Tuesday, February 08, 2005

Orang-orang di Aceh yang Saya Temui

Oleh: Eric Sasono

Kunjungan saya ke Aceh begitu membekas. Saya membutuhkan waktu agak lama untuk menghapuskan gambaran yang membuat depresif itu dari kepala saya. Namun apa yang saya lihat dan dengar di sana terus memanggil-manggil untuk saya tuliskan.
Selain laporan-laporan resmi yang saya buat untuk kantor saya, Internews Jakarta, ada hal-hal yang saya pikir berharga untuk saya tuliskan. Saya perlu mengendapkannya sehingga agak lama saya menurunkan beban pikiran ini ke dalam tulisan. Selain itu laporan-laporan juga menyita cukup waktu.
Tulisan inipun terbatas pada orang-orang yang saya temui di bidang media, bidang yang saya geluti. Saya tidak tahu orang-orang di bidang lain, dan saya tak mau sok tahu. Silakan Anda baca jika ada waktu.



Sekembali dari Aceh, saya merasa ada kekosongan dalam diri saya. Bagaikan kita baru melakukan perjalanan pulang dan rumah tempat tinggal kita sudah berubah. Tiba-tiba saya bagai tak mengenali lagi kamar tidur, furniture, kamar mandi dan segala yang ada di dalam rumah. Bukan karena istri saya tiba-tiba berinisiatif menata ulang rumah saya. Tapi karena tiba-tiba ada pandangan baru yang membuat saya melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Hal ini terjadi karena bencana tsunami itu demikian besar. Sudah capek kita mendengar skala bencara, baik dalam hitungan ilmiah maupun dari kacamata awam. Saya menemui satu ukuran lagi yang tak terbayangkan oleh saya sebelum berangkat ke sana: ukuran daya tahan kemanusiaan. Sebenarnya satu dua kisah yang diceritakan di media membuat saya bisa membayangkan betapa kemanusiaan menjadi pertaruhan besar dalam bencana ini. Orang yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Pekerjaan yang tiba-tiba hilang. Kesempatan pengembangan diri yang hancur sama sekali. Usaha yang sudah dibangun susah payah tiba-tiba harus kembali ke titik nol. Ya, titik nol.
Orang Aceh selama ini membanggakan bahwa kilometer nol negeri ini ada di provinsi mereka. Kini titik nol tersebar di seluruh provinsi. Segalanya harus dimulai dari awal. Dari soal fisik hingga soal paling abstrak. Tanah harus dipagari lagi agar kepemilikan tidak menguap. Infrstruktur harus ditata ulang untuk mendukung kehidupan yang baru. Mungkin foto keluarga tahun depan bagi keluarga-keluarga di Aceh masih akan diiringi tangis duka karena ingatan akan bencana ini..

Saya dibesarkan dalam kemewahan. Pikiran ini terus menghantui saya sepanjang hidup ketika melihat gaya hidup saya selama ini. Literature pilihan, film-film seni, musik indie dan obscure menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Belum lagi keberadaan ekonomi yang bisa membuat saya mendapatkan semuanya. Tapi kunjungan ke Aceh kali ini membuat saya berpikir bahwa kemewahan adalah kata yang kelewat halus untuk menerjemahkan gaya hidup saya itu.
Tidak, saya tidak sedang meratapi kemalangan saudara-saudara kita di sana. Justru sebaliknya. Saya merasa bahwa kata ‘mewah’ untuk gaya hidup saya jadi terlalu halus ketika melihat orang-orang yang bertahan hidup. Sulit untuk membayangkan diri saya berada pada kondisi mereka. Dan saya tak ingin sok tahu pura-pura bisa menjadi diri mereka. Saya tetaplah saya dengan segala atribut dan kemewahan yang saya punya. Tapi saya merasa bahwa orang-orang yang saya temui di Aceh patut beroleh sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar perhatian. Semangat mereka untuk bertahan hidup patut dirayakan. Pelajaran harus diambil untuk menilai kembali ukuran kemanusiaan kita. Inilah yang saya dapatkan dari beberapa orang yang saya temui sepanjang perjalanan saya tiga minggu di Aceh.

Irwan Djohan
Dia adalah pemilik radio Prima FM. Saya tak mengenalnya dengan baik sebelum peristiwa tsunami. Sesekali saya mendengar namanya disebut ketika orang membicarakan radio Prima. Radionya sendiri adalah sebuah radio yang punya karakter kuat di Banda Aceh. Format yang dipilihnya adalah sebuah format yang tak bisaa, format musik, news and talk dengan target utama pendengar kelas menengah. Setahu saya penduduk lapisan ini tak terlalu tebal di Banda Aceh, sehingga mungkin pendengar radio ini tak terlalu banyak. Tapi dengan pilihan semacam ini mereka berhasil membangun sebuah citra yang kuat. Citra radio dengan eksklusivitas yang tinggi dan keberanian mendiskusikan hal-hal yang tabu dalam diskusi publik.
Setelah kembali dari Aceh barulah saya sedikit mendengar tentang Irwan Djohan. Seorang teman bercerita bahwa ketika Irwan pindah dari Aceh ke Jakarta, hal yang dibicarakannya adalah ‘perempuan Jakarta cantik-cantik’. Saya tak tahu kebenaran hal ini, tapi menurut saya Irwan bukan seorang yang penuh heroisme dan idealisme berlebih. Di Jakarta ia membuka sebuah production house audio visual. Menawarkan berbagai program ke banyak TV, tapi yang tembus hanya acara reality show ngerjain orang berjudul ‘Kopaja’ alias Komedi Paling Jahil yang nasibnya terpuruk setelah terjadi kasus dengan acara sejenis bertajuk MOP di televisi lain. Jika dilihat dari acara TV yang diproduksinya itu, jelas acara ini bukanlah sebuah acara yang punya idealisme menjadi semacam patokan diskusi publik sebagaimana radio Prima di Banda Aceh yang dimilikinya. Mungkin ia memang ingin berbisnis saja.
Saya berada di radio Prima ketika mereka sedang membangun kembali studio radio Prima di rumah milik keluarga istrinya Irwan. Saat itu banyak teknisi bekerja, dipimpin oleh Santoso dari Radio 68H. Seperangkat peralatan pemancar dan studio on-air dengan cepat berhasil didirikan oleh tim dari Radio 68H. Saya agak terkejut juga dengan kecepatan kerja teman-teman dari 68H. Saat kami baru melakukan survei, mereka sudah sangat nyata membantu teman-teman broadcaster di sana. Di satu sisi mungkin ini adalah kesigapan Mas Santoso dan kawan-kawan di 68H. Namun saya percaya sisi lain dari kecepatan bergerak ini adalah sikap Irwan dan karyawannya di Radio Prima yang juga cepat tanggap dan tak menyerah dengan bencana besar yang menimpa tanah kelahiran dan saudara-saudara mereka.
Hal yang membuat saya terkesan dengan Irwan adalah ketika saya bertanya kepadanya: sampai kapan ia akan tinggal di Aceh. Pertanyaan ini saya ajukan karena saya tahu sudah sejak lama ia tinggal di Jakarta. Sejak tahun 2002 ia memutuskan bahkan untuk menetap selamanya di Jakarta. Alasan untuk itu adalah sesuatu yang sangat emosional. Ayahnya, Teuku Djohan, wakil ketua DPRD Aceh, ditembak mati oleh orang tak dikenal pada tahun itu. Sejak itulah ia memutuskan untuk menetap dan membuka usaha di Jakarta.
Namun ketika pertanyaan tadi saya ajukan, ia menjawab,
“Entah sampai kapan. Pasti sampai semuanya kembali menjadi normal. Mungkin lima-sepuluh tahun. Saya tidak tahu..”
Saya berkerut kening seakan bertanya: mengapa? Tanpa perlu saya ajukan, ia menjawab dengan kalimat berikut:
“Buat saya, inilah saatnya orang kembali ke Aceh. Anda tak bisa mengaku orang Aceh kalau pada saat seperti ini Anda justru meninggalkan Aceh. Buat saya orang yang pergi dari Aceh saat Aceh sedang kesusahan, bukanlah orang Aceh. Buat saya, mas Eric (ia menunjuk saya ketika mengatakan hal ini) adalah orang Aceh, karena Mas Eric datang justru saat Aceh sedang kesusahan..”
Saya tertegun pada nada chauvinisme dalam kalimatnya itu. Tapi saya kagum pada satu hal. Hal itu dikatakannya selanjutnya:
“Dulu ketika ayah saya meninggal ditembak, saya benci sekali pada orang Aceh. Kebencian saya begitu besar sehingga saya meninggalkan Aceh. Tapi sekarang kebencian itu hilang. Saya harus melakukan sesuatu untuk Aceh. Sekarang, bukan nanti!”
Tak mudah untuk menyingkirkan kebencian seperti yang digambarkannya. Saya belum pernah mengalami hal sebesar itu dalam hidup saya: ayah kita ditembak mati oleh orang tak dikenal. Tentu Irwan sudah melakukan sebuah perjalanan besar dalam dirinya hingga ia memutuskan untuk kembali ke Aceh dan berbuat sesuatu untuk orang-orang yang pernah dibencinya.
Saya tidak mau merayakan ini sebagai heroisme. Mungkin juga ia menafsirkan hal ini sebagai sesuatu yang biasa saja. Mungkin sesudah radionya kembali berdiri, ia akan kembali membuka bisnis di Aceh. Ini sempat dikatakannya, bahwa seorang temannya mengajaknya membuka bisnis bengkel mobil otomatis di Aceh. Mungkin ia seorang yang pragmatis saja. Namun pragmatisme Irwan tetap sesuatu yang besar bagi saya. Ia melakukan sesuatu --terserah apapun motivasinya-- untuk daerahnya. Chauvinismenya menghilang di balik sikap dalam keputusannya. Jiwa besar mungkin memang bisa muncul dalam suasana sulit semacam ini.

Sudarmi Hasan Maulana
Sudarmi Hasan Maulana tak pernah membayangkan harus berada dalam kesulitan sesudah bencara tsunami ini. Ia dikirim dari RRI Makassar untuk mengepalai RRI Banda Aceh. Sebagai seorang pegawai negeri ia mematuhi keputusan ini sekalipun ada perasaan terbuang dalam dirinya.
Sudarmi berasal dari Makassar. Ia tadinya hanya menyangka akan ditempatkan selama setahun di Banda Aceh untuk menangani RRI di sana secara sementara. Tapi ternyata setahun berlalu, ia juga tak dipindahkan kembali. Sampailah tahun ketiganya di Banda Aceh ketika gempa dan tsunami melanda daerah itu.
Sudarmi beruntung ia tak berada di rumah pada saat bencana itu terjadi. Tempat tinggalnya berlokasi di daerah Blower, dekat dengan lapangan Blang Padang, sekitar 3 kilometer dari pantai. Daerah itu termasuk yang cukup deras terlanda tsunami. Sudarmi dan keluarganya selamat dari bencana.
Sesudah bencana, Sudarmi langsung berpikiran untuk tetap bekerja. Ia memimpin karyawannya untuk tetap mengudarakan RRI Banda Aceh. Namun mustahil melakukannya dari lokasi RRI di daerah Blower. Sudarmi memutuskan untuk segera ke Indrapuri, 23 kilometer dari Banda Aceh, tempat berdirinya studio pemancar cadangan RRI Banda Aceh. Pada tanggal 28 Desember, mereka sudah berhasil ke Indrapuri. Pemancar sebetulnya sudah bisa menyala, tapi mereka tak punya listrik. Generator cadangan segera disiapkan. Tapi karena selama ini generator tersebut tak dinyalakan, maka baterenya tak bisa menyala. Mereka harus menunggu dua jam sampai akhirnya mendapat bantuan sebuah batere dari mobil yang melintas di Indrapuri. Tanggal 28 Desember 2004 pada pukul 14.00, dua hari sesudah bencana, RRI Banda Aceh sudah mengudara kembali dari Indrapuri.
Namun mereka mengudara tidak terlalu lama. Segera solar untuk bahan bakar generator habis. Mereka akhirnya bergerilya membeli solar sana sini untuk tetap mempertahankan siaran. Sementara itu bantuan berdatangan. RRI Medan dan Jakarta segera mengirim orang untuk membantu liputan tetap berjalan. RRI Lhokseumawe meminjamkan satu unit mobil outdoor broadcast untuk siaran dari lapangan.
Sementara siaran dilakukan dengan cara gerilya semacam ini, Sudarmi dan anak buahnya berusaha membersihkan kembali studio di daerah Blower. Tak ada perhatian khusus kepada RRI. Akhirnya dengan suatu cara ia berhasil membersihkan kembali studio RRI di daerah Blower.
Ketika saya datang ke studio itu, suasana memang masih kotor. Lumpur tebal masih tampak di depan studio. Di lantai satu masih penuh Lumpur dan barang-barang yang bergelatakan tak tentu arah dan bentuknya. Saya sendirian menemui Pak Sudarmi di ruang kantornya yang sudah bersih dan ber-AC.
Sebentar saja saya bicara untuk mengetahui luka yang disimpannya diam-diam. Sesudah saya basa-basi menawarkan bantuan, ia tampak tersenyum senang.
“Baru adik inilah yang datang kemari menengok kami menawarkan bantuan. Tadi pagi ada tim UNESCO juga datang menawarkan bantuan.”
Saya bertanya dalam hati mengapa ia perlu menegaskan hal ini.
“Karena atasan kami, Dinas Infokom, sama sekali tak menengok kami. Mereka malahan mengejek, kenapa RRI tak siaran sejak tsunami. Saya Tanya balik: bapak tahu gelombang kami? Tak bisa jawab, dia. Itulah. Dia tak tahu kami sudah siaran sejak 28 Desember. Jangankan dia menengok dan menanyakan kabar kami. Dia malahan mengejek..”
Suaranya agak bergetar ketika mencritakan hal ini. Saya pikir ini sikap yang kelewat sensitive saja. Tapi saya akhirnya bertanya juga siapa saja yang sudah menengoknya.
“Duetcshe Welle sudah datang. Begitu juga NHK. Lantas UNESCO dan adik inilah..”
Saya kaget juga. Sudah tiga minggu bencana ketika saya datang mengunjungi mereka, dan mereka seperti terlupakan. Saya bersyukur sekali saya sempat mendatangi mereka.
Sore harinya ketika saya datang kembali ke studio RRI bersama atasan saya, Kathleen Reen, ia sempat bergurau:
“Yang datang malah yang dekat-dekat, yang jauh tidak..” katanya sambil tersenyum.
Ketika saya terjemahkan ini ke Kathleen, Kathleen agak tercenung.
“Maksudnya kebalikannya, kan?”
“Bukan. Justru ia ingin menggambarkan ironi. Tak ada orang dekat yang ingat RRI. Orang dari jauhlah yang ingat. Ia sengaja berkata demikian untuk menegaskan ironi.” Kata saya. Dan Kathleen tercenung.
Namun ada hal lain yang membuat saya mencatat Pak Sudarmi di sini. Ketika saya tiba di studio RRI Banda Aceh saya meminta izin untuk berkeliling melihat kerusakan, terutama di lantai satu. Pak Sudarmi dan salah satu karyawannya, Mukhlis, melarang saya. Saya masih ingat kata-kata Mukhlis.
“Tak usahlah. Masih banyak mayat di auditorium..”
Saya tercenung. Masih banyak mayat di auditorium? Maksudnya?
Saya tak perlu bertanya, karena Mukhlis kemudian menjelaskan.
“Mayat-mayat itu belum dievakuasi. Masih tertumpuk kayu dan furniture. Alat berat terhalang untuk masuk ke dalam. Ada tower di samping..”
Saya kemudian mengerti bahwa auditorium itu terletak di bagian belakang gedung RRI. Letaknya memang menyulitkan bagi alat berat untuk masuk. Jika masuk dari samping kiri, akan terhalangi oleh sayap kiri bangunan RRI. Sedangkan masuk dari sayap kanan terhalang oleh konsturksi besi tower antenna RRI. Mau masuk dari belakang juga tak mungkin karena terhalang oleh perumahan penduduk. Akibatnya mayat-mayat masih menumpuk di dalam.
Sudarmi sempat bercerita bahwa ketika membersihkan gedung RRI, sebanyak 158 mayat harus diangkut dari dalam gedung dan halaman RRI. Letak gedung itu memang tepat di depan lapangan Blang Padang. Pada saat kejadian, di lapangan Blang Padang sedang ada gerak jalan dan lomba lari 10K. Para korban dari Blang Padang itulah yang terperangkap di dalam gedung RRI. Termasuk yang masih berada di dalam gedung.
Saya tidak menyadari dramatisnya mayat yang masih ada di dalam gedung ini, sedangkan di lantai dua orang-orang sudah mulai bekerja lagi. Sampai sore harinya.
Sore hari itu juga saya bertandang kembali bersama Kathleen Reen, seperti saya singgung di atas tadi. Kami asik berbincang, sampai Kathleen kemudian mengeluarkan kamera dari tasnya. Ia berniat mengambil gambar-gambar kondisi RRI. Pak Sudarmi membiarkan saja. Kali ini tak ada Mukhlis yang jelas-jelas melarang. Saya kemudian tetap tinggal di dalam ruangan bersama Pak Sudarmi berbincang-bincang. Terutama membincangkan sebuah alat perekam lapangan Marantz PMD222 yang kami sumbangkan kepada RRI Banda Aceh sore itu juga. Kami memang membawa beberapa alat bekas yang masih sangat layak pakai untuk disumbangkan secara spontan kepada rekan-rekan broadcaster.
Saya ingat kami asik sekali berbincang mengenai penggunaan alat perekam yang akrab dipanggil Marantz itu. Saya menjelaskan fungsi-fungsinya kepada Pak Sudarmi. Agak lama juga, sekitar 20 menit kami berbincang. Dan Kathleen belum kembali. Sampai akhirnya perbincangan soal Marantz sudah selesai dan kami kembali duduk berhadapan.
Kami sedang bercakap-cakap soal sehari-hari. Dari sini saya bisa tahu bahwa Pak Sudarmi kini tinggal di lantai 2 gedung RRI. Keluarganya diungsikan di Batam. Biasanya ada satu dua staf menemaninya sambil siaran di ruang siaran.
Tiba-tiba Kathleen masuk. Saya terkejut sekali melihat matanya bengkak dan hidungnya berair: ia baru saja menangis.
Dengan susah payah ia berusaha tampak biasa-biasa saja. Tapi tampak sekali tidak bisa. Pak Sudarmi akhirnya bertanya kepada Kathleen dengan bahasa Inggris yang lancar. Kathleen menjawab bahwa ia baru saja kembali dari ruang auditorium. Ia melihat mayat-mayat itu tergeletak di tengah tumpukan puing di sana..
Saya dan Pak Sudarmi sedikit kaget. Tampak Pak Sudarmi sedikit menyesal membiarkan Kathleen sampai ke sana. Akhirnya Kathleen pamit dengan suara masih terasa sisa menangisnya. Pak Sudarmi mengikuti kami ke bawah dengan maksud melepas kami pergi.
Sesampai di bawah, Kathleen tampak berjalan duluan. Saya masih sempat berbincang dengan Pak Sudarmi. Ia mengatakan bahwa diperkirakan jumlah mayat di audiotorium itu sekitar 60. 60 mayat!
Sampai di sini saya tertegun panjang. Bagaimana mungkin ia bisa tinggal di kantornya dan bekerja seakan tak terjadi sesuatu apa di lantai 2, sementara di lantai satu masih tergeletak sekitar 60 mayat? Apa yang bisa membuatnya bertahan dalam suasana demikian? Saya sempat bertanya, apa yang bisa membuatnya bertahan.
Pak Sudarmi agak lama tak menjawabnya. Ia diam saja, bagai bingung dengan pertanyaan semacam itu. Ia menghela napas panjang dan kemudian tak menjawab pertanyaan itu. Akhirnya sebelum berpisah, saya sempat berkata kepadanya, “Saya harus belajar banyak dari Bapak..”
Ia diam saja menunduk. Saya merasa mata saya agak basah.
Kemudian saya menemui Kathleen yang tampak masih menunggu. Kemudian ia berkata dengan suaranya yang masih tampak menangis.
“Eric, bisa kamu bayangkan orang-orang ini? Mereka bekerja seakan-akan tak terjadi apa-apa. Padahal di lantai bawah masih ada mayat bergeletakan?!”
Kemudian akhirnya airmata Kathleen tumpah. Ia terus berkata sambil menangis tentang nasib orang-orang ini. Di kejauhan tampak Pak Sudarmi mengamati kami. Juga dua orang supir kami yang tampak bingung melihat Kathleen. Terus Kathleen tumpah, sampai saya merasa ia akan memeluk saya untuk menumpahkan tangisnya itu. Dorongan untuk memeluknya juga ada pada diri saya. Saya hampir tak bisa menahan diri, melihat tangisnya yang membanjir. Namun saya masih bisa menahan diri. Akhirnya saya hanya merangkul pundaknya sedikit. Bagaimanapun ia masih atasan saya.
Sampai akhirnya ia agak tenang dan kami berjalan berpisah. Saya ke mobil saya dan Kathleen ke mobilnya. Di dalam mobil, Pak Juliar, sopir saya bertanya apa yang menyebabkan Kathleen menangis. Saya menceritakan pengalaman yang baru saja kami alami. Pak Juliar menghela napas dan diam. Saya terus bercerita dengan suara yang bergetar. Saya bisa merasakan getaran suara saya. Pak Juliar kemudian membuat komentar yang tak terlalu saya ingat.
Kemudian saya palingkan wajah ke samping. Saya menangis, bisa saya rasakan Pak Juliar melirik ke arah saya.

Jamal Abdullah
Saya mendengar nama ‘Jamal’ sebelum saya bertemu orangnya. Asalnya dari sebuah lagu tradisional Aceh berjudul Huzat. Lagu itu dinyanyikan kembali olehnya dan direkam kemudian di-mix dengan musik bergaya new age. Lagu itu terus terang saja mengingatkan saya pada lagu-lagu terbaik milik kelompok Deep Forrest, kelompok musik new age yang paling saya sukai.
Lagu Huzat itu saya dengarkan di studio radio Visi FM, Jl. Daud Bereuh, Banda Aceh. Komposernya adalah Maulana, anak dari Syamsul Kahar, pemimpin redaksi harian Serambi Indonesia. Maulana memang menjadi contact point kami selama di Banda Aceh. Saya tidur satu ruangan bersamanya setiap malam di rumah salah seorang karyawan harian Serambi. Saya kemudian meminta Maulana untuk menurunkan musik itu ke CD sehingga saya bisa mendengarkannya pada kesempatan lain.
Saat itu saya ingat sekali saya dan Kathleen sangat terkagum-kagum pada musik ini. Saya berpikiran untuk membawanya ke Torben Brandt, teman saya dari Denmark yang bekerja untuk UNESCO. Torben biasanya menjadi direktur untuk pertemuan budaya tahunan Asia-Eropa di Kopenhagen. Beberapa tahun terakhir ia selalu membawa seniman dari Indonesia, terutama seniman muda, untuk menjadi tamu. Saya berpikir siapa tahu ia bisa membawa Jamal dan timnya untuk ikut serta dalam pertemuan tahunan itu. Bahkan secara bercanda saya katakana seandainya saya kenal Peter Gabriel, saya akan berikan contoh musik ini kepadanya. Bisa jadi Gabriel berminat untuk memproduksi ulang. Maulana tertawa keras akan bercandaan ini.
Tanpa diduga Kathleen menyebutkan bahwa ia mengenal orang yang kenal baik dengan Peter Gabriel. Kathleen berkata bahwa ia bisa saja membujuk orang itu untuk membawanya kepada Gabriel. Dan besar kemungkinan Gabriel akan bersedia bekerjasama dengan para seniman Aceh ini untuk sebuah proyek kemanusiaan.
Kata-kata Kathleen ini membuat Maulana melongo. Saya masih ingat betul bagaimana mulut Maulana tiba-tiba terbuka dan ia tak dapat berkata apa-apa. Saya dan Kathleen sama-sama menanti reaksinya. Ia hanya berkata: “Peter Gabriel, maan..” Rupanya dalam mimpinya yang paling liar sekalipun ia tak membayangkan bahwa ia akan bekerjasama dengan Peter Gabriel.
Lalu keesokan harinya ketika saya berkunjung kembali ke Visi FM, Maulana mengatakan bahwa Jamal ada di situ. Saya terkejut campur senang. Saya kagumi sekali karyanya dan saya pikir saya akan bertemu orangnya. Ketika saya memasuki ruangan studio produksi Visi FM saya melihat Maulana dan Kathleen sedang berbincang dengan seorang laki-laki. Kepalanya plontos. Badannya kekar. Kulitnya legam. Kumisnya tipis menyambung ke jenggot. Matanya sangat tajam, agak mirip dengan bayangan saya akan tatapan mata Jenghis Khan. Sepintas tampak sekali ia orang yang keras hati dan penuh tekad. Saya langsung menyalaminya dan berterus terang bahwa saya mengagumi komposisi Huzat. Di luar dugaan saya, ia tak tetap dingin dan cool, melainkan tersenyum senang dan berterimakasih. Saya malahan merasakan kerapuhan dalam jabat tangannya.
Seketika kami berbincang. Saya langsung mengeluarkan alat perekam yang selalu saya bawa kemana-mana. Saya minta ia memainkan gendang dan bernyanyi. Kemudian ia bernyanyi sebuah lagu tradisional yang biasa dimainkan di tarian debus. Setelah selesai bernyanyi, ia menjelaskan makna lagu itu.
Akhirnya saya terpancing untuk mewawancaranya. Saya tak tahu untuk apa, tapi saya tetap mewawancaranya. Terekam. Semata-mata dari rasa penasaran saja saya ingin mengetahui bagaimana proses kreatif dia ketika membuat komposisi Huzat itu. Komposisi ini memang dibuat sesudah terjadinya tsunami.
Wawancara itu akhirnya saya produksi dan saya jadikan program radio untuk disebarkan ke kota-kota lain. Tapi ini tidak penting.
Wawancara kami sempat terpotong ketika datang dua orang dari USAID. Mereka adalah Restu, seorang program development specialist, dan Alfred, atasannya. Mereka memang diundang oleh Kathleen ke studio Visi FM untuk melihat fasilitas produksi audio mereka.
Sekitar hampir satu jam kami berbincang di kantor Visi FM. Terutama untuk memikirkan kemungkinan membantu mereka untuk berproduksi. Sehingga mereka bisa bekerja lagi dan memperoleh uang untuk membeli makanan. Percakapan mengarah pada keharusan pembuatan proposal oleh Visi FM kepada USAID. Restu sendiri memastikan apabila proposal itu memang baik, USAID akan membantu mereka.
Di ujung pembicaraan, saya sempat membujuk mereka untuk mendengarkan dulu komposisi Huzat. Alas an saya adalah untuk mendengar contoh produksi yang pernah dikerjakan oleh Visi FM. Alfred dan Restu kemudian setuju. Berkumpullah kami di ruang studio produksi Visi FM.
Karena bangku di ruang studio itu tak mencukupi, akhirnya kami semua duduk di lantai. Kemudian Daniel, manajer di Visi FM mengutak-atik komputer sebentar. Sebuah PSA produksi Visi FM segera diputar. Setelah selesai, saya berkata pada Daniel untuk memutarkan Huzat. Kathleen tampak mengangguk-angguk. Kemudian ia menjelaskan kepada Alfred soal komposisi itu. Tak lama, mengalunlah komposisi Huzat.
Suasana tenang ketika komposisi itu memenuhi ruangan.
Semua orang duduk di lantai.
Tak ada suara lain selain komposisi itu.
Hampir seluruh kepala melihat ke arah lantai seperti mengheningkan cipta.
Hanya Alfred yang kepalanya terjepit di antara kedua lututnya.
Kemudian saya mendengar suara tangis.
Semua orang di ruangan mendengar suara tangis.
Saya ingat kami saling berpandangan mencari suara tangis itu. Sampai akhirnya semua bisa tahu bahwa suara tangis itu berasal dari Alfred. Kami semua menghela napas panjang.
Komposisi terus bermain, di tengah udara yang terasa berat.
Tangis Alfred mengiringi pelan sekali.
Sampai akhirnya komposisi selesai, dan tak ada yang bicara.
Kalimat pertama yang terdengar adalah suara Alfred minta maaf. Ia tak menjelaskan apa-apa tentang tangisnya itu, tapi semua orang mengerti maknanya. Paling tidak, saya merasa mengerti apa makna tangisan itu.
Suasana semacam itu tak enak dipertahankan lama-lama. Alfred pula lah yang mengakhirinya dengan sangat baik. Kami akhirnya kembali ke ruangan kantor. Restu dan Alfred pamit, mengatakan bahwa mereka harus menghadiri pertemuan yang lain. Saya dan Kathleen tinggal di kantor Visi FM.
Tak banyak kami membahas mengenai komposisi Huzat itu. Tak enak rasanya bahwa komposisi itu bisa membuat seorang dewasa yang matang pengalaman seperti Alfred sampai menangis. Tapi saya mengatakan pada Jamal bahwa komposisi itu luar biasa bagus, memang. Jamal tak bereaksi apa-apa.
Maulana kemudian menerangkan pada Jamal bahwa saya dan Kathleen mencoba untuk melakukan sesuatu terhadap komposisi tersebut. Bahkan mungkin membawanya ke Peter Gabriel. Ketika Maulana mengucapkan kalimat ini, saya bisa merasakan seluruh ruangan menunggu reaksi Jamal. Paling tidak, saya sangat ingin mengetahui apa reaksinya. Ia terdiam. Ia sedang memainkan sebatang rokok, dan wajahnya tak berubah sama sekali.
Saya bingung, tapi tak mengajukan pertanyaan apa-apa. Kathleen lah yang mengajukan pertanyaan: bagaimana perasaaanmu dengan kemungkinan-kemungkinan itu.
Jamal menarik napas sebentar. Wajahnya masih tak berubah. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berada jauh dari ruangan itu.
“Kalau aku sih, gak mikir ke sana..” katanya. “Aku malah kepikiran ngajarin anak-anak nari..”
Terus terang saya kaget dengan jawaban ini. Saya yakin Kathleen juga kaget. Apakah gerangan yang membuatnya berpikir demikian?
“Aku tak mau mikir yang jauh dulu. Anak-anak di kamp pengungsian ini perlu dikasih perhatian. Ajari mereka nari, dan nanti seminggu sekali dipentaskan. Orang dewasa bisa menonton. Begitu..”
Terus terang saya agak malu dengan ide besar saya tentang pertemuan budaya Asia-Eropa dan Peter Gabriel itu. Kerendahhatian Jamal jauh lebih berarti dan nyata ketimbang mimpi semacam itu, sekalipun kesempatan mewujudkan mimpi itu memang di depan mata.
Ketika pamit, ada rasa malu dalam diri saya. Betapa sederhananya kepedulian Jamal.

Sekali lagi semua yang saya tulis di sini adalah hasil sebuah kunjungan singkat yang tak mampu menyelami seluruh isi hati dan jiwa mereka. Saya merasa beruntung dapat kesempatan bertemu mereka, di dalam masa-masa sulit. Entahlah apakah saya membantu atau justru menyulitkan beban mereka. Yang jelas dari mereka saya belajar tentang kemanusiaan, sesuatu yang batasnya tak pernah saya bisa ketahui.

1 Comments:

Blogger Proper Ways said...

Tingkatkan RANKING WEBSITE secara otomasits dengan SOFTWARE baru ini.
Dapatkan di LINK GENERATOR SOFTWARE

Saya telah ping blog ini ke search engine sebagai ucapan terima kasih kepada pemilik blog.

3:44 PM  

Post a Comment

<< Home