Wednesday, July 20, 2005

Cermin Bernama Gie

Eric Sasono

Film, sebagaimana media lain, merupakan cermin dari masyarakatnya. Membuat film adalah usaha untuk memandang, menyeleksi dan merekonstruksi pandangan dalam masyarakat yang dianggap penting oleh para pembuat filmnya. Dengan demikian, sajian tema dalam film tak bisa dipandang sebagai sesuatu yang bisa diterima begitu saja. Sebagai pilihan, tema itu selalu berkaitan dengan pandangan dominan atau pandangan alternatif terhadap kenyataan yang dilihat dan dihadapi oleh para pembuat film tersebut.

Namun proses membuat film juga tak pernah terjadi di ruang kosong. Selalu ada konteks politik, budaya dan ekonomi bagi lahirnya sebuah film. Konteks ini saling berjalin menentukan proses produksi termasuk cara pandang sang pembuat film. Gie tampak menonjol dalam konteks politik dan ekonominya. Secara politik, pemilihan tokoh Soe Hok Gie untuk dijadikan biografi merupakan sesuatu yang berani mengingat tema politik merupakan tema yang tak banyak disentuh pembuat film lain dan dipandang tak laku secara ekonomi.

Film ini menyinggung sebuah periode penting sejarah bangsa ini yaitu seputar tahun 1966 ketika Presiden Soekarno sedang dijatuhkan oleh para mahasiswa yang salah satu tokohnya adalah Soe Hok Gie. Singgungan terhadap konteks politik cerita dalam film itu akhirnya menjadi semacam refleksi bagi konteks politik kontemporer. Ketika menonton film ini, saya teringat bagaimana mahasiswa tahun 1998 berjuang untuk menjatuhkan Soeharto. Ada kemiripan suasana emosional di situ. Bahkan pembuat film ini dengan lebih tegas lagi pada akhir film menyatakan bahwa apa yang dicita-citakan Soe Hok Gie sebagai Indonesia yang adil dan bersih dari korupsi belum terwujud sampai sekarang. Ini adalah sebuah pernyataan paling tegas dari sebuah film Indonesia dalam sepanjang sejarahnya.

Terobosan lain adalah dalam penggambaran simbol-simbol Partai Komunis Indonesia. Sebelum 1999, penggambaran lambang palu arit atau pemutaran lagu Genjer-genjer yang menjadi simbol bagi PKI dilarang sama sekali. Film ini menyajikan simbol-simbol tersebut secara terbuka. Hal ini menjadi semacam tonggak bahwa simbol-simbol PKI tak lagi menjadi tabu politik yang menakutkan. Sedikit banyaknya hal ini menjadi cermin dari sesuatu yang lebih luas yang bernama kebebasan berekspresi dalam hal yang spesifik ini. Perluasan ke bidang seperti seks, agama atau kritik terhadap birokrasi masih ditunggu mengingat hal-hal tersebut masih terlarang dalam UU Film yang hingga kini belum dicabut.

Konteks politik sedemikian di atas menarik jika dibandingkan dengan konteks ekonomi film ini. Sedikitnya ada dua hal yang sempat mengundang banyak perdebatan. Pertama adalah keterlibatan sebuah perusahaan rokok dalam promosi Gie, dan kedua adalah pemilihan aktor Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie yang berkesan sebagai sebuah usaha untuk “berjualan”. Kedua hal ini menyebabkan Gie dipandang sebagai semata-mata sebuah cara berbeda dalam berjualan produk film. Jika selama ini para pembuat film berjualan lewat tema remaja atau cinta, kini tema politiklah yang dijual. Itu saja.

Melekatnya sponsor perusahaan rokok itu dipandang sebagai sebuah kekeliruan dalam melihat semangat Soe Hok Gie yang merupakan seorang intelektual yang berjuang di atas kelurusan pikirannya sendiri tanpa bergantung pada kekuatan-kekuatan yang mapan. Sedangkan pemilihan Nicholas Saputra untuk memerankan Soe Hok Gie terlihat sebagai sebuah upaya yang canggung karena “kegagalan” menemukan pemain etnis Cina untuk memerankan Soe Hok Gie. Selain itu pemilihan ini merupakan sebuah upaya untuk tetap memakai bintang film laki-laki nomer satu di Indonesia selama ini yang tentu akan mendatangkan penggemarnya untuk menonton.

Kritik semacam ini jadi menonjol mengingat konteks bagi film ini yang sangat penting. Film Gie sendiri punya kelemahan ketika Riri Riza, sang sutradara, mencoba mendekati narasinya lewat penjabaran periode demi periode waktu kehidupan Soe Hok Gie. Hal ini tak terhindarkan mengingat film biografi selalu punya karakter seperti itu. Pertama, film biografi akan cenderung menghilangkan atau mensubordinasi pandangan-pandangan atau peristiwa yang berbeda dengan pandangan tokoh yang dibiografikan. Kedua, penjelasan karakter tokoh yang dibiografikan lewat latar belakang keluarga, pendidikan dan sebagainya akan membuat dia teristimewakan bahkan terkultuskan. Ketiga, kebutuhan penjelasan periode waktu akan membuat drama dalam kisah hidup si tokoh menjadi hilang atau kabur. Gie terkena persoalan-persoalan ini sehingga aksesabilitas film ini kepada penonton yang luas jadi terbatasi.
Namun, seperti yang saya sebutkan di atas, kontekslah yang membuat film Gie menjadi sesuatu yang penting di negeri ini. Riri Riza dan produsernya Mira Lesmana tampak menjadi seperti Soe Hok Gie yang memperjuangkan kondisi bangsa ini lewat karya-karyanya. Maka konteks ekonomi yang mereka lalui dalam proses produksi film ini, termasuk pemilihan Nicholas Saputra dan sponsor perusahaan rokok, menjadi bagian tak terpisahkan dari film ini untuk berjuang dalam konteks kehidupan Indonesia kontemporer, terutama dalam soal pembuatan film.

Dalam persilangan antara konteks politik dan ekonomi semacam inilah Gie lahir. Pada masa Soe Hok Gie berjuang, mungkin ia adalah seorang intelektual bebas yang terlepas dari kekuatan-kekuatan mapan. Namun jaman berubah. Bisa jadi tokoh semacam Gie kini harus muncul dari sebuah kegiatan yang tersponsori oleh korporasi raksasa semacam perusahaan rokok. Atau ia sudah harus menjadi seorang selebritas yang diidolakan sebelum bisa benar-benar didengar suaranya. Akhirnya jika kita percaya bahwa proses memproduksi film merupakan cermin bangsa ini secara lebih besar, siapkah kita melihat wajah sendiri di cermin seperti ini?
Tulisan ini dimuat di Majalah Gatra, edisi No.36 tahun XI, 23 Juli 2005

1 Comments:

Blogger cupcake said...

Blognya sangat informatif.
Salam,
Santy - IdeBaru.com

9:11 PM  

Post a Comment

<< Home