Thursday, June 30, 2005

Rumus Pelajaran Mencampur Warna

Catatan untuk Ungu Violet
Eric Sasono

Dalam kehidupan nyata, biru bertemu merah akan menghasilkan warna ungu. Apakah pada film hal ini juga terjadi? Sutradara Rako Prijanto percaya akan hal itu dalam filmnya Ungu Violet. Warna biru diwakili oleh Lando (Rizky Hanggono), seorang fotografer yang memotret seorang copet di dalam bis kota dan berani menantang sang copet itu untuk menusuknya ketika ia diancam. Sedangkan warna merah diwakili oleh Kalin (Dian Sastrowardoyo), seorang penjaga tiket busway yang tak sengaja terpotret oleh Lando sehingga akhirnya berhasil menjadi model terkenal.

Apakah Anda merasa akrab dengan cerita semacam ini? Tentu saja karena cerita semacam ini tidak istimewa. Gantilah misalnya fotografer dengan seorang pangeran dan penjaga tiket busway dengan upik abu. Cerita dalam film ini sudah sedemikian seringnya dituturkan orang dengan berbagai variasinya. Jika ada tuduhan plagiasi terhadap film ini, saya tak terlalu peduli karena bagaimanapun cerita sesederhana ini bisa didapat oleh siapapun pada saat kapanpun. Saya lebih peduli apakah penonton mendapatkan sesuatu atau tidak dari film ini.

Dengan bekal cerita semacam ini, penonton disajikan dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang formulaik. Maksud saya, sekuen demi sekuen dari film ini bekerja bagaikan untuk memenuhi rumus-rumus baku yang relatif terduga. Marilah kita urut-urutkan sekuen film ini. Pertama, adalah pertemuan Kalin dan Lando yang tak sengaja. Kedua, keberhasilan Kalin sebagai seorang fotomodel. Tentu hal ini akan terjadi dengan Lando sebagai pintu masuknya. Ketiga, mereka jatuh cinta. Keempat, mereka akan terhalangi oleh sesuatu yang bisa berasal dari dalam diri mereka sendiri atau dari luar. Kelima mereka menjalani hidupnya masing-masing dan tampak tak berhubungan sama sekali padahal dalam hati mereka, masing-masing menyimpan cinta membara dalam hatinya. Keenam, mereka akan bersatu di akhir cerita.

Sekuen demi sekuen ini relatif bisa kita tunggu untuk terjadi sepanjang menonton film Ungu Violet. Peristiwa demi peristiwa berjalan membuka lipatan rumusan-rumusan itu. Nyaris tak ada kejutan. Sekalipun demikian, Rako berhasil menyajikan sesuatu yang istimewa di tengah keterdugaan cerita film ini. Ada beberapa faktor yang berhasil menghadirkan hal tersebut. Pertama adalah faktor nenek Kalin yang membuat film ini menjadi berwarna. Keberadaan figur nenek Kalin yang diperankan dengan menarik oleh Rima Melati membuat karakter Kalin menjadi hidup. Kita melihat perbandingan sosok Kalin dan kesederhanaan pribadinya ketika berinteraksi dengan neneknya. Kalin menumpukan hidupnya pada neneknya yang menjadi pengganti kedua orangtuanya yang sudah meninggal. Di sini Kalin menjadi sesosok figur yang sederhana dan bagaikan seorang girl next door. Dian Sastro sebagai Kalin juga berhasil mengantarkan karakter itu.

Rako sangat sabar dan telaten mengerjakan cerita filmnya ini. Ia tampak tak terburu-buru dengan plot dan tetap mempertahankan momentum demi momentum agar formula yang terduga dalam film ini tetap bisa dinikmati dengan menyenangkan. Kesabaran Rako ini tampak juga pada pengungkapan persoalan pribadi yang dialami Lando yang menyebabkan ia memutuskan hubungan dengan pacarnya. Sejak awal, pada bagian pembuka film, penonton sudah disajikan informasi mengenai hubungan Lando dan pacarnya tersebut lewat still foto gambar-gambar yang berisi Lando dan pacarnya itu. Kemudian dilanjutkan dengan informasi berupa surat yang menyatakan kekecewaan pacar Lando tersebut. Pada titik ini, penonton sudah menduga ada sesuatu yang akan terus menjadi benang merah film yang akan terungkap menjadi persoalan inti bagi tokoh utama film ini. Hal itu tak terbahas tanpa disajikan dulu momentum berupa puncak hubungan Lando-Kalin ketika mereka berciuman di apartemen Lando. Dengan adanya persiapan adegan ini dalam sekuen di atas, maka pengungkapan persoalan Lando ini menjadi sesuatu yang menjadi dramatis. Maka ketika Lando tertawa sambil menangis di depan dokter yang menangani penyakitnya itu, maka muncullah sebuah keharuan yang dalam. Sayangnya, Rizky Hanggono tampak tak terlalu meyakinkan mengantarkan sebuah ironi tertawa sambil menangis semacam itu tetapi jelas sekali maksud sutradara dengan adegan tersebut.

Keberhasilan Rako mempertahankan momentum juga tampak ketika Kalin sudah berhasil menjadi seorang fotomodel. Faktor nenek Kalin menghadirkan kekontrasan perubahan pribadi Kalin yang sederhana itu. Setelah Kalin sukses dengan karirnya sebagai foto model, maka hubungan itu tidak lagi intensif. Kalin digambarkan tak lagi rutin mengunjungi neneknya. Akhirnya hubungan nenek dan cucu menjauh kemudian menjadi sebuah titik balik bagi karakter Kalin ketika ia tak berhasil memenuhi janji untuk mengunjungi sang nenek pada saat yang kritis. Kalin kemudian sangat menyesali hal tersebut. Pada titik inilah formula film ini bekerja. Pada saat Kalin berada pada momentum seperti ini, Lando datang ke hidup Kalin lagi. Dengan nikmat kita bisa menyaksikan naik turunnya emosi Kalin dalam momen ini.
Untuk memperkuat emosi itu, elemen drama juga ditambahkan dengan memuncaknya hubungan antara Kalin dan Rizal, manajernya. Hubungan mereka sedang dalam puncaknya ketika Rizal meminta Kalin untuk menikahinya. Padahal hubungan mereka selama ini diaku Kalin hanyalah teman dekat dan bukan pacar. Dengan emosi yang sedang bercampur aduk itu, kedatangan Lando pada saat Rizal melamar Kalin menjadi sebuah adukan emosi yang matang dan efektif. Inilah puncak drama pada film Ungu Violet ini.

Segala momentum yang berhasil membangun drama pada film ini berhasil dibangun dengan editing yang tepat dari Sastha Sunu. Sastha mengerti sekali irama atau pacing dari film ini sehingga penonton keseluruhan pengungkapan drama menjadi sangat efektif. Sayangnya ketika puncak drama sudah terjadi dengan kembalinya Lando ke dalam hidup Kalin, irama film sedikit berubah. Ia menjadi lebih lambat dan seakan kehilangan pegangan (cliffhanger) untuk menciptakan drama. Rako memang menyiapkan sebuah pembelokan (twist) pada akhir film, tetapi sebelum twist itu terjadi di ujung film, tak ada momen dramatik lagi pada film ini. Mungkin karena memang cerita ini sudah tak menyisakan lagi momen dramatik yang sudah selesai diceritakan sebelumnya. Membangun momen dramatik lagi berarti memperpanjang dan merumitkan plot yang bisa jadi sangat beresiko bagi film semacam ini. Mungkin hal itu malah tidak perlu, sekalipun resikonya adalah melambatnya cerita menjelang akhir film. Mungkin memang film ini memang sudah sesuai dengan porsinya.

Lantas dimanakah letak warna-warna pada kedua karakter utama itu? Ternyata warna-warna itu berarti harfiah. Ketika gambar di layar berfokus kepada Lando, maka warna-warna seluruhnya biru, baik pakaian Lando, cat dinding kamarnya maupun tone pewarnaan secara keseluruhan. Pada diri Kalin, hal ini tergambarkan dalam dua tahap. Pada saat Kalin masih menjadi penjaga tiket busway, warna pakaian Kalin tak tegas berwarna merah. Kebanyakan pakaiannya bernuansa merah seperti merah jambu pucat atau oranye. Namun ketika Kalin sudah menjadi model yang terkenal, pakaiannya jelas-jelas berwarna merah. Demikian pula dengan ornamen-ornamen hiasan dalam apartemen Kalin yang berwarna merah menyala. Pada tone warna, gambar-gambar Kalin masih menggunakan tone dengan warna merah.
Penggunaan warna-warna ini terasa sekali menjadi sesuatu yang menjadikan film ini sebagai sesuatu yang larger than life. Untuk memberi warna merah pada kamar apartemen Kalin, dipilih warna merah menyala pada sofa atau menyampirkan kain berwarna merah menyala di kamar tidur Kalin. Ornamen semacam ini terasa sekali fungsinya sebagai ornamen itu sendiri untuk keperluan film itu sendiri dan agak menyempal dari prinsip membangun reka percaya (make believe) sekalipun tak terasa menggangu. Namun artifisialnya pemilihan ini akhirnya memang tak membawa nilai tambah kecuali pada konsistensi untuk menyatakan bahwa merah adalah warna milik Kalin. Pilihan semacam ini adalah pernyataan yang sampai kepada penonton dengan sadar bahwa ini adalah film, tidak lebih.

Dengan membagi warna Kalin menjadi dua bagian, tampaknya Rako ingin membedakan antara Kalin sebelum dan sesudah menjadi fotomodel. Kalin sebelum menjadi fotomodel adalah Kalin yang polos dan tak menghasilkan warna ungu pada pertemuannya dengan Lando. Pertemuan Kalin dengan Lando belum menghasilkan masalah. Ketika warna ungu tercipta dari hubungan cinta Kalin dengan Lando, terciptalah masalah. Ungu adalah warna masalah dalam film ini.
Harfiahnya pemaknaan warna pada film ini menyisakan pertanyaan akan simbolisme pada Ungu Violet. Apakah makna warna biru dan merah yang dimaksudkan oleh Rako? Apakah warna-warna ini bisa kita acu pada sesuatu yang berada di luar film, semisal warna merah sebagai simbol keberanian atau biru sebagai makna kedalaman dan keluasan? Rasanya tidak. Warna-warna ini hanya sekadar gaya yang tidak menyiratkan simbol apapun. Paling jauh saya bisa menerka ungu sebagai warna pertemuan yang kemudian bermasalah atau cinta yang terhalang dalam film ini, tetapi referensi untuk hal itu saya dapatkan dari bangunan cerita dalam film itu sendiri dan tidak berasal dari sesuatu yang berdiri di luarnya. Seandainya warna-warna itu dibuang sekalipun, tak ada yang berubah dari bangunan narasi film ini.

Akhirnya saya menyayangkan kegagalan Rako membangun simbolisme pada film ini. Salah satu yang paling terasa gagal adalah usaha Lando untuk kembali ke dalam hidup Kalin. Lando mengirimkan ikan cupang dalam jambangan beserta kertas yang berisi puisi. Dalam puisi itu, Lando mengungkapkan keinginannya untuk kembali ke dalam hidup Kalin. Di sinilah kegagalan terbesar film ini. Ungkapan berupa puisi yang dibacakan secara voice over oleh suara Rizky Hanggono menyebabkan terjadinya verbalisme dalam hubungan mereka. Cinta yang dalam dan platonis antar mereka menjadi banal akibatnya karena diungkapkan dengan mentah lewat puisi tersebut. Padahal jika sejak awal Rako membangun simbolisme lewat ikan cupang ini, mungkin jambangan berisi ikan cupang itu sudah cukup menjadi puisi visual yang mewakili kedalaman dan platonisnya cinta mereka. Mungkin Rako lupa bahwa dalam film, puisi juga bisa diantarkan secara visual dan tidak harus selalu lewat baris kata-kata yang verbal seperti puisi Lando untuk Kalin.

Satu lagi yang terasa mengganggu dan tak cukup penjelasan kepada saya sebagai penonton adalah judul film ini, Ungu Violet. Bukankah violet adalah bahasa Inggris untuk warna ungu? Bukankah salah satu kata itu sudah mewakili apa yang ingin disampaikan oleh Rako? Dari menonton film ini, saya menyimpulkan bahwa yang dimaksudkan oleh Rako adalah memang warna ungu. Merah dicampur dengan biru memang menjadi ungu, baik dalam kehidupan nyata maupun dalam film ini. Mengapa pula akhirnya menjadi ungu violet? Adakah pelajaran mencampur warna yang keliru yang saya ketahui? Ataukah pelajaran bahasa Indonesia saya yang salah?