Wednesday, May 18, 2005

Anak ini Punya Nama

Single Parent pada Sinema Indonesia

Oleh: Eric Sasono
Lelaki muda itu berdiri sejenak. Ia memandang ke belakang untuk terakhir kalinya. Dilihatnya ayahnya memandangi dari balik jendela rumah mereka. Tak ada selamat tinggal atau kata bertukar. Si lelaki muda kemudian berjalan pergi meninggalkan ayahnya dan rumah tempat ia dibesarkan tanpa pernah menoleh lagi. Sepuluh tahun berlalu, ayah dan anak itu tetap tak bertukar kata. Sang anak pun tak pernah pulang untuk menengok ayahnya. Hubungan mereka rusak sama sekali sejak ibu si anak muda itu meninggal dunia. Sampai akhirnya sepuluh tahun kemudian anak muda itu akhirnya pulang menemui ayahnya. Untuk mencari jawaban atas kemarahan yang dipendamnya selama sepuluh tahun. Akhirnya mereka kembali bicara. Mencoba merangkai kembali sesuatu yang sudah tertinggal di hati masing-masing selama ini.

Cerita ini merupakan inti dari film Banyu Biru yang disutradarai oleh Teddy Suriaatmadja. Film produksi Salto Film ini menambah rangkaian perkembangan baru dalam sinema Indonesia dalam penggambaran tentang keluarga. Sebagaimana kerap kita lihat dalam film, konflik keluarga merupakan sebuah sajian utama dalam film-film drama, tidak hanya di negeri ini tetapi juga secara universal. Keluarga sebagai sebuah locus kehidupan manusia dimana interaksi anggota-anggotanya sangat intensif, potensial sekali menimbulkan konflik yang tajam dan dramatis. Maka tak heran jika konflik keluarga menjadi sajian paling sering hadir dalam film drama di belahan dunia mana saja. Termasuk di negeri ini.

Sinema Indonesia belakangan ini mencatat perkembangan menarik dalam penggambaran keluarga, yaitu banyaknya keluarga yang digambarkan sebagai sebuah keluarga dengan single parent atau orangtua tunggal. Banyu Biru tadi adalah contohnya. Keluarga Banyu (Tora Sudiro) tokoh utama dalam film ini, hanya terdiri dari Banyu dan ayahnya, Yuskar (Slamet Rahardjo Djarot). Ibu dan adik Banyu sudah meninggal. Hubungan Banyu dan Yuskar juga merupakan hubungan konflik yang menjadi problem utama film ini. Konflik orangtua anak mungkin merupakan sesuatu yang sudah banyak digambarkan dalam film Indonesia sejak dahulu, tetapi konflik keluarga tersebut dalam konteks sebuah keluarga single parent adalah hal yang relatif baru.

Beberapa film lain juga menggambarkan konflik orangtua-anak dalam sebuah konteks keluarga single parent. Pasir Berbisik (2001) dan Eliana-Eliana (2002) menceritakan hubungan ibu dan anak perempuannya serta konflik mereka. Pasir Berbisik berpusat pada konflik antara Daya (Dian Sastrowardoyo) dan Berlian (Christine Hakim) yang bersumber dari sikap protektif Berlian terhadap anaknya yang sedang tumbuh ini. Agus (Slamet Rahardjo Djarot) ayah Daya meninggalkan mereka begitu saja, dan terlihat ada ketidakpercayaan pada diri Berlian terhadap laki-laki. Karena itulah Berlian tampak seperti menekan pertumbuhan Daya dengan tidak pernah memanggil namanya dan menggantinya dengan sebutan ‘anak’. Bentuk panggilan ini merupakan semacam penghilangan identitas Daya sebagai seorang perempuan. Sampai satu saat, Daya merasa bahwa panggilan ini menghalangi jatidiri dan pertumbuhannya hingga ia berontak. Ia merasa berhak untuk dipanggil sebagai Daya oleh ibunya, tak hanya sekadar dipanggil ‘anak’. Anak perempuan ini juga merasa punya nama.

Pada Eliana-Eliana, konflik ibu dan anak juga terjadi seputar soal jatidiri dan pembuktian sang anak terhadap ibunya. Eliana (Rachel Maryam) meninggalkan Padang, kota kelahirannya karena dipaksa menikah dan memutuskan hidup di Jakarta. Sang ibu yang dipanggil Bunda (Jajang C. Noer) tak percaya pada kemampuan sang anak untuk hidup mandiri di Jakarta. Setelah beberapa tahun membiarkan anaknya di Jakarta, Bunda akhirnya menjemput Eliana dengan membawa tiket untuk memulangkan Eliana dengan pesawat pertama ke Padang keesokan harinya. Eliana menolak keras. Mereka berjalan semalaman di kota Jakarta mencari teman kontrakan Eliana, Heni (Henidar Amroe) yang sedang bermasalah. Perjalanan itu akhirnya menjadi cermin bagi konflik ibu dan anak ini dan kota Jakarta menjadi saksi. Sang ibu dengan pikiran untuk memberi yang terbaik pada anaknya sementara sang anak berusaha membuktikan diri di hadapan ibunya.

Kedua film ini dengan tegas menolak figur ayah sebagai figur ideal. Agus pada Pasir Berbisik merupakan laki-laki yang meninggalkan begitu saja keluarganya, dengan alasan yang tak terlalu jelas. Bahkan Agus tega menjual Daya, anaknya kepada seorang saudagar kaya (Didi Petet). Sementara pada Eliana-Eliana, figur ayah juga jauh dari ideal. Ayah Eliana dikatakan meninggalkan keluarga mereka dengan alasan --seperti dikatakan Bunda-- karena tak mau ikut usaha istrinya. Bunda digambarkan sebagai perempuan kuat dan mandiri yang bisa menjadi major bread winner di keluarga. Dalam konteks kultur Sumatera Barat seperti digambarkan film ini, hal semacam ini menjadi persoalan sehingga ayah Eliana memutuskan pergi dan tak pernah kembali lagi.

Pada kedua film ini dan juga Banyu Biru, keluarga dengan single parent digambarkan tidak hanya sebagai locus konflik melainkan juga sebagai refleksi hubungan anak-orangtua yang tersisa. Faktor ayah atau ibu yang sudah tak ada pada keluarga tersebut atas menjadi semacam perekat sekaligus sumber konflik anak dan orangtua tunggalnya yang tersisa dalam keluarga tersebut. Tampaknya memang ada cara pandang baru dalam melihat keluarga pada kalangan sineas Indonesia yang melihat bahwa problem-problem dalam keluarga single parent terkadang terlihat lebih dalam mampu menggambarkan konflik psikologis ketimbang sebuah keluarga dengan dua orangtua.

Kemungkinan mengusulkan penerimaan terhadap keluarga dalam bentuk single parent ini sudah muncul selintas sejak film Ada Apa dengan Cinta? (2001) Dalam film ini, tokoh Alya (Ladya Cheryl) hidup di keluarga yang penuh kekerasan domestik. Ibunya selalu bertengkar dan jadi korban pemukulan oleh ayahnya. Alya juga terkena kekerasan itu. Sampai akhirnya Alya berniat bunuh diri. Peristiwa ini menjadi momentum bagi ibu Alya untuk memilih jalan bercerai dengan ayahnya. Hal ini merupakan sebuah usulan yang tergolong tidak biasa dalam konteks sinema Indonesia. Sebelumnya konflik orangtua dilihat dari sudut pandang anak selalu dipecahkan dengan membaiknya hubungan ayah dan anak itu. Namun AADC menawarkan sebuah pemecahan yang lain. Perceraian adalah jalan keluar dari persoalan dan Alya akan ikut dengan ibunya. Dengan begini bentuk keluarga single parent mulai diperhitungkan sebagai sebuah usulan bentuk alternatif keluarga yang biasanya selalu berbentuk ayah-ibu dan anak.

Namun pada beberapa film yang tak bertumpu pada konflik keluarga, tampaknya bentuk keluarga single parent tak lagi dipersoalkan dan diterima begitu saja. Pada film peraih Piala Citra 2004, Arisan! tokoh Sakti (Tora Sudiro) dibesarkan hanya oleh ibunya. Tak pernah terlihat ada figur ayah di keluarga itu. Demikian juga pada film Brownies dimana tokoh Mel (Marcella Zalianty) digambarkan hanya memiliki ibu dan tak mempunyai ayah. Pada kedua film ini tak digambarkan kemana ayah mereka, dan memang tak penting. Keluarga single parent sudah diterima begitu saja.

Penerimaan terhadap keluarga single parent ini tampaknya menjadi cermin bagi perubahan-perubahan sosial lebih besar yang terjadi pada masyarakat Indonesia. Film bagaimanapun merupakan sebuah media yang berusaha merekonstruksi ulang kenyataan. Para pembuat film secara sadar memiliki cara pandang terhadap kenyataan yang diserapnya kemudian melakukan rangkaian pilihan para kenyataan-kenyataan itu dan merekonstruksi ulangnya dalam media film. Dengan demikian tentu ada hubungan timbal balik antara penggambaran-penggambaran yang dibuat dalam film mereka dengan kenyataan yang dilihat oleh para pembuat film ini.

Dengan banyaknya bentuk keluarga single parent ini ditampilkan dalam film-film Indonesia, sineas Indonesia secara sadar maupun tidak, sedang mencatat sebuah perubahan dalam masyarakatnya. Kita bisa berspekulasi pada penyebab-perubahan ini pada tingkat wacana maupun kenyataan. Pertama, pada tingkat wacana bisa jadi ada semacam pembalikan dari wacana yang selama ini dikampanyekan oleh Orde Baru. Selama pemerintahan Orde Baru, kita masih ingat kampanye keluarga berencana selalu diiringi dengan semacam slogan “norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera”. Slogan ini diiringi dengan berbagai gambaran sebuah kelurga yang terdiri dari ayah-ibu dan dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Penggambaran dan slogan ini demikian massif memasuki berbagai aspek kehidupan. Sedikit banyaknya wacana ini mendapatkan antitesisnya dengan tumbangnya pemerintahan Orde Baru. Bisa jadi secara tidak sadar, antitesis itu muncul pada media semacam film. Selain itu berbagai gerakan sosial juga tampak lebih permisif terhadap wacana bentuk keluarga yang beragam, tidak lagi harus ayah-ibu dan anak-anak. Mungkin perkembangan beragamnya bentuk keluarga ini terefleksi secara tidak sadar dalam sinema Indonesia belakangan ini.

Kedua, berbagai peristiwa perceraian mendapatkan pemaparan yang masif belakangan ini dengan kemunculan berbagai tayangan infotainmen. Bisa jadi hal ini turut menyumbang terhadap gambaran bahwa keluarga dengan ayah-ibu dana anak-anak tidak lagi menjadi sebuah locus ideal kehidupan pribadi. Bentuk keluarga dengan ayah-ibu dan anak tak lagi diterima sebagai satu-satunya pilihan. Sebuah keluarga single parent bisa sama diterimanya sebagaimana bentuk keluarga konvensional yang kita kenal selama ini. Karena kenyataan atau pemaparan terhadap penggalan kenyataan ini sudah menyodorkan kegagalan lembaga perkawinan dan bentuk keluarga konvensional selama ini. Maka tak heran jika para pembuat film memilih untuk merekonstruksikan kenyataan seperti yang mereka lihat ini.