuk tidak membuat film dengan tema-tema seperti ini? Bagi saya hal tersebut bukanlah sebuah bukti. Atau paling tidak, dibutuhkan studi lebih serius untuk menjawab hipotesa tersebut. Saya sendiri ingin berpihak pada film-film semacam ini untuk diberi kesempatan lebih besar hadir kepada penonton.
Tulisan ini pernah dimuat di majalah F, edisi 1, Juli 2005

1 Comments:

Blogger XiaoLing said...

good reviews, bro!!

Saya blh jadikan review soe hok gie utk presentasi di kmpus sy ya?? Tp saya bukan co-pas lohh.. hehe

thanks ^^

10:53 PM  

Post a Comment

<< Home