Tuesday, February 15, 2005

Pertapa yang Keras Kepala

Pertapa yang Keras Kepala
Sekilas tentang Stanley Kubrick
Oleh: Eric Sasono

Jika kehebatan seorang pembuat film diukur dari kemampuannya mempertahankan sikap keras kepala, maka Stanley Kubrick akan menjadi juara. Kubrick dikenal sebagai seorang sutradara yang penuh determinasi dalam berkarya. Orang-orang yang bekerjasama dengannya umumnya mengakui bahwa Kubrick selalu berhasil ‘memaksakan’ keinginannya kepada para kru maupun pemain. Hal ini dilakukan Kubrick bukan dengan cara marah-marah ataupun membentak. Kubrick justru lebih banyak tampak diam dan merenung. Tetapi dengan ucapan yang lembut dan sangat persuasif dia biasanya berhasil membuat perintahnya tak dapat ditolak. Ada peristiwa menarik ketika ia mengarahkan seorang aktor kawakan Perancis Adolf Menjou dalam film Paths of Glory (1957). Menjou sempat sangat berang ketika Kubrick memintanya mengulang-ulang sebuah adegan. Menjou menceramahi Kubrick selama beberapa menit menyatakan bahwa dirinya adalah seorang aktor matang yang sudah pengalaman dan tak memerlukan perintah puluhan kali semacam itu dari seorang sutradara muda macam Kubrick. Dengan tekun dan penuh perhatian, Kubrick mendengarkan omelan dari Menjou. Ketika Menjou selesai bicara, Kubrick bertanya: “apakah Anda sudah selesai?” Menjou menjawab, ya, bahwa dirinya sudah selesai. Lantas Kubrick dengan tenang meminta Menjou melakukan adegan yang sama lagi. Wajahnya tak berubah sama sekali, seakan omelan Menjou bermenit-menit tadi tak ada artinya sama sekali. Akhirnya Menjou mengalah dan mengulang adegan tersebut.

Gambaran di atas adalah salah satu anekdot yang berkembang seputar diri Stanley Kubrick. Banyak anekdot lainnya dari banyak orang yang pernah bekerjasama dengannya. Umumnya menyatakan bahwa Kubrick sangat keras kepala. Ia bahkan sempat membuat kameramannya tersinggung ketika ia berkeras mengintip di belakang kamera. Sang kameraman merasa tersinggung karena pekerjaannya dicampuri sedemikian jauh oleh sutradara. Mengetahui krunya marah, Kubrick berusaha membujuknya dengan lembut dan sabar. Sekalipun demikian, sang kameraman, Russel Metty, terus mengeluh. Kubrick tetap menyuruhnya untuk duduk saja dan tak mengerjakan apa-apa. Ini terjadi pada proyek film Spartacus (1960). Ternyata Russel Metty naik ke atas panggung penganugerahan piala Oscar untuk mendapatkan penghargaan cinematography terbaik!

Kubrick adalah seorang yang percaya bahwa seorang sutradara harus mengetahui tentang kamera. Bukan sekadar itu, bahkan ia beranggapan bahwa sutradara harus memegang sendiri kameranya agar bisa berhasil mendapatkan gambar yang diinginkan, dan tidak menyerahkannya begitu saja. Hal ini bisa dimengerti dari latar belakang Kubrick sebagai seorang fotografer. Kubrick yang seorang Yahudi kelahiran kota New York ini memulai karir sebagai seorang fotografer. Pada usia 16 tahun, foto hasil jepretannya sudah berhasil dimuat di sebuah majalah bergengsi yang terbit di kota New York, Look. Pada usia 17 tahun, ia direkrut oleh majalah itu, dan menjadi fotografer termuda yang pernah direkrut oleh Look sepanjang usia sejarah majalah tersebut. Kemudian minatnya pada kamera terus meningkat. Setelah fotografi, ia mendapatkan hadiah sebuah kamera untuk membuat film. Dan pada usia 23 tahun ia mengumpulkan uang dari keluarganya untuk membuat film panjang (feature) pertamanya. Lahirlah film Day of The Fight di tahun 1951. Film ini ide dasarnya didapat Kubrick dari esai foto tentang kehidupan seorang petinju yang pernah dimuat di majalah Look.

Sukses terbesar yang diraih Kubrick di awal karirnya adalah ketika ia membuat Paths of Glory, sebuah film yang mengambil setting perang dunia pertama. Film itu berkisah tentang sekelompok tentara Inggris yang berada di front yang membuat kesalahan. Kesalahan ini berujung pada pengadilan militer. Dalam situasi demikian, pemimpin para prajurit itu, Kolonel Dax (Kirk Douglas), mencoba untuk mengungkapkan kebenaran yang terjadi dalam situasi yang dihadapi oleh para prajuritnya. Dax melihat para prajuritnya sedang berada dalam kondisi moral tempur yang sangat rendah. Hal ini selama ini coba untuk ditutupi dari para jenderal dan dimanipulasi sedemikian rupa. Pengadilan militer itu mencoba untuk mencari kambing hitam bagi kesalahan para prajurit-prajurit dan menuduh mereka sebagai pengecut. Hukuman mati menanti mereka. Dax menjadi pembela bagi para prajurit dan berargumen bahwa ada yang salah dengan moral prajurit selama ini.

Dalam film ini, Kubrick dianggap mampu mengubah cerita mengenai peperangan menjadi konflik mengenai moral tempur dan degradasi yang dialami administrator peperangan. Dia tak sekadar menggambarkan perang, tapi melihat kemanusiaan yang menjadi korban dalam peperangan. Kubrick dianggap sudah menghasilkan sebuah karya yang sangat unik mengenai peperangan. Banyak pujian yang dilontarkan kepadanya dari para kritikus. Film itu memang tak terlalu sukses di pasar komersial, tapi kerja Kubrick sebagai seorang sutradara mulai dihitung oleh industri film Hollywood. Dari proyek Paths of Glory ini, Kubrick mendapat kepercayaan dari Kirk Douglas untuk mengerjakan sebuah proyek besar, Spartacus (1960), sebuah film epik tentang pemberontakan budak di masa kejayaan Romawi yang dipimpin oleh Spartakus.

Spartakus menuai sukses dalam pandangan banyak kalangan akan kerja keras Stanley Kubrick. Dia dianggap mampu mengerjakan sebuah proyek besar dengan dana besar. Tapi proyek ini menjadi titik balik bagi Stanley Kubrick. Sepanjang proyek ini berlangsung, perdebatan antara Kubrick dengan Kirk Douglas (yang menjadi pemain utama sekaligus produser film ini) terus terjadi. Kubrick yang keras kepada dan sangat determinan merasa bahwa kreatifitasnya terhalangi dengan serius. Akibatnya, Kubrick menjadi patah arang dengan proyek yang didominasi oleh produser. Sejak proyek ini Kubrick bertekad untuk sepenuhnya independen dari campur tangan produser yang menentukan segalanya. Bahkan lebih jauh lagi, Kubrick memutuskan untuk pindah dari New York dan menjauhi kehidupan glamor pembuat film di Amerika.

Meskipun Kubrick lahir di New York, ia menghabiskan akhir hidupnya di sebuah desa di Inggris. Ia tampak tidak suka dengan kehidupan kota New York dan kehidupan glamour seorang pembuat film. Ia seakan menjadi seorang pertapa yang mengundurkan diri dari dunia ramai. Terakhir kali ia ‘turun gunung’ adalah ketika ia menyutradarai pasangan paling glamor Hollywood pada masanya, Tom Cruise dan Nicole Kidman, dalam Eyes Wide Shut. Sekalipun film ini menuai berbagai kritik pedas, Eyes Wide Shut tetap merupakan sebuah pernyataan penting Kubrick dalam sejarah kreatifnya.

Kubrick kemudian menghabiskan akhir hidupnya di sebuah desa di pinggiran kota London. Dia menolak bermacam wawancara, karena Kubrick merasa bahwa banyaknya wawancara malahan membuat dirinya lebih disalahpahami ketimbang dipahami. Lagipula ia terkesan bosan dengan wawancara-wawancaranya selama ini yang lebih banyak merupakan wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan konseptual dan filosofis yang membutuhkan penjelasan panjang lebar. Padahal pertanyaan-pertanyaan itu sangat wajar muncul ketika kita menyaksikan karya-karyanya. Ia mirip seorang pertapa yang dengan sengaja menjauhi keramaian dan terus merenungi dunia dan sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri.

Sekalipun Kubrick tidak banyak mengerjakan proyek-proyek, dalam kepalanya tetap terdapat proyek besar yang tak pernah diwujudkannya sampai dia meninggal. Salah duanya adalah Napoleon, sebuah biopic --film biografi-- tentang tokoh besar Perancis itu dan adaptasi dari sebuah cerita pendek Brian Aldiss yang berjudul Super Toys Last All Summer Long. Untuk yang terakhir ini, Kubrick menyimpannya sejak tahun 1968 dan ia merasa tak sanggup memvisualkan cerita itu. Atau paling tidak, belum ada teknologi yang mampu membuat visualisasi yang meyakinkan dari cerita pinokio modern itu. Sampai tahun 1993 ketika Kubrick menonton Jurassic Park karya Steven Spielberg, Kubrick yakin bahwa Spielberg adalah orang yang tepat untuk menyutradarai film itu. Proyek ini terus berkembang sekalipun lambat karena adanya perbedaan visi mendasar antara mereka. Sampai Kubrick meninggal, proyek itu tak terwujud. Akhirnya Spielberg membeli hak adaptasi film itu yang sudah sejak lama di tangan keluarga Kubrick dan kemudian memproduseri dan menyutradarai sendiri proyek film tersebut dengan judul Artificial Intellegence atau A.I.

Menilik pada proses kreatif Kubrick, ada tiga hal besar yang akan kita bicarakan di sini. Ketiga hal ini bisa memperlihatkan kekeraskepalaan Kubrick dan kerjanya yang sangat teliti. Kedua hal itu terasa mengganggu bagi para kru dan pemainnya tetapi justru dari dua hal inilah Kubrick berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah perfilman dunia. Beberapa karyanya berhasil lahir dengan catatan monumental karena keberhasilannya mempertahankan sikap keras kepada dan ketelitiannya pada detail. Tiga hal yang akan saya bahwa di sini adalah penulisan, arahan akting kepada pemainnya dan pembangunan set film.

Penulisan
Kebanyakan --atau nyaris semua-- film-film Kubrick merupakan adaptasi dari novel. Memang beberapa ide dimulai darinya, tetapi kemudian ia mencari referensi dan akhirnya mengambil sebuah novel sebagai sumber utama penulisan skenario filmnya. Misalnya pada film Dr. Strangelove or: How Stop Worrying and Love the Bomb (1960), ide film itu berasal dari Kubrick. Ia memiliki ide untuk membuat sebuah film mengenai perang dingin dan ancaman nuklir yang mengiringinya di tahun 1950-an. Kemudian ia mulai berlangganan berbagai publikasi periodik seperti Aviation Week dan Bulletin of Atomic Scientist. Di sana Kubrick mulai mencari bahan-bahan yang dibutuhkannya untuk membuat cerita mengenai ancaman perang nuklir. Sampai akhirnya ia merasa tak menemukan yang dicarinya. Kemudian Kubrick bertanya kepada Alistair Bucahn, kepala lembaga bernama Institute of Strategic Studies di Inggris. Buchan merekomendasikan sebuah novel berjudul Red Alert karya Peter George. Novel yang sangat serius dan detail ini berhasil membuat kesan yang kuat terhadap Kubrick untuk menjadi bahan dasar cerita filmnya. Dari sinilah Kubrick memulai penulisan skenario filmnya. Di tengah proses penulisan itu, Kubrick merasakan sesuatu yang ganjil. Dialog-dialog yang dibuatnya berdasar adaptasi novel ini dimaksudkan sangat serius, tetapi terdengar sangat lucu bagi orang awam seperti dirinya. Namun dialog-dialog ini tak terhindarkan untuk menjelaskan situasi dan problem yang dihadapi tokoh-tokoh dalam film itu.

Maka kemudian Kubrick memutuskan untuk menjadikan film itu sebagai film komedi satir. Lantas lahirlah ide membuat Dr. Strangelove. Kubrick kemudian bersama Peter George dan mengajak Terry Southern, penulis komedi komikal terkenal pada periode itu yang dianggap salah satu penulis penting beat generation, untuk menggarap Dr. Strangelove. Mulailah mereka bertiga menuliskan kisah komedi satir mengenai perang nuklir ini. Hasilnya, jadilah Dr. Strangelove sebagai salah satu film komedi satir terbaik tentang perang yang pernah dibuat sepanjang masa. Kredit tambahan bagi penulisan film ini adalah pada improvisasi pada dialog-dialog yang Peter Sellers, yang memerankan tiga orang dalam film ini. Sekalipun demikian, ide Kubricklah yang membuat film ini menjadi sebuah komedi satir yang penting.

Proses kreatif penulisan Kubrick memang sesuatu yang penting, sekalipun dia lebih banyak melakukan adaptasi novel ketimbang penulisan sendiri ceritanya. Kubrick percaya sekali bahwa penulisan adalah awal proses kreatif sebuah pembuatan film. Kubrick percaya bahwa segala sesuatu yang bisa dituliskan (dalam bentuk novel) harus bisa difilmkan. Terbukti juga dari sebuah rangkuman wawancaranya di majalah Sight&Sound, dia menjelaskan bahwa sebuah novel yang baik untuk difilmkan bukanlah novel yang mengandung banyak aksi, melainkan novel yang bergulat dengan kehidupan batin tokoh-tokohnya. Hal ini adalah sesuatu yang istimewa mengingat biasanya para sutradara lebih menggemari novel yang penuh aksi ketimbang novel yang berfokus pada pergulatan batin tokoh-tokohnya. Karena visualisasi pergulatan batin kerap menjadi sesuatu yang tidak menarik secara visual.

Kubrick mencontohkan sikap banyak orang yang pesimis ketika ia mengadaptasi novel karya Vladimir Nabokov, Lolita. Pendapat para kritikus, novel itu menjadi bagus justru karena gaya prosa Nabokov yang unik dan menarik. Tapi menurut Kubrick ada kesalahpahaman mengenai sebuah novel yang baik. Gaya prosa tersebut hanyalah satu aspek dari sekian aspek lain yang menyebabkan novel tersebut dikatakan novel yang baik. Yang terpenting justru adalah obsesi sang penulis terhadap apa yang ingin diungkapkannya. Hal inilah yang melahirkan sebuah karya yang baik. Gaya kemudian lahir pula dari obsesi ini gune meyakinkan pembaca akan pergulatan persoalan yang dituangkan oleh si penulis dalam novelnya tersebut. Aspek inilah yang menurut Kubrick harus diubah menjadi drama dalam sebuah film, dan bukan semata-mata gaya penulisan. Dramatisasi dalam film ini harus menemukan gayanya sendiri, untuk benar-benar bisa mendapatkan muatan seperti yang dikehendaki oleh novel tersebut. Inilah proses adaptasi yang dipercaya oleh Kubrick.

Namun proses ini tidak sepenuhnya disetujui oleh para penulis yang novelnya dia adaptasi. Beberapa penulis merasa sangat kecewa dengan hasil film yang dikerjakan Kubrick berdasarkan dari adaptasi novel mereka. Beberapa penulis menjadi kesal bahkan marah ketika novel mereka diadaptasi oleh Kubrick menjadi film. Buat mereka, Kubrick dianggap menghilangkan esensi yang ingin mereka sampaikan, atau malahan seakan sedang menulis cerita sendiri yang lain sama sekali dengan yang diinginkan sang penulis. Contoh penulis yang kecewa berat pada Kubrick adalah Anthony Burgess, penulis asal Inggris dan Stephen King, yang sangat terkenal dengan karya-karya misterinya.

Kubrick mengadaptasi novel Burgess, A Clockwork Orange menjadi film berjudul sama. Dalam novel tersebut, Burgess menggambarkan perilaku kekerasan sekelompok anak muda dalam sebuah masyarakat masa depan yang serba teratur dan kaku. Perilaku kekerasan itu merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap kemapanan yang membosankan. Bahkan dengan sangat menarik, Burgess menciptakan semacam gaya bahasa slank yang digunakan oleh anak-anak muda ini yang disebutnya bahasa nasdat. Penciptaan bahasa ini sebetulnya dimaksudkan Burgess semacam perlawanan literer pula terhadap kekakuan penggunaan bahasa Inggris pada karya-karya literatur. Maka jelas sekali pesan Burgess akan anti kemapanan sosial dan kultural dalam novelnya ini.

Namun dalam film, Burgess merasa poin kekerasan sebagai sebuah kritik sosial dan kultural dihilangkan oleh Kubrick. Alih-alih menggambarkan kekerasan sebagai kritik sosial, Kubrick, menurut Burgess, memindahkan perilaku kekerasan itu sebagai sebuah dorongan nonsense yang dimiliki oleh sekelompok anak muda, khususnya Alexander DeLarge, tokoh utama dalam A Clockwork Orange. Memang ada kesamaan dalam penggambaran Alex antara novel Burgess dan film Kubrick. Namun ada perbedaan mendasar dimana pada bab terakhir novel itu, Bab 21, Burgess memasukkan solilqui Alex yang sedang merenungi kekerasan yang digelutinya selama ini. Dengan adanya solilqui ini, Burgess merasa bahwa ia masih memiliki pertanggungjawaban moral untuk tidak dikatakan mempromosiakn kekerasan. Alex akhirnya sampai pada kesimpulan mengenai keharusan berhentinya kekerasan pada satu titik. Sedangkan pada filmnya, soliloqui itu dihilangkan, atau tidak dianggap penting oleh Kubrick. Sehingga tokoh Alex nyaris seperti tak pernah mendapat pencerahan tentang perilaku kekerasan yang dilakukannya.

Film A Clockwork Orange memang beroleh kecaman pedas, terutama karena penggambaran kekerasan dan sex-nya yang vulgar. Bahkan film ini sempat dilarang di Inggris, negara tempat pembuatannya. Film ini tampak seakan memihak pada kekerasan. Sampai Burgess kemudian membuat pembelaan bahwa adaptasi terhadap novelnya oleh Kubrick bersumber dari novel terbitan Amerika. Pada edisi Amerika novel A Clockwork Orange, satu bab yaitu bab ke-21 dihilangkan. Padahal menurut Burgess, di sanalah letak pembelaan dirinya terhadap kekerasan tersebut. Pada bab itu, Burgess menggambarkan Alex mempertanyakan dirinya sendiri tentang pemujaannya terhadap kekerasan dan sex yang dijalaninya selama ini. Dengan penghilangan bab itu dan adaptasinya oleh Kubrcik, Burgess seakan ingin berlepas tangan dari kecaman terhadap film A Clockwork Orange. Bahkan ia terkesan muak dan lelah pada kontroversi yang muncul akibat film A Clockwork Orange, sehingga banyak orang luput melihat karyanya yang lain.

Namun Kubrick merasa bahwa tidak masuknya Bab 21 novel dari A Clockwork Orange bukan persoalan betul. Menurutnya, jika bab tersebut dimasukkan ke dalam narasinya, dia malahan merasa gagal menghasilkan sebuah ironi yang dalam tentang kekerasan. Dengan ataupun tanpa bab 21 tersebut, Kubrick akan tetap membuat filmnya seperti yang sudah dia kerjakan.

Penulis yang juga sempat kecewa berat pada Kubrick adalah Stephen King. Novel King, The Shining, diadaptasi oleh Kubrick menjadi film berjudul sama dengan peran utama Jack Nicholson. Sesudah menonton film tersebut, King merasa penggambaran Kubrick jauh sekali dari novelnya. Alih-alih menggambarkan horor yang menimpa tokoh-tokohnya, Kubrick justru menggambarkan bahwa horor tersebut justru hadir dari kegilaan sang tokoh. Hal ini sangat mengecewakan Stephen King yang merasa tak pernah menciptakan karakter demikian dalam novelnya.

King kemudian sempat meminta Kubrick untuk mengubah film tersebut dan mengharap agar Kubrick lebih setia pada teks yang sudah dikarangnya. Namun Kubrick dengan kekeraskepalaannya menolak mentah-mentah permintaan King. Kubrick bersikeras bahwa ia telah membeli hak mengadaptasi novel tersebut, dan itulah karya yang dihasilkannya. Bahkan kabarnya Kubrick tidak menonton hasil akhir film ini. King merasa kesal sampai akhirnya ia mencari pendana dan memproduseri sendiri sebuah miniseri dari novelnya tersebut. Miniseri televisi itu diberi judul Stephen King’s The Shining, dengan niat sengaja untuk secara implisit mengatakan bahwa The Shining karya Kubrick bukanlah adaptasi resmi dari novelnya. Sebegini jauhlah kekesalan King terhadap Kubrick.

Akting
Kubrick sering digambarkan sebagai seorang yang perfeksionis. Ia kerap mengulang sebuah adegan kecil berkali-kali, bahkan hingga puluhan kali untuk mendapatkan gambar yang paling diinginkannya. Bahkan sempat diceritakan seorang actor berusia 75 tahun mengulang adegan menutup pintu mobil hingga 97 kali!! Hanya untuk adegan menutup pintu sebuah mobil. Dengan banyaknya pengambilan gambar untuk sebuah adegan, Kubrick menjadi salah satu sutradara yang memiliki shooting ratio tertinggi di Hollywood. Shooting ratio adalah perbandingan antara pengambilan gambar yang dilakukan (take) dengan potongan gambar yang dipakai pada film. Sebuah shooting ratio yang normal di Hollywood, biasanya 1:5 (satu berbanding lima). Sutradara yang agak boros biasanya hingga 1:10. Namun Kubrick dalam sebuah filmnya pernah mencatat shooting ratio hingga 1:100!! Ini adalah sebuah kemanjaan luar biasa dari seorang sutradara.

Namun urusan pengambilan gambar yang dilakukan berulang-ulang ini ternyata bagi sebagian orang dilihat sebagai sebuah metode penyutradaraan Kubrick yang unik. Sutradara besar Hollywood lainnya, Steven Spielberg, dalam pengantarnya untuk buku biografi Kubrick, Kubrick: Life In Pictures, yang ditulis oleh Christiane Kubrick, mengatakan bahwa Kubrick adalah sutradara yang mampu menekan seorang pemain hingga keluar batas-batas kenormalan seorang manusia. Kemudian ketika aktornya sudah berada di luar batas kenormalan ini, Kubrick menjadikannya semacam sebuah standar kenormalan baru. Tampaknya memang ini adalah metode Kubrick jika melihat bagaimana para pemainnya berakting. Meraka tampak bisa memasuki sebuah peran orang-orang yang berada dalam kondisi temporary insanity atau ketidakwarasan sementara. Dalam keadaan ini Kubrick membuat para pemainnya secara konstan berada dalam kondisi tersebut dalam film-filmnya. Ini dapat dilihat misalnya pada akting Jack Nicholson pada The Shining yang menghasilkan sebuah baris (line) yang sangat legendaries: “Heeere’s Johnny!” Line ini menjadi legendaris bukan karena sifatnya yang cerdas dan jenial melainkan karena konteks karakter yang mengucapkannya berada dalam keadaan insanity yang nyaris melewati ambang batas manusia. Ini tentu lahir selain dari kemampuan akting luar biasa dari Jack Nicholson, juga dari arahan Kubrick yang menggunakan metode di atas. Pada beberapa pemain lainnya, tampak juga bagaimana temporary insanity itu jadi bagian dari elemen akting terkecil mereka. Misalnya Malcolm McDowell sebagai Alex DeLarge dalam A Clockwork Orange dan Ryan O’Neill dalam Barry Lyndon serta Tom Cruise dalam Eyes Wide Shut. Akting mereka terasa sekali berbeda dengan akting yang mereka lakukan dalam film-film mereka yang lain. Jadi tampaknya Kubrick dengan sengaja membuat para pemainnya merasa terganggu (annoyed) dengan pengambilan-pengambilan ulang dan detil-detil akting yang diulang-ulang terus hingga mereka mencapai batas daya tahan mereka mempertahankan kenormalan, dan jadilah itu sebuah akting yang tidak biasa sama sekali.

Temporary insanity ini jika dilihat dari karakter Kubrick tampaknya memang berasal dari kepribadian Kubrick sendiri. Salah satu adegan yang selalu memperlihatkan kondisi manusia yang tidak normal ini adalah adanya glaring, atau menatap ke depan dengan mata yang mendelik. Nyaris seluruh tokoh-tokoh utama dalam film-film Kubrick melakukan glaring ini. Bahkan jika diperhatikan dengan baik, tokoh komputer HAL 9000 dalam film 2001: A SPace Odyssey-pun sempat membuat kesan glaring pada salah satu adegan. Yang menarik adalah bahwa dalam berbagai foto, tampak Kubrick juga kerap memperlihatkan posisi glaring, terutama ketika dia sedang berada dalam keadaan sangat bergairah dalam bekerja.

Set Film
Akting yang tidak biasa itu memang dihasilkan oleh perhatian Kubrick yang besar pada detail. Sama halnya dengan pembangunan set bagi film-filmnya. Ia sangat rajin melakukan survey. Survey ini biasanya dilakukannya sendiri dan tidak diserahkan pada orang lain agar ia dapat mengarahkan awak filmnya untuk memenuhi keinginannya. Beberapa set film Kubrick dianggap sangat detil dan sangat mirip dengan aslinya. Dalam Dr. Strangelove misalnya, Kubrick melihat sebuah majalah penerbangan yang memuat gambar interior pesawat pengebom B-52. Sekalipun tim art director sudah sempat membangun sebuah set untuk tempat pengambilan gambar interior pesawat tersebut, Kubrick memintanya untuk diganti total dengan mengacu pada gambar majalah yang dilihatnya itu. Dan set ini kemudian diakui oleh kalangan penerbangan sebagai set film yang nyaris seratus persen mirip dengan keadaan interior pesawat B-52.

Masih di Dr. Strangelove, Kubrick sempat meminta akses untuk melihat dan mengambil foto interior briefing room di Pentagon. Ini kemudian dijadikan dasar untuk membangun set briefing room film tersebut. Dan hingga kini, banyak kritikus dan pengamat film mencatat bahwa briefing room di Dr. Strangelove termasuk salah satu set film yang paling hebat yang pernah dibuat.

Catatan lain tentang set film adalah pada pesawat luar angkasa yang ditumpangi oleh astronot Bowen (Keir Dullea) dalam 2001: A Space Odyssey. Untuk mendekati kemiripan dengan keadaan sebenarnya, Kubrick melakukan riset ke NASA untuk mendapatkan gambaran kondisi pesawat luar angkasa dalam keadaan hampa udara. Maka hingga kini, set pesawat luar angkasa pada 2001 masih dapat dinikmati tanpa terasa bahwa film itu dibuat tahun 1968!

Penutup
Stanley Kubrick bagaimanapun adalah orang yang penuh kontroversi. Tema-tema dalam filmnya adalah gugatan terhadap hidup yang kita anggap wajar. Kemanusiaan seperti didesak oleh Kubrick untuk menjawab situasi-situasi tidak normal yang menimpa para tokoh dalam filmnya. Celakanya, Kubrick selalu menggambarkan bahwa kemanusiaan gagal secara ironis dalam mempertahankan kewarasannya itu. Maka tak heran film-film Kubrick dilarang atau dikritik keras ketika dirilis, termasuk di negara-negara yang berpikiran cukup terbuka, termasuk di Inggris.
Tema-tema dalam film Kubrick ini memang lebih mirip gugatan para filsuf ketimbang tamasya visual semata. Namun bekal ketrampilan Kubrick yang tinggi dalam membuat film menjadikan karya-karyanya mampu berbicara. Mudah-mudahan saya sempat membahasnya juga.

Sumber tulisan:
Duncan, Paul. Stanley Kubrick, The Complete Films, Taschen, 2003.
www.visual-memory.co.uk
Spielberg, Steven. “Introduction” dalam Kubrick, Christiane. Kubrick: Life in Pictures.
www.imdb.com

1 Comments:

Blogger Proper Ways said...

Tingkatkan RANKING WEBSITE secara otomasits dengan SOFTWARE baru ini.
Dapatkan di LINK GENERATOR SOFTWARE

Saya telah ping blog ini ke search engine sebagai ucapan terima kasih kepada pemilik blog.

3:51 PM  

Post a Comment

<< Home