Thursday, July 28, 2005

Menyoal Tema Film Indonesia

Eric Sasono
Dalam sebuah diskusi, seorang teman mengajukan sebuah pertanyaan yang menarik. Dahulu, pada masa Orde Baru, banyak pembuat film mengeluh akan ketiadaan kebebasan. Sehingga mereka tak membuat film yang memuat kritik dan protes, terutama kepada pemerintah. Sekarang jaman sudah berubah. Mengapa mereka tak membuat film-film yang kritis? Mengapa tema yang muncul cenderung itu-itu saja? Mengapa film cinta, film remaja dan film horor yang terus menerus keluar di bioskop?
Sebenarnya itu pertanyaan saya juga. Namun saya ingin merumuskan ulang pertanyaan itu, karena sebenarnya film yang memuat kritik dan protes terhadap pemerintah hanya satu aspek saja dari keragaman tema yang kurang terlihat pada film-film Indonesia. Jika dibatasi pada film yang bernuansa kritik dan protes, kita hanya bicara pada film-film politik atau sosial-politik. Bagi saya film dengan tema politik atau sosial-politik semacam ini adalah bagian dari sebuah political activism. Aktivisme politik yang saya maksud di sini adalah, ketika seorang pembuat film dengan sengaja membuat film dengan maksud membuat representasi kehidupan sosial-politik yang dianggapnya buntu dan patut diterobos. Kehidupan politik dalam konteks negara seperti Indonesia pada masa Orde Baru dapat dianggap sebagai sebuah tabu yang tak bisa dibicarakan secara terbuka. Maka pilihan untuk mengangkat tema politik merupakan bagian dari sikap politik sang pembuat film (sutradara) terhadap kehidupan politik bangsanya.

Bagi saya, tabu politik bukan satu-satunya. Ada tabu sosial dan tabu budaya yang juga patut dipersoalkan. Beberapa masalah sosial dan budaya tergeletak begitu saja dan masyarakat berjalan di atas masalah tersebut tanpa pernah mempersoalkannya. Film Indonesia belakangan ini juga merepresentasikan kecenderungan tak mempersoalkan masalah-masalah itu. Masyarakat dianggap tak bermasalah dan film hanya menyentuh tema-tema pinggiran. Film Indonesia juga sedikit yang menyinggung tema-tema yang mengomentari kehidupan sosial (social commentary) dan kehidupan budaya (cultural commentary). Padahal kehidupan sosial dan kehidupan budaya, ketika dipotret dengan baik dalam film, akan mampu untuk memberi sumbangan penting bagi kehidupan kita sebagai sebuah bangsa. Apakah film-film dengan tema ini juga tak pernah muncul dalam film Indonesia belakangan?
Dengan penjabaran semacam ini, maka pertanyan teman saya akan saya rumuskan ulang. Mengapa tak banyak film yang tema-temanya bersandar pada persoalan-persoalan sosial-politik-budaya yang ada di masyarakatnya? Mengapa representasi kehidupan sosial-politik-budaya di negara bernama Indonesia ini tak pernah tampil dalam pandangan-pandangan yang kritis, atau paling tidak, tidak diterima begitu saja tanpa pertanyaan (taken for granted). Seperti apa saja gambaran kehidupan sosial-budaya-politik negeri ini tampil dalam film? Mengapa para pembuat film cenderung mengulang-ulang tema yang menerima begitu saja kenyataan kehidupan sosial-politik dan budaya bangsa ini?
Proses Representasi
Mengapa seorang pembuat film memutuskan untuk mengangkat tema tertentu dan bukan tema lainnya? Jika melihat kasus demi kasus, alangkah sulitnya menemukan jawaban akan pertanyaan tersebut karena tiap orang berpikir dengan cara berbeda. Mari kita berangkat dari asumsi bahwa film-film Indonesia belakangan memang lebih banyak tak perpersoalkan konteks masyarakat tempat mereka berada. Masyarakat tidak ditampilkan sebagai masyarakat yang bermasalah, dan tema film hanya bersentuhan dengan persoalan-persoalan pinggiran saja. Hal ini tak terlepas dari kecenderungan para pembuat film untuk semata-mata mencari keuntungan dari kegiatan membuat film. Hal ini bukanlah sesuatu yang tak wajar, tetapi kecenderungan seperti ini mengandung implikasi bahwa film melakukan misrepresentasi terhadap masyarakat.
Film bagaimanapun adalah sebuah representasi. Dibandingkan dengan media lain, film memiliki kemampuan untuk meniru kenyataan sedekat mungkin dengan kenyataan sehari-hari. Tentu yang saya maksud di sini adalah film live action (bukan film animasi) sekaligus film yang bercerita (film naratif, lawannya adalah film eksperimental yang tidak mengandung narasi atau cerita). Proses representasi itu diawali dengan cara para pembuat film dalam melihat masyarakatnya. Seperti apakah mereka melihat masyarakat yang akan mereka gambarkan dalam film? Apakah masyarakat itu memiliki masalah atau tidak? Di titik ini penting sekali bagi seorang pembuat film untuk mengenali masyarakatnya. Ia tidak hanya harus memiliki wawasan yang luas terhadap masyarakat tetapi juga harus memiliki keresahan akan masyarakat tersebut. Ia harus mampu melihat kenyataan dan tidak menerimanya begitu saja, melainkan mencoba untuk melihat apa yang di bawah permukaan. Seorang pembuat film harus memiliki perspektif.
Sesudah proses melihat, maka kemudian seorang pembuat film harus membuat rangkaian seleksi. Ia harus memisahkan hal-hal yang dianggap relevan dan tidak relevan untuk kebutuhan ceritanya. Proses seleksi ini sangat tergantung pada perspektif apa yang dimiliki oleh sang pembuat film. Hasil seleksi akan tergantung pada perspektif tersebut. Misalnya apabila seorang pembuat film sejak awal memiliki perspektif yang melihat bahwa orientasi seksual yang normatif adalah heteroseksualitas, maka ia akan menyingkirkan atau memandang rendah kemungkinan adanya tokoh homoseksual dalam filmnya. Atau jika seorang pembuat film sangat memegang norma bahwa bentuk keluarga harus selalu terdiri dari ayah-ibu dan anak(-anak), maka ia akan menyingkirkan atau memandang rendah kehidupan sebuah keluarga dengan orangtua tunggal (single parent). Ini adalah contoh-contoh saja.
Setelah seleksi dilakukan, maka kemudian adalah rekonstruksi. Proses rekonstruksi ini diwujudkan sejak proses penulisan skenario hingga film itu selesai. Proses syuting menjadi proses rekonstruksi yang paling penting. Kedua proses sebelumnya yaitu perspektif dalam melihat masyarakat dan seleksi akan diwujudkan ke dalam bentuk film, sebuah tiruan terhadap kenyataan. Dalam proses terakhir ini terkandung sebuah hal penting yang bernama reka-percaya (make believe). Sang pembuat film harus mampu membuat filmnya mampu dipercaya oleh para penonton. Ia harus membuat gambaran yang adekuat terhadap perspektif dan proses seleksinya. Dan hal ini penuh dengan hal-hal teknis yang sangat detil. Misalnya ketika pembuat film ingin menggambarkan kehidupan orang miskin yang tinggal di emperan jalan, tak mungkin ia memakaikan baju yang selalu bersih kepada pemain filmnya.
Dengan melihat film sebagai proses representasi, kita bisa melihat bahwa banyak persoalan yang melanda para pembuat film Indonesia. Sejak dari proses memandang masyarakat, banyak pembuat film yang tidak berani atau luput melihat masyarakat sebagai sesuatu yang bermasalah. Mereka menerima masyarakat begitu saja seakan segala sesuatu berjalan dengan normal. Apakah penyebabnya?
Kegagalan pembuat film
Masalah kegagalan representasi (misrepresentasi) masyarakat dalam film Indonesia bermula dari kegagalan pembuat film untuk memahami masyarakatnya sendiri. Kegagalan ini berangkat dari sedikitnya dua hal. Pertama adalah kurangnya pengetahuan tentang kehidupan masyarakat. Banyak pembuat film yang terlalu banyak menonton film dan kurang membaca buku mengenai kehidupan sosial, budaya dan politik masyarakat. Hal ini juga terjadi pada kehidupan komikus Indonesia. Para komikus Indonesia belakangan terlalu banyak membaca komik dan kurang mengenali kehidupan masyarakat. Sehingga mereka terus menerus bergulat dengan bentuk-bentuk grafis komik dan tidak kunjung menemukan cerita yang baik yang mampu diterima dengan luas oleh masyarakat. Tampaknya hal ini merupakan hal umum yang terjadi di kalangan banyak kreator di Indonesia.
Kedua adalah kurangnya hasrat untuk menggugat sesuatu yang berangkat dari keresahan mereka sendiri. Berbagai fenomena yang tampak di sekitar pembuat film sebenarnya merupakan material yang sangat kaya untuk dieksplorasi untuk menjadi cerita-cerita yang menarik. Namun tampaknya para pembuat film tidak memiliki dorongan hasrat (passion) untuk memberi komentar atau catatan kaki terhadap hal tersebut. Mereka membiarkannya lewat dan memilih untuk mencari sesuatu yang aman-aman saja. Padahal berbagai fenomena permukaan ini tinggal diikuti dengan riset yang baik akan mampu menghasilkan sebuah tema representasi yang kritis dan menarik.
Kedua hal ini merupakan kegagalan internal dari para pembuat film sendiri. Namun tak bisa dipungkiri bahwa ada hambatan yang bersifat eksternal terhadap munculnya tema-tema yang merepresentasikan kehidupan masyarakat secara kritis. Hambatan itu bernama kepentingan bisnis. Tak bisa dipungkiri bahwa sebuah film merupakan sebuah kegiatan ekonomi yang melibatkan investasi yang besar. Sebuah film dihasilkan dengan menghabiskan uang milyaran rupiah dan diharapkan untuk kembali dalam waktu yang singkat, ini adalah prinsip ekonomi. Dengan kesadaran bahwa film adalah kegiatan bisnis, maka para pembuat film (terutama produser) ingin mengembalikan uang mereka secepatnya dengan keuntungan sebesar-besarnya. Hal ini tidak masalah sepanjang mereka melakukannya tanpa semata-mata mengambil jalan pintas.
Banyak bentuk jalan pintas, salah satunya adalah peniruan. Ketika Petualangan Sherina berhasil mendatangkan keuntungan kotor hingga 10 milyar rupiah kepada produsernya, maka bermunculanlah film-film seperti Petualangan Seratus Jam, Joshua oh Joshua hingga Tina Toon dan Lenong Bocah yang mencoba peruntungan serupa dengan film anak-anak. Demikian pula ketika Ada Apa Dengan Cinta? berhasil meraih 2,6 juta penonton, maka bermunculan film-film remaja sejenis dengan harapan sama beruntungnya dan tak ada yang berhasil kecuali Eiffel I’m in Love yang beruntung meraih 3 juta penonton dan menjadi film nasional dengan penonton di bioskop terbanyak sepanjang masa hingga saat ini. Juga ketika Jelangkung bermodalkan kurang dari 500 juta rupiah menghasilkan keuntungan kotor hingga 11 milyar rupiah, orang berpikir bahwa akan mudah mendapat hal serupa dari film horor. Ternyata tak semudah itu.
Para peniru ini tak sadar bahwa kesuksesan-kesuksesan itu lahir dari kerja keras dan kejelian membaca pasar. Petualangan Sherina, sekalipun sempat ditanggapi dengan sangat pesimis, dikerjakan dengan waktu yang cukup dengan pengerjaan yang sangat baik. Pada film inilah penonton Indonesia percaya bahwa film Indonesia mampu bertutur tidak kalah dengan film-film Hollywood, tentu dengan tema dan persoalan yang khas Indonesia sendiri. Demikian pula kasusnya dengan Ada Apa Dengan Cinta? Jelangkung mencatat keberhasilan lain berupa keberhasilan sosiologis. Film ini mengangkat urban legend, semacam folklore pada masyarakat perkotaan kontemporer, sehingga para penonton sempat memepercayai bahwa hantu yang disyuting oleh film tersebut adalah hantu sungguhan. Apalagi produser film itu, Erwin Arnada, melakukan teknik pemasaran yang jitu. Ia membeli satu tiket dan tak menggunakan tiket tersebut hingga bangku bioskop itu kosong ketika pertunjukan berlangsung. Maka penonton kebingungan mengapa bisa ada bangku kosong di tengah antrean riuh rendah yang sanggup memecahkan kaca jendela sinepleks di sebuah mal di Jakarta Selatan. Maka mereka berspekulasi bahwa bangku kosong itu ditempati hantu yang ingin menonton film itu. Berkembanglah desas-desus ini sehingga orang semakin penasaran untuk menonton dan tembuslah angka satu juta penonton sekalipun film itu hanya diputar di dua sinepleks di Jakarta.
Beberapa film yang patut dicatat
Keberhasilan ekonomi tidak selalu keberhasilan representasi. Film-film sukses di atas juga tak mencatat adanya pandangan kritis terhadap masyarakat. Mereka masih bergulat dengan tema-tema pinggiran dan tak mempersoalkan lingkungan tempat para tokoh dalam film itu tinggal. Hanya saja film-film itu digarap dengan serius atau dipasarkan dengan sangat jitu sehingga berhasil meraih keuntungan yang besar. Hal inilah yang kemudian membuat para peniru dan pencari jalan pintas untuk percaya begitu saja bahwa tema-tema pinggiran semacam inilah yang harus dibuat.
Namun beberapa film mampu menghadirkan representasi yang mempersoalkan masyarakatnya. Paling tidak, dalam film-film ini lingkungan tempat para tokoh ini hidup dipandang tidak sebagai sesuatu yang ideal. Film-film ini mengomentari atau menggugat pandangan-pandangan mapan masyarakat dan para tokohnya terlibat dalam komentar atau gugatan terhadap pandangan-pandangan mapan itu. Saya memang tak berhasil mencatat seluruhnya, tetapi beberapa film ini sudah cukup berhasil dalam mengangkat tema-tema yang tak taken for granted dalam memandang masyarakatnya.
Eliana-eliana (Riri Riza, i-sinema, 2002)
Film ini menggambarkan kehidupan seorang perempuan muda lajang pendatang di Jakarta. Perempuan bernama Eliana ini memiliki persoalan untuk tinggal di Jakarta berupa kemandirian, tempat tinggal dan pekerjaan. Ia bisa bertahan karena dukungan-dukungan dari hubungan-hubungan pertemanan di sana. Hubungan pertemanannya ini kemudian menjadi kritis ketika Heni, teman Eliana itu, mengalami krisis dalam kehidupannya. Eliana terancam untuk kehilangan kemampuannya bertahan di kota keras bernama Jakarta.
Persoalan ini kemudian dibenturkan dengan kedatangan ibunda Eliana dari Padang untuk menjemput anaknya pulang dengan pesawat pertama keesokan harinya. Dengan kedatangan sang ibu, persoalan bergeser menjadi pertarungan ego antara keduanya dengan latar belakang budaya masing-masing. Di satu sisi, Eliana sebagai seorang yang mengalami urbanisasi sedang berada dalam proses pembuktian untuk berhasil hidup di Jakarta sementara sang ibu dengan latar belakang budaya matrilineal Minang berusaha untuk mengembalikan kontrol penuh terhadap anaknya. Film ini berhasil memberikan komentar terhadap kehidupan sosiologis Jakarta dan perbenturan budaya antar generasi. Kehidupan antara perempuan muda pendatang di Jakarta dengan perempuan tua dari generasi yang lebih mapan secara ekonomis dan budaya juga mendapat perhatian yang cukup. Komentar sosiologis dan kultural inilah yang membuat film Eliana-eliana patut untuk dicatat.
Arisan! (Nia Dinata, Kalyana Shira, 2002)
Film peraih Piala Citra pada FFI tahun 2004 ini menggambarkan sebuah social commentary yang agak sinis dan komikal terhadap kehidupan sebagian kaum jetset di Jakarta. Kaum jetset ini bagai hidup di awang-awang dengan kegiatan pertemuan arisan rutin setiap bulan dengan biaya 100 dolar setiap kali arisan. Pada kegiatan arisan tersebut mereka berkumpul membicarakan mengenai fashion, kursus Bahasa Spanyol dengan seorang guru yang tampan sekaligus mereka umumnya sudah berkeluarga. Sutradara film ini, Nia Dinata menyempatkan diri untuk melakukan riset kecil-kecilan memperhatikan perilaku para peserta arisan tingkat tinggi ini.
Film ini juga membenturkan antara pandangan normatif tentang heteroseksual dengan tokoh utama yang sedang berada pada perjalanan menuju homoseksualitas. Perbenturan ini diwakili oleh situasi keluarga sang tokoh utama, Sakti, yang masih memegang nilai-nilai tradisional Batak yang tak kompromis terhadap homoseksualitas. Bahkan Sakti pada saat itu sedang dalam proses dijodohkan dengan pariban-nya. Sekalipun penyelesaian masalah homoseksualitas versus kultur Batak ini digambarkan terlalu mudah, namun konflik semacam ini hadir dengan cukup signifikan.

Virgin (Hanny Saputra, Sinemart, 2004)
Persoalan seksualitas remaja perempuan dan keperawanan mereka diangkat dengan sangat berani dan kontrovresial pada film ini. Para tokoh remaja dalam film ini kebanyakan adalah para remaja perempuan yang tak ragu menjual keperawanan mereka untuk mendapatkan uang. Proses transaksi bahkan dilakukan di sebuah toilet umum di sebuah pusat perbelanjaan. Selanjutnya seksualitas juga ditampilkan berhadapan dengan kegandrungan para remaja perempuan ini untuk berhasil memasuki kehidupan dunia industri audio visual. Dengan sangat cerdas, film ini berhasil menghadirkan contoh kasus dari VCD sabun mandi yang sempat menghebohkan dengan hasrat para remaja itu untuk bisa berhasil memasuki dunia industri audio visual. Pertukaran-pertukaran antara tiket masuk industri audio visual dengan seks digambarkan dengan sangat banal dan terus terang tanpa keraguan sedikitpun.
Sayangnya Virgin punya kelemahan mendasar dalam membangun reka-percaya. Banyak peristiwa dalam film ini yang tak dibangun dengan cukup meyakinkan dan membuat penonton menertawakan adegan-adegan yang seharusnya tak lucu. Namun menurut saya keberanian Virgin menabrak tabu seksualitas dan keperawanan dengan sangat entengnya merupakan sebuah gugatan yang sangat serius yang seharusnya mendapat perhatian lebih besar.

Ketika (Deddy Mizwar, Demi Gisela Film, 2004)
Film ini dibuka dengan caption (tulisan di layar) “Peristiwa ini terjadi KETIKA hukum ditegakkan di negeri ini.” Jelas sekali dengan tulisan ini, pembuat film ini meniatkan film ini menjadi sebuah sindiran yang sangat serius bahwa hukum memang belum ditegakkan di negeri ini. Dan menurut saya sindiran itu berhasil dengan sangat mengena. Film ini diawali dengan bunuh dirinya para konglomerat akibat jatuh miskinnya mereka setelah harta mereka semua disita untuk pengembalian utang mereka yang jatuh tempo. Mereka benar-benar melarat hingga pakaian di badan pun merupakan milik negara yang dipinjamkan selama setahun kepada mereka sampai mereka bisa hidup dengan layak lagi. Tokoh utama dalam film ini juga mengalami hal serupa, namun ia gagal bunuh diri. Kemudian ia harus menjalani hidup dari awal lagi sebagai orang miskin yang tak punya apa-apa sama sekali.
Kemudian digambarkan betapa hukum benar-benar dijalankan dengan ketat dengan seluruh sistem yang berjalan dengan baik sehingga proses konglomerat itu untuk kembali pada kehidupan normal menjadi sebuah proses yang penuh parodi jika dibandingkan dengan kenyataan yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Film ini sudah sangat berhasil menggambarkan parodi politik dengan nuansa komedi.
Catatan Akhir Sekolah (Hanung Bramantyo, ReXinema, 2005)
Apakah sekolah sesuatu yang ideal? Tidak dalam film ini. Film ini menggambarkan bahwa sekolah sebagai sebuah komunitas yang liar dan tak terkendali. Murid-murid di sekolah digambarkan sebagai anak-anak yang selalu menemukan cara untuk mencontek, bolos sekolah, melihat gambar-gambar porno di dalam kelas, bertengkar atau nyaris berkelahi karena alasan sepele dan hal-hal semacam itu. Bagaimana dengan para guru? Mereka tak mendapatkan porsi yang cukup kecuali sang kepala sekolah. Kepala sekolah digambarkan sebagai seorang yang korup dan gemar menggoda murid-murid perempuan cantik di sekolah tersebut.
Berbeda dengan kebanyakan film remaja, film ini tidak sekadar menjadikan sekolah sebagai latar belakang kisah cinta tetapi benar-benar menggambarkan kehidupan sekolah tersebut. Dan lebih dari sekadar menggambarkan sekolah, film ini juga menggambarkan persoalan-persoalan kehidupan sekolah, tidak hanya aspek idealnya saja. Tentu kisah cinta juga termasuk di dalamnya, namun hal ini menjadi bagian dari persoalan kehidupan sekolah saja, dan tidak menjadi tema utama film tersebut.
Gie (Riri Riza, Miles Film, 2005)
Gie merupakan jawaban paling tuntas atas pertanyaan teman saya di atas. Film ini merupakan sebuah film biografi dari salah satu tokoh gerakan mahasiswa tahun 1966, Soe Hok Gie yang diangkat dari buku Catatan Harian Seorang Demonstran yang ditulisnya. Konteks cerita film itu sendiri merupakan periode waktu dimana pergulatan politik Indonesia sedang berada titk kulminasi paling tingginya dalam sejarah kontemporer bangsa ini. Soe Hok Gie merupakan sosok cendekiawan yang sejak masa kecilnya sudah berdiri dan berteriak lantang atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Ketika memasuki masa mahasiswa, ia meneruskan hal tersebut dengan terus menulis mengenai kondisi politik sekitar akhir tahun 1950-an hingga tahun 1966 dan sesudahnya yang dianggapnya penuh penyimpangan, kesewenang-wenangan dan korupsi.
Yang menarik dari film ini justru adalah pemberian konteks sosial politik pada tokoh Soe Hok Gie. Film ini dibuka dengan caption (tulisan di layar) yang menyebutkan bahwa dunia sedang berada dalam Perang Dingin dan Indonesia berada di tengah-tengahnya. Semua orang bagai menunggu akan kemana Soekarno, Presiden Indonesia waktu itu, akan berpihak. Dengan permulaan seperti itu, film ini jadi sarat akan muatan politik dan ideologi. Soe Hok Gie mencerminkan pergulatan itu dari sudut pandang seorang yang berpikiran lurus dan setia selalu pada pikiran lurusnya itu. Maka ketika perjuangan menumbangkan Soekarno berhasil, Soe Hok Gie diliputi rasa bersalah karena yang muncul memimpin bangsa ini dalam anggapannya justru adalah tentara. Ini adalah sebuah representasi yang sangat penting akan kepolitikan masa itu dan cerminannya pada perpolitikan Indonesia kontemporer sekarang ini.
Cerminan yang lebih penting lagi adalah pada caption pada akhir film. Caption itu mengatakan bahwa Orde Baru akhirnya tumbang setelah 32 tahun berkuasa. Namun impian Soe Hok Gie tentang Indonesia yang adil, demokratis dan bersih dari korupsi belum terwujud sampai sekarang. Ini adalah sebuah pernyataan politik paling terang-terangan yang pernah dibuat oleh seorang pembuat film di negeri ini! Sekalipun film Gie sendiri mengambil setting waktu periode 1950-an hingga 1969, namun persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Soe Hok Gie masih bisa dilihat refleksinya pada kehidupan sekarang. Dan Riri Riza, sang sutradara film itu secara langsung dan terus terang menyebutkankan hal tersebut sebagai penutup filmnya.

Memang tak semua film merupakan jawaban atas pertanyaan tentang representasi yang kritis tentang kehidupan masyarakat Indonesia tetapi film-film ini mencoba tidak menerima begitu saja segala sesuatu yang tampak di permukaan. Namun dengan besar hati saya merasa bahwa Gie sudah berhasil menjawab pertanyaan ini dengan sangat telaknya. Sayangnya pada film-film ini sambutan penonton tampak tidak terlalu antusias. Hanya Arisan! dan Virgin yang berhasil mencuri perhatian penonton, tetapi film-film lainnya gagal di pasaran. Sampai tulisan ini dibuat, saya belum tahu bagaimana nasib peruntungan film Gie dalam hitungan jumlah penontonnya.
Apakah memang tema-tema ini merupakan tema yang tidak laku sehingga akhirnya membenarkan pikiran untuk tidak membuat film dengan tema-tema seperti ini? Bagi saya hal tersebut bukanlah sebuah bukti. Atau paling tidak, dibutuhkan studi lebih serius untuk menjawab hipotesa tersebut. Saya sendiri ingin berpihak pada film-film semacam ini untuk diberi kesempatan lebih besar hadir kepada penonton.
Tulisan ini pernah dimuat di majalah F, edisi 1, Juli 2005

Wednesday, July 20, 2005

Cermin Bernama Gie

Eric Sasono

Film, sebagaimana media lain, merupakan cermin dari masyarakatnya. Membuat film adalah usaha untuk memandang, menyeleksi dan merekonstruksi pandangan dalam masyarakat yang dianggap penting oleh para pembuat filmnya. Dengan demikian, sajian tema dalam film tak bisa dipandang sebagai sesuatu yang bisa diterima begitu saja. Sebagai pilihan, tema itu selalu berkaitan dengan pandangan dominan atau pandangan alternatif terhadap kenyataan yang dilihat dan dihadapi oleh para pembuat film tersebut.

Namun proses membuat film juga tak pernah terjadi di ruang kosong. Selalu ada konteks politik, budaya dan ekonomi bagi lahirnya sebuah film. Konteks ini saling berjalin menentukan proses produksi termasuk cara pandang sang pembuat film. Gie tampak menonjol dalam konteks politik dan ekonominya. Secara politik, pemilihan tokoh Soe Hok Gie untuk dijadikan biografi merupakan sesuatu yang berani mengingat tema politik merupakan tema yang tak banyak disentuh pembuat film lain dan dipandang tak laku secara ekonomi.

Film ini menyinggung sebuah periode penting sejarah bangsa ini yaitu seputar tahun 1966 ketika Presiden Soekarno sedang dijatuhkan oleh para mahasiswa yang salah satu tokohnya adalah Soe Hok Gie. Singgungan terhadap konteks politik cerita dalam film itu akhirnya menjadi semacam refleksi bagi konteks politik kontemporer. Ketika menonton film ini, saya teringat bagaimana mahasiswa tahun 1998 berjuang untuk menjatuhkan Soeharto. Ada kemiripan suasana emosional di situ. Bahkan pembuat film ini dengan lebih tegas lagi pada akhir film menyatakan bahwa apa yang dicita-citakan Soe Hok Gie sebagai Indonesia yang adil dan bersih dari korupsi belum terwujud sampai sekarang. Ini adalah sebuah pernyataan paling tegas dari sebuah film Indonesia dalam sepanjang sejarahnya.

Terobosan lain adalah dalam penggambaran simbol-simbol Partai Komunis Indonesia. Sebelum 1999, penggambaran lambang palu arit atau pemutaran lagu Genjer-genjer yang menjadi simbol bagi PKI dilarang sama sekali. Film ini menyajikan simbol-simbol tersebut secara terbuka. Hal ini menjadi semacam tonggak bahwa simbol-simbol PKI tak lagi menjadi tabu politik yang menakutkan. Sedikit banyaknya hal ini menjadi cermin dari sesuatu yang lebih luas yang bernama kebebasan berekspresi dalam hal yang spesifik ini. Perluasan ke bidang seperti seks, agama atau kritik terhadap birokrasi masih ditunggu mengingat hal-hal tersebut masih terlarang dalam UU Film yang hingga kini belum dicabut.

Konteks politik sedemikian di atas menarik jika dibandingkan dengan konteks ekonomi film ini. Sedikitnya ada dua hal yang sempat mengundang banyak perdebatan. Pertama adalah keterlibatan sebuah perusahaan rokok dalam promosi Gie, dan kedua adalah pemilihan aktor Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie yang berkesan sebagai sebuah usaha untuk “berjualan”. Kedua hal ini menyebabkan Gie dipandang sebagai semata-mata sebuah cara berbeda dalam berjualan produk film. Jika selama ini para pembuat film berjualan lewat tema remaja atau cinta, kini tema politiklah yang dijual. Itu saja.

Melekatnya sponsor perusahaan rokok itu dipandang sebagai sebuah kekeliruan dalam melihat semangat Soe Hok Gie yang merupakan seorang intelektual yang berjuang di atas kelurusan pikirannya sendiri tanpa bergantung pada kekuatan-kekuatan yang mapan. Sedangkan pemilihan Nicholas Saputra untuk memerankan Soe Hok Gie terlihat sebagai sebuah upaya yang canggung karena “kegagalan” menemukan pemain etnis Cina untuk memerankan Soe Hok Gie. Selain itu pemilihan ini merupakan sebuah upaya untuk tetap memakai bintang film laki-laki nomer satu di Indonesia selama ini yang tentu akan mendatangkan penggemarnya untuk menonton.

Kritik semacam ini jadi menonjol mengingat konteks bagi film ini yang sangat penting. Film Gie sendiri punya kelemahan ketika Riri Riza, sang sutradara, mencoba mendekati narasinya lewat penjabaran periode demi periode waktu kehidupan Soe Hok Gie. Hal ini tak terhindarkan mengingat film biografi selalu punya karakter seperti itu. Pertama, film biografi akan cenderung menghilangkan atau mensubordinasi pandangan-pandangan atau peristiwa yang berbeda dengan pandangan tokoh yang dibiografikan. Kedua, penjelasan karakter tokoh yang dibiografikan lewat latar belakang keluarga, pendidikan dan sebagainya akan membuat dia teristimewakan bahkan terkultuskan. Ketiga, kebutuhan penjelasan periode waktu akan membuat drama dalam kisah hidup si tokoh menjadi hilang atau kabur. Gie terkena persoalan-persoalan ini sehingga aksesabilitas film ini kepada penonton yang luas jadi terbatasi.
Namun, seperti yang saya sebutkan di atas, kontekslah yang membuat film Gie menjadi sesuatu yang penting di negeri ini. Riri Riza dan produsernya Mira Lesmana tampak menjadi seperti Soe Hok Gie yang memperjuangkan kondisi bangsa ini lewat karya-karyanya. Maka konteks ekonomi yang mereka lalui dalam proses produksi film ini, termasuk pemilihan Nicholas Saputra dan sponsor perusahaan rokok, menjadi bagian tak terpisahkan dari film ini untuk berjuang dalam konteks kehidupan Indonesia kontemporer, terutama dalam soal pembuatan film.

Dalam persilangan antara konteks politik dan ekonomi semacam inilah Gie lahir. Pada masa Soe Hok Gie berjuang, mungkin ia adalah seorang intelektual bebas yang terlepas dari kekuatan-kekuatan mapan. Namun jaman berubah. Bisa jadi tokoh semacam Gie kini harus muncul dari sebuah kegiatan yang tersponsori oleh korporasi raksasa semacam perusahaan rokok. Atau ia sudah harus menjadi seorang selebritas yang diidolakan sebelum bisa benar-benar didengar suaranya. Akhirnya jika kita percaya bahwa proses memproduksi film merupakan cermin bangsa ini secara lebih besar, siapkah kita melihat wajah sendiri di cermin seperti ini?
Tulisan ini dimuat di Majalah Gatra, edisi No.36 tahun XI, 23 Juli 2005

Tuesday, July 19, 2005

Film sebagai Kritik Sosial

Oleh: Eric Sasono

Film kerap dianggap minor dalam kemampuannya memuat kritik sosial dibandingkan dengan media lain. Media lain memiliki wahana jurnalisme yang mampu menghadirkan peran media sebagai pilar keempat demokrasi, sedangkan film kaprah dianggap sepenuhnya sebagai kendaraan komersial pencari keuntungan. Film memang dibuat dengan investasi ekonomi yang besar sehingga memiliki mass appeal yang tinggi dan abai terhadap muatan-muatan yang lebih memperlihatkan tanggung jawab sosialnya.

Tunggu dulu. Apakah film memang memiliki kewajiban melakukan kritik sosial mengingat karakternya yang lebih mirip media hiburan? Sedikitnya ada dua argumen untuk melihat film sebagai kritik sosial. Pertama, film, sebagaimana media lain, punya peluang menyumbangkan sesuatu bagi masyarakatnya. Hal ini tanpa bermaksud untuk membebani proses produksi film yang sudah sedemikian rumit dan mahal, tetapi tanggungjawab film sebagai media dan wahana pengungkapan ekspresi tetap ada. Toh pesan yang disampaikan dengan baik tetap bisa menghibur. Kedua, dalam konteks produksi yang mahal, tanggungjawab film menjadi lebih nyaring lagi. Jika media film digunakan semata-mata untuk bersenang-senang dan tak mampu menangkap sedikit banyak hal yang menjadi elan di masyarakat, tentu hal ini merupakan pemborosan.

Media film sebenarnya memiliki kekuatan lebih dibandingkan media lain dalam melakukan representasi terhadap kenyataan. Jurnalisme mungkin mendaku kerjanya pada realitas, tetapi jurnalisme dikendalikan oleh prinsip kelayakan berita yang memenggal realitas itu dalam satuan-satuan kelayakan berita tersebut. Sedangkan film nyaris tak terbatasi oleh hukum-hukum ekstrinsik macam itu. Ketika pembuat film memilih sebuah tema, maka yang membatasinya adalah hukum-hukum intrinsik film itu sendiri. Dengan pilihan yang nyaris sama luasnya dengan kehidupan itu sendiri, film punya kemungkinan yang tak terbatas.
Salah satu kemungkinan itu adalah menangkap elan yang ada di masyarakat tempat sang pembuat film itu hidup dan menurunkannya dengan cara bercerita yang sesuai. Sejak DW Griffith membuat Intolerance pada tahun 1915, orang melihat potensi film yang besar untuk menyajikan muatan lebih dari sekadar cerita. Media film kemudian dipenuhi diskusi mengenai hubungan muatan film dengan konteks masyarakat yang menghasilkannya. Uni Soviet pernah menggunakan media film sebagai media propaganda yang sangat efektif dengan pendekatan formalisme mereka. Italia pernah mengenal neo-realisme yang mendekati problem-problem stuktural kemiskinan pasca Perang Dunia Pertama. Perancis misalnya pernah mengenal realisme puitis yang merespon kegelisahan pasca Perang Dunia Kedua. Amerika tahun 1950-an dipenuhi oleh kisah fiksi ilmiah yang menggadang ketakutan terhadap perang bintang akibat peluncuran Sputnik oleh Uni Soviet.

Contoh-contoh di atas sekadar gambaran bahwa pembuat film di berbagai belahan dunia terus mencari muatan dan cara tutur yang mampu menangkap elan masyarakatnya. Hal ini tak mudah dan berangkat dari tradisi yang panjang, baik dalam berkesenian secara umum maupun dalam bertutur lewat media film. Negeri ini belum memiliki keduanya. Paling tidak, cara tutur media film di negeri ini sama sekali belum ajeg dan belum memiliki tradisi yang panjang. Faktor lainnya, media film kaprah dipandang sebagai sebuah kegiatan ekonomi yang tak perlu repot dengan pengungkapan muatan dan pencarian cara tutur yang mampu menangkap elan masyarakat tersebut.

Kedua faktor ini menjadikan media film di Indonesia dipandang sebelah mata dalam menyumbang pertukaran wacana kemasyarakatan yang penting, apatah lagi dalam melakukan kritik sosial. Namun persoalan bangsa ini sedemikian banyak dan para pembuat film tak seharusnya menutup mata begitu saja terhadapnya. Tak banyak film Indonesia yang mampu menangkap persoalan di balik permukaan, apalagi mengangkat kritik yang tajam.Dari sisi ini, film Indonesia sempat berada pada titik terendah ketika film-film yang diproduksi adalah film dengan tema seks seperti Ranjang Ternoda, Gairah Malam, Limbah Asmara, yang pada dasarnya meniru film-film porno komersial. Peniruan itu tampak pada dua ciri: miskinnya plot dan hubungan seks antar tokoh untuk mengakhiri adegan. Selanjutnya setelah gairah membuat film bangkit lagi lima tahun terakhir, film-film yang diandalkan adalah film horor dan percintaan remaja yang tak mempersoalkan kenyataan yang mereka hadapi.

Hal ini ironis mengingat kondisi politik yang kini relatif bebas untuk berekspresi. Para pembuat film bagai tak menyambut kondisi ini dengan memberi sumbangan yang lebih signifikan untuk kehidupan masyarakat yang lebih luas. Kebanyakan film lebih berorientasi mengejar keuntungan dan mengambil jalan mudah dalam mengungkapkan tema dan mencari cara tutur yang baru. Beberapa film seperti Marsinah karya Slamet Rahardjo, Catatan Akhir Sekolah karya Hanung Bramantyo atau Virgin karya Hanny Saputra mencoba memberikan semacam komentar terhadap kenyataan yang mereka lihat. Namun mereka belum melakukan kritik yang tajam dan langsung, masih sebatas melihat kenyataan sebagai sesuatu yang tidak ideal dan masih terbatas menjadi semacam komentar sosial, social commentary.

Pada kesempatan inilah Gie karya Riri Riza muncul sebagai sesuatu yang penting. Pembuat film ini dengan sadar menggunakan kisah hidup seorang intelektual seperti Soe Hok Gie untuk berbicara tentang kondisi bangsa saat ini. Film seakan mengingatkan bahwa masih banyak agenda bangsa yang belum selesai dan masih dibutuhkan kaum intelektual yang setia pada pikiran lurus. Dengan tegas film ini memposisikan diri dalam konteks kepolitikan tahun 1960-an serta refleksinya pada kehidupan Indonesia kontemporer. Film ini berhasil menjawab kegelisahan mengenai keberadaan karya film yang seharusnya bicara kritis tentang kondisi bangsa.

Film ini sudah berhasil membuka banyak tabu. Selain kritik yang tegas di ujung film terhadap kondisi politik kontemporer, film ini juga bisa jadi membuka wacana tentang pergulatan politik tahun 1965 serta peran PKI di dalamnya. Selama ini hal terakhir ini dibicarakan masih dengan bisik-bisik dan penuh prasangka. Di sinilah menurut saya film seharusnya bisa menghadirkan wacana yang lebih terbuka dan bebas dari prasangka.

Tulisan ini dimuat di harian Kompas, Minggu 17 Juli 2005.

Tuesday, July 12, 2005

Metafisika pasca 11 September

Oleh Eric Sasono

Bagaimana menjelaskan awal dan akhir kemanusiaan? Pertanyaan ini merupakan sebuah pertanyaan abadi manusia yang terus menggantung sepanjang masa dan di setiap tempat. Jawaban atas pertanyaan ini telah menghasilkan filsafat dan metafisika yang tak ada akhirnya serta terus diperdebatkan sepanjang keberadaan manusia. Salah satu jawaban terakhir disajikan oleh Steven Speilberg dengan mengadaptasi sebuah novel karya HG Wells, War of The Worlds, ke dalam bentuk sebuah film.
Kabarnya Spielberg sudah lama sekali berniat memfilmkan novel ini, tapi ia menunggu sampai saat yang tepat. Sampai tibalah salah satu ikon terpenting Hollywood saat ini, Tom Cruise, juga tampak berminat untuk ikut serta mengerjakannya. Maka jadilah sebuah sajian penuh spekulasi dari Spielberg yang tampak ingin ikut serta menjawab pertanyaan mendasar di awal tulisan ini tadi. Jawaban seperti apa yang ia hasilkan? Apakah ia berhasil menjawab dengan tepat? Apa pula arti jawaban itu dalam konteks kehidupan saat ini? Semua inilah yang membuat film ini menjadi sangat menarik.

Kecenderungan War of the Worlds untuk menjadi metafisika tampak dari ketidakrepotannya dalam menjelaskan mengenai alien atau makhluk angkasa luar yang menyerang bumi. Film ini dengan tenang dan tanpa kompromi memberi gambaran begitu saja asumsi-asumsi dan spekulasi manusia bahwa bumi ini sedang diincar oleh sekelompok makhluk berintelegensi tinggi untuk dijadikan tempat tinggal. Mereka sudah melakukannya berjuta-juta tahun yang lalu dan tampak sedang menunggu saat yang tepat. Kapan saat yang tepat itu? Tak ada penjelasan. Apakah ia menunggu saat Ray Ferrier (Tom Cruise) sedang mengasuh dua orang anaknya yang berangkat remaja? Kita tak melihat langsung hubungan sebab akibat antara serangan alien itu dengan kehidupan tokoh utama dalam film ini. Kedua peristiwa ini tak berhubungan satu sama lain. Sebuah spekulasi dalam bentuk pertanyaan mungkin saja diajukan dalam melihat penggambaran seperti ini. Apakah hal ini merupakan refleksi atas kegalauan bentuk keluarga di Amerika saat ini menghadapi pertanyaan-pertanyaan tentang kemungkin akhir dunia? Perpecahan keluarga tampak tak berdaya menghadapi rangkaian pertanyaan sulit seputar penyerang bumi, siapa mereka, mengapa mereka menyerang dan seterusnya.

Film ini memang tak memberi penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Satu-satunya penjelasan terhadap pertanyaan-pertanyaan itu berada di luar struktur film dan berbicara langsung terhadap penonton lewat narasi voice over Morgan Freeman yang menjelaskan sesuatu yang sudah harus diterima begitu saja oleh penonton tanpa banyak pertanyaan. Narasi itu menjelaskan bahwa manusia tak percaya bahwa bumi sudah diincar sejak lama oleh makhluk luar angkasa, dan akhirnya makhluk itu akhirnya binasa sejak pertamakali mereka melakukan invasinya. Penjelasan ini begitu kering, tak teruji dan bersifat arbitrer (semena-mena). Film ini tak berniat sama sekali menguji atau pun menjelaskan narasi di awal dan akhir film itu. Semuanya seakan-akan sesuatu yang sudah harus diterima tanpa perlu penjelasan. Sama sifatnya seperti metafisika yang menjadi penjelasan atas segala peristiwa ajaib dan gaib yang terjadi di seputar manusia. Narasi ini akhirnya sejajar sifatnya dengan penjelasan akan keberadaan jin dan makhluk-makhluk supernatural yang berada dalam alam kepercayaan manusia di negeri ini.

Apakah yang diimplikasikan oleh metafisika seperti yang diusulkan oleh Spielberg tersebut? Kepanikan. Panik adalah sebuah kata yang saat ini menguasai alam pikiran Amerika seperti yang digambarkan oleh film tersebut. Sejak serangan pesawat tanggal 11 September 2001, Amerika sebagai sebuah bangsa memang mengalami kepanikan besar yang tak terkira. Inilah pertamakalinya Amerika diserang di tanahnya sendiri oleh sebuah kekuatan yang tak dimengerti oleh mereka. Hal inilah yang direspon oleh pemerintahan Amerika dalam bentuk pre-emptive strikes atau kampanye serangan-serangan militer berupa pencegahan ke Afghanistan dan Irak sesudah peristiwa serangan terhadap gedung World Trade Center itu dengan alasan untuk mencari Usamah bin Ladin. Bangsa Amerika kemudian merespon lagi situasi tak dimengerti itu dengan memilih ulang George W. Bush yang dianggap mampu memberikan keamanan terhadap mereka terhadap kemungkinan serangan itu lagi. Hanya kepastian dan kampanye ofensif yang bisa meredakan kepanikan, dan bukan kebebasan serta demokrasi.

Di manakah demokrasi Amerika pada film ini? Demokrasi tertinggal di belakang layar. “Kita harus menyerang, mencari kelemahan mereka” kata tokoh Harlan Ogilvy (Tim Robbins). Ada dua hal yang tergambar oleh tokoh ini: kepanikan yang mendekati kegilaan dan kekuatan senjata. Ogilvy membuat benteng perlindungan bawah tanah yang aman dan mampu menyelamatkannya dari serangan mematikan makhluk-makhluk luar angkasa itu. Namun ada daya tahan manusia di sini, dan itu tergambar dengan jelas pada tokoh Ogilvy ini yang sudah dekat sekali dengan kegilaan. Ia tak mampu lagi mengukur kekuatan dirinya sendiri dan musuhnya. Pemecahan yang dipikirkannya adalah pemecahan bersenjata, sekalipun hal itu tampak sangat tak masuk akal mengingat musuh yang dihadapi adalah sesuatu yang tak jelas. Hanya satu hal yang jelas olehnya: musuhnya itu berkekuatan sangat besar. Mungkin karena ketidakmengertian sehingga ia mengira kekuatan itu sangat besar, karena toh pada akhirnya musuh tersebut mati dengan sendirinya.

Memang tak ada pre-emptive strike pada film ini. Kepanikan mereka jauh lebih besar untuk bisa mengambil langkah seperti itu. Kepanikan itu terlalu besar untuk dijelaskan oleh akal sehat. Spielberg sempat mengungkapkan sebuah kata kunci yang mengganggu banyak orang di Amerika: terorisme. Sedikitnya dua kali pertanyaan: “apakah ini teroris?” muncul dalam film ini sebagai usaha penjelasan terhadap serangan yang menimpa tanah Amerika sesudah peristiwa 11 September. Pertanyaan itu termentahkan oleh gambaran sangat terus terang oleh Spielberg. Terorisme sama sekali bukan penjelasan bagi kepanikan Amerika, ada sesuatu yang lebih besar yang tak terjelaskan, inilah yang disugestikan oleh Spielberg di sini.

Sugesti ini berasal dari alam pikiran Spielberg sendiri yang sedikit banyaknya juga menjadi alam pikiran bangsa Amerika. Pengalaman mereka terhadap alien serta rangkaian cerita yang bergenerasi sudah memenuhi pengalaman mereka membuat penerimaan terhadap alien sudah tak lagi dipertanyakan oleh sebagian orang. Maka penggambaran alien sebagai penyebab bencana dan kemungkinan penghancuran bumi ini samalah kiranya dengan penggambaran tuyul dan jin sebagai penyebab berbagai peristiwa tak masuk akal di negeri kita. Penggambaran Spielberg dalam film ini memang sedang memilih untuk sebuah metafisika yang mendekati tahyul.

Beberapa kritikus merasa bahwa Spielberg sedang bermain-main dengan alam pikiran Amerika. Terorisme yang mereka rasa sedang mengancam dirasakan terlalu besar untuk diletakkan di bawah sesuatu yang lain: metafisika. Tak semua orang percaya pada metafisika yang diusulkan oleh Spielberg dan merasa bahwa terorisme saja sudah cukup mengerikan dan membawa kepanikan yang tak terperikan. Namun Spielberg merasa bahwa ia berhak untuk mengajukan sebuah pertanyaan lain yang sama besarnya. Ia tahu bahwa ada konteks bagi metafisika yang diajukannya itu. Selebaran-selebaran pencarian orang yang ditempel di sembarang tempat memberikan gambaran akan kota New York pasca serangan 11 September itu. Ia memang menurunkan metafisikanya dalam konteks sesudah serangan 11 September.

Konteks itu digambarkan dengan kepanikan massal suatu bangsa. Kepanikan adalah sesuatu yang secara ironi menjadi semangat bangsa Amerika saat ini dalam mendefinisikan dirinya. Amerika tak pernah terlahir memiliki nasionalisme. Pada bangsa dimana imigran penuh seperti Arnold Schwarzenegger bisa menjadi gubernur ini, nasionalisme adalah semacam lelucon kesiangan. Mereka lebih mengenal patriotisme, sebuah semangat yang lebih aktif ketimbang nasionalisme yang harus lebih dulu ajek mendaku sebuah identitas ketimbang kehendak untuk bertindak. Spielberg memang tak ingin bicara nasionalisme maupun patriotisme. Ia memang hanya sedang berkomentar tentang kepanikan sebagai sebuah mode dalam menjalani hidup. Penyebabnya sesuatu yang tak pasti. Dalam film ini, mungkin penyebabnya adalah makhluk luar angkasa. Mungkin dalam kehidupan lain bernama kehidupan nyata, penyebab itu adalah terorisme. Karena itu terimalah kepanikan itu sebagai sebuah mode menjalani hidup. Sedangkan penjelasannya, Spielberg sudah memilih metafisika, sebuah kenyataan di balik dunia fisik yang kita ketahui dan kita alami.