Friday, February 11, 2005

Kenapa Black Mamba Berkulit Putih?

Kenapa Black Mamba Berkulit Putih?
Quentin Tarantino dan film-filmnya
Oleh: Eric Sasono

In 2003, Uma Thurman will kill bill.

Kutipan ini berasal dari promosi film keempat Quentin Tarantino, Kill Bill Volume I. Kutipan itu berasal dari tahun 2002. Ketika sudah semakin mendekat ke waktu pemutarannya, In 2003 berubah menjadi In December. Tentu ini adalah strategi promosi. Karena film Tarantino memang ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya. Enam tahun Tarantino tak meluncurkan karya apapun sejak Jacky Brown (1996). Maka banyak sekali yang menanti kejutan apalagi yang akan dihadirkan oleh Tarantino sesudah pencapaiannya yang dianggap luar biasa dalam Reservoir Dogs (1992) dan Pulp Fiction (1994). Dan Kill Bill ternyata berhasil mendatangkan kejutan.

Tarantino memang salah satu ikon terpenting Hollywood 1990-an. Bisa jadi ia merupakan seorang filmmaker yang paling banyak dibicarakan belakangan ini. Sebelum film pertamanya, Reservoir Dogs, diluncurkan, pembicaraan tentang orang ini sudah ramai di kalangan pembuat film independen di Amerika. Ia terkenal sebagai penulis skenario yang laku dijual ke berbagai studio. Tercatat True Romance (1993) diambil oleh Morgan Creek Production dan disutradarai oleh Tony Scott serta didistribusi oleh Warner Bros. Juga Natural Born Killer (1994) yang disutradarai oleh Oliver Stone yang sangat melambungkan nama Tarantino. Keduanya mendapat sambutan hebat, baik dari penonton maupun dari para kritikus.

Keterkenalan Tarantino di kalangan pembuat film independen disumbang juga ketika ia muncul cameo dalam film Sleep With Me (1994), sebuah film kecil karya sutradara Rory Kelly. Di film itu Tarantino mengarang dialognya sendiri yaitu sebuah ocehan tenang makna tersembunyi dalam film Top Gun yang dibintangi Tom Cruise dan Kelly McGillis yang sempat menjadi box office. Tarantino dengan sangat nakal mengoceh membahas film tersebut dan menyatakan bahwa sebenarnya film Top Gun mengandung muatan tersembunyi bahwa tokoh-tokohnya adalah homoseksual! Ocehan ini dianggap sangat cerdas dan nakal dan karenanya demikian digemari oleh kalangan pembuat film independen di Amerika. Bahkan ketika orang menyebut film Sleep With Me, orang akan lebih mengingat ocehan tersebut ketimbang filmnya sendiri.
Banyaknya desas-desus tentang Tarantino sebelum munculnya Reservoir Dogs, membuat filmnya demikian ditunggu. Dan ketika Reservoir Dogs diputar di Sundance Film Festival, film itu diambil peredarannya oleh Miramax. Sejak itu Tarantino menjadi sutradara kesayangan Miramax. Hubungan Tarantino dengan Miramax, terutama pemilik-direkturnya Harvey Weinstein, begitu istimewa, sampai Tarantino sendiri mengibaratkan dirinya sangat berharga bagi Miramax, sejajar dengan nilai Mickey Mouse bagi Walt Disney. Dengan demikian ia beroleh kebebasan luar biasa dalam berkreasi di Miramax. Hal ini adalah sesuatu yang sangat istimewa karena Harvey Weinsten dikenal sangat besar campur tangannya dalam film-film yang diakuisisi maupun diproduksi oleh Miramax. Saking senangnya Harvey ikut campur dalam produksi film atau ikut mengedit film, baik yang sudah selesai diproduksi maupun yang belum, ia dijuluki sebagai Harvey Scissorshand! Dengan kemampuan Tarantino memperoleh kebebasan macam ini, bisa dipahami latar belakang pemenggalan film terakhirnya, Kill Bill, menjadi dua volume. Tak mungkin sutradara lain bisa mendapat kebebasan sebesar ini di bawah Miramax.

Film Tarantino yang pertama saya sakiskan adalah Pulp Fiction di bioskop tahun 1993. Waktu itu betapa terkejutnya saya menyaksikan struktur plot terbalik-balik, maju mundur seenaknya. Dalam film itu tokoh Vincent Vega yang diperankan oleh John Travolta hidup lagi sesudah kena tembak pada beberapa adegan sebelumnya. Ini merupakan sesuatu yang sangat mengejutkan bagi saya yang relatif baru “melek film” pada tahun-tahun itu.. Saya jadi begitu mengagumi Quentin Tarantino, terutama film Pulp Fiction ini.

Dan ternyata kekaguman itu bukan tanpa alasan. Struktur terbalik-balik dan melipat satu sama lain memang sesuatu yang unik sekalipun tidak sama sekali baru. Sutradara Jepang Akira Kurosawa pernah melakukannya dalam Rashomon (1950) yang diadaptasi dari cerita pendek karya Ryunosuke Akutagawa. Namun sejak Tarantino membuat Pulp Fiction, banyak sutradara kemudian menirunya. Bisa Anda lihat film Amorres Perros dari sutradara Innaritu begitu dipuji banyak kritikus, dan tak akan kita lepas dari benak kita bahwa Innartu berhutang budi sangat besar pada Pulp Fiction. Malahan kemudian muncul istilah di kalangan kritikus dan pengamat film Tarantino-esque atau Quentinian, yaitu ketika sebuah film terlihat jelas sekali menggunakan pendekatan yang digunakan Tarantino, terutama dalam Pulp Fiction. Karena memang inilah film terkuat Tarantino yang sudah berhasil ‘menaklukan’ festival film Cannes yang sarat muatan seni dan juga Academy Award alias Oscar (paling tidak dari skenarionya) sekaligus dan memperoleh $108 juta dolar di Amerika saja ! Ini adalah bukti bahwa idealisme (berkesenian) bisa bertemu dengan komersialisme (banyaknya pendapatan). Jarang sekali ada film yang mampu begini.

Apa sebenarnya yang membuat Tarantino menjadi begitu istimewa dan beroleh pujian besar-besaran dari para kritikus ? Bagaimana pula ia tetap bisa meraih hati penonton dan film-filmnya tetap menjadi box office, sekalipun karyanya sering dianggap sebagai karya seni ketimbang semata-mata film komersial ? Saya tak ingin membahasnya dari aspek industrinya, melainkan ingin mencermati dari kandungan yang termuat dalam film-film Tarantino. Mungkin dari sini, akan terjelaskan sedikit mengenai pertanyaan-pertanyaan tadi.

Bagi saya, sepanjang menonton film-film Tarantino, ada beberapa hal dalam kandungan filmnya yang saya pikir penting artinya dibandingkan dengan banyak sutradara lain serta film-film mereka. Setidaknya, saya mencatat ada empat ciri film-film Tarantino ini yaitu rujukan ke dalam (self reference), kata-kata vulgar yang puitis (poetic profanity), perendengan terbalik (reverse juxtaposition) dan mendahulukan gaya ketimbang bentuk (style rules!).

Rujukan ke dalam
Sebelum menjadi seorang pembuat film, Quentin Tarantino adalah seorang penjaga palwa video. Demikian banyak film yang ditontonnya sehingga ia kerap dijuluki ensiklopedi film berjalan. Dengan kekayaan khazanah film macam ini, Tarantino kemudian bersama rekannya, Roger Avary, melahirkan naskah Pulp Fiction yang sangat kaya akan referensi ke film lain. Dengan sangat fasih, Tarantino bisa mengambil adegan-adegan ataupun elemen-elemen lain dalam sebuah film untuk diwujudkan dalam film yang dibuatnya. Dan Pulp Fiction memang sangat berhasil dalam mengeksplorasi hal itu sehingga film tersebut beroleh Palem Emas di Festival Film Cannes, Perancis serta skenario terbaik untuk Academy Award.

Sebenarnya pada dasarnya banyak sutradara yang memang dengan sengaja “meniru” atau bahkan “mencuri” dari film lain. Pedro Almodovar misalnya mengatakan bahwa jika ada ide bagus dari film lain curi saja, jangan cuma pinjam. Ini dikatakannya dalam buku Filmmaker Master Class. Mungkin Almodovar agak kasar dan sedikit bercanda sinis ketika mengatakan “mencuri”, tetapi jelas sekali banyak sutradara terpengaruh oleh hasil karya para sutradara sebelumnya. Misalnya sutradara besar Steven Spielberg dalam pengantar buku “Kubrick: Life in Pictures” menyebutkan bahwa banyak shot-shot dalam filmnya mengambil atau terisnpirasi oleh apa yang pernah dibuat oleh Stanley Kubrick. Daftar ini bisa diperpanjang sampai tak terhingga.

Namun soal rujukan dalam film memang bukan sekadar sebuah usaha meniru atau mencuri shot dari sutradara lain. Rujukan merupakan sesuatu yang lebih dari itu, yaitu seorang sutradara secara sadar membuat shot-shot atau adegan dengan merujuk pada sesuatu di luar film yang dibuatnya. Bisa jadi hal itu adalah buku, bisa jadi media lain, dan seterusnya. Bedanya dengan “pencurian” seperti yang diusulkan oleh Almodovar, rujukan tak menjadi bagian dalam film, melainkan justru terpisah. Ia bagaikan sebuah catatan kaki pada buku. Sesuatu yang terpisah tapi tak bisa dilepaskan dari teks utama media tersebut.

Dan rujukan-ke-dalam atau self-reference adalah ketika sebuah film merujuk kepada film lain. Yaitu sebuah filmk yang shot-shotnya atau adegan-adegannya atau komponen-komponen lainnya mengacu dengan sangat jelas kepada film lain. Ibaratnya sebuah film dengan catatan kaki berupa film lain. Ketika kita menyaksikan sebuah film yang penuh rujukan, benak kita segera mengaitkannya dengan rujukan tersebut. Biasanya rujukan ini ditujukan untuk menimbulkan efek tertentu. Efek tersebut biasanya menampilkan ironi, menyampaikan humor, atau menimbulkan konteks bagi elemen-elemen film yang kita saksikan.

Jika kita amati sejarah perfilman dunia, sutradara-sutradara dan karya-karya besar banyak menggunakan rujukan-ke-dalam ini. Saya ambil satu contoh film penting. Breathless, karya Jean Luc Goddard. Secara sadar, Goddard merujuk kepada film-film noir Amerika yang banyak diproduksi tahun 1940-50an. Sikap dan gaya akting Jean Paul Belmondo dapat dilacak pada Humphrey Bogart. Sempat diperlihatkan dalam film itu sebuah shot bagaimana Belmondo memandangi sebuah poster film Bogart.

Sebenarnya memang dalam studi film, soal reference atau rujukan, sering diperdebatkan. Apakah sebuah film harus dinikmati dengan mengacu pada rujukan ataukah biarkan sebuah film bicara sendiri tanpa harus merujuk pada apapun, baik film lain atau media lain. Pendapatpun terpecah. Pada dasarnya sebuah film adalah media terpisah, dan tak adil jika harus dilihat selalu dari rujukannya. Film harus bisa berdiri sendiri dan bercerita sendiri dengan bahasanya tanpa harus dirujuk-rujuk ke media lain.

Namun mengabaikan rujukan, menurut saya adalah pengabaian kepada hal penting. Pertama, para pembuat film ketika membuat rujukan, biasanya sengaja membuat “tribute” kepada filmmaker pendahulunya sebagai bukti penghormatan, kekaguman ataupun ledekan. Kedua, dengan mengacu pada rujukan, biasanya pengucapan dalam film menjadi lebih berarti dan punya makna. Ini ibaratnya kita menonton sebuah stand-up comedy yang memiliki banyak rujukan dalam kehidupan nyata. Semakin banyak rujukan dalam sebuah stand-up comedy, biasanya semakin sulit dikunyah-ditelan, tetapi jika memang rujukan itu tepat sasaran dan tepat porsi, akan menyebabkan stand-up comedy tersebut sangat berhasil membuat kelucuan yang terasa cerdas. Nah, bagi saya menonton sebuah film dengan rujukan adalah bagaikan menonton sebuah stand-up comedy.

Dengan pentingnya peran reference dan self-reference dalam film, maka Tarantino adalah nama paling penting dalam sejarah perfilman dunia. Film-film Tarantino dipenuhi dengan self-reference dari film-film yang umumnya termasuk film genre. Film genre ini merupakan film-film yang dengan mudah dikategorikan dalam genre tertentu, dan dibuat dengan niatan mengejar pendapatan. Film-film genre penuh dengan formula-formula baku yang sudah diperhitungkan dengan teliti dan mudah ditebak. Tujuannya tentu saja agar pentonton mudah mengikuti film tersebut dan bisa mengunyahnya dengan baik tanpa harus mengerenyitkan dahi atau menimbang-nimbang makna dibalik penjelasan visual dalam film tersebut. Umumnya film Tarantino memang mengambil rujukan dari film genre, kecuali beberapa shot dan adegan dalam Pulp Fiction yang merujuk diam-diam kepada film karya sutradara Perancis salah satu pelopor Nouvelle Vague, Francis Truffaut.

Pada Reservoir Dogs, saya melihat Tarantino belum menjadi seorang sutradara yang referensial. Sekalipun dalam film-filmnya masih terlacak jejak-jejak film-film gangster, baik film gangster Amerika maupun film gangster produksi Hongkong, tetapi keduanya masuk menjadi bagian film dan tidak berupa rujukan. Tarantino sendiri mengakui bahwa filmnya terinspirasi sebuah film produksi Hongkong berjudul City on Fire (1987) yang dibintangi oleh Chow Yun Fat dan disutradarai oleh Ringo Lam. Dialog, pengadeganan dan sebagainya mengambil banyak sekali dari film tersebut. Dengan demikian Reservoir Dogs dapat dikatakan sebuah film yang “mencuri” ide dari film lain, dan bukan merujuk pada film lain.

Pada Pulp Fiction-lah Tarantino benar-benar mengajukan rujukan-rujukan kepada film lain. Di sini, Tarantino menggabungkan beberapa film sebagai referensinya, baik film genre maupun film non-genre. Untuk film non-genre, terlihat bahwa Shoot the Piano Player karya Francis Truffaut dapat dilacak jejaknya dalam Pulp Fiction. Beberapa shot dalam film tersebut, misalnya ketika Jules Winnfield (Samuel Jackson) dan Vince (John Travolta) bersama menodongkan pistol, mirip sekali dengan adegan yang sama dalam Shoot the Piano Player. Kemudian juga adegan ketika Vince dan Jules mengelap kaca jendela yang kotor akibat darah, bisa diacu dengan tumpahnya susu ke kaca kedua tokoh dalam Shoot the Piano Player.

Rujukan kepada film Truffaut yang lain tampak dalam salah satu dialog dalam Pulp Fiction. Yaitu ketika Jules dan Vince tiba di rumah Jimmie Dimmick (yang diperankan sendiri oleh Quentin Tarantino). Jules memanggil Jimmie sebagai Jim. Kemudian Jimmie meresponnya : Don’t Jim me, Jules.. Jelas sekali dialog ini memiliki catatan kaki kepada Jules et Jim, film karya dari Francis Truffaut lainnya.

Kemudian selain dari Truffaut, Tarantino juga memasukkan jejak-jejak film Brian DePalma, Blow Out ke dalamnya. Pemilihan John Travolta sebagai Vince juga dengan sengaja mengambil dari film tersebut karena Travolta adalah pemeran utama dalam film Blow Out tersebut. Rujukan lain adalah ketika Tarantino mengutipkan makna Pulp Fiction dari sebuah kamus sebagai pembuka film. Ini merujuk kepada Vertigo, karya penting dari sutradara Alfred Hicthcock.

Dalam filmnya kemudian, Jackie Brown (1996), Tarantino menghadirkan rujukan yang lebih jelas yaitu kepada film-film “blaxploitation” tahun 1970-an. Sebagai informasi saja, film-film blaxploitation adalah film-film yang diproduksi dengan kesadaran bahwa potensi penonton Afro-American di Amerika sangatlah besarnya. Dengan kesadaran itu, film-film blaxploitation sengaja mengganti unsur-unsur dalam rumusan baku sebuah film yang laku untuk kulit putih dengan unsur-unsur yang ditujukan kepada penonton kulit hitam Amerika. Beberapa contohnya adalah penggunaan aktris kulit hitam yang cantik dan seksi, penggunaan bahasa dan ungkapan kaum Afro-American, penggunaan musik-musik kulit hitam dan hal-hal semacam ini. Salah satu film blaxploitation yang paling terkenal adalah serial Cleopatra Jones yang dibuat sebagai versi kulit hitam perempuan dari serial agen rahasia Inggris terkenal, James Bond. Dalam Jacky Brown, Tarantino banyak sekali memasukkan film-film blaxploitation sebagai catatan kakinya.
Yang paling utama adalah pemilihan Pam Grier, salah satu nama yang paling penting dalam film-film blaxploitation tahun-tahun 70-an. Ia sempat membintangi film-fillm dari sutradara Jack Hill yang terkenal sebagai sutradara film-film blaxploitation. Dua film blaxploitation karya Jack Hill yang sempat hit yaitu Coffy (1973) dan Foxy Brown (1974) dibintangi oleh Pam Grier. Dengan sengaja sekali Tarantino mengambil Pam Grier yang sudah sampai di akhir umur 40-annya untuk menjadi peran utama.

Kemudian mengiringi hal itu, pilihan musik Tarantino dalam film ini mengikuti hal tersebut dengan penggunaan musik-musik soul-funk tahun 70-an seperti yang dipopulerkan lewat soundtrack untuk serial TV, Shaft yang dikerjakan oleh Isaac Hayes. Shaft sendiri adalah sebuah film tentang polisi kulit hitam yang berkarakter keras.

Namun Tarantino berpesta rujukan dalam Kill Bill, baik volume 1 maupun 2. Kali ini ia memberi giliran pada film-film genre silat tahun 1970-an yang dahulu biasa diproduksi oleh salah satu raksasa pada industri film Hongkong Shaw Brothers. Secara sangat serius, Tarantino bercanda dalam hal ini. Dari pembuka film, ia sudah memulai dengan memunculkan logo SB yang sangat mirip dengan logo Shaw Brothers muncul, musik yang mengiringinya adalah musik yang biasa dipakai oleh film-film Shaw Brothers yang “sangat 70-an” dengan sound mono! Jika Anda menonton film Kill Bill volume 1 di bioskop dengan fasilitas Dolby Sorround atau THX, mungkin akan terdengar sekali kenakalan Tarantino ini.

Dalam pemilihan pemain, Kill Bill juga penuh rujukan. Paling tidak, ada tiga nama penting sering bermain dalam film-film genre Silat tahun 70-80an. Paling tidak tiga nama penting ada di sini. Gordon Liu, salah satu aktor utama dalam film-film produksi Shaw Brothers; Sonny Chiba (aktor kegemaran Tarantino) aktor kelahiran Jepang yang beredar di film-film silat Jepang dan Hongkong serta sempat bermain sebagai Hattori Hanzo (tokoh yang sama yang diperankannya dalam Kill Bill) dalam serial TV Jepang dengan judul sama dengan nama tokoh tersebut; serta David Carradine yang sempat bermain sebagai Kwai Chang Caine dalam TV series Kung Fu dengan mengalahkan salah satu nominator kuat untuk peran itu: Bruce Lee.

Masih segudang lagi rujukan ke genre film silat, terutama film silat Hongkong. Mulai dari keseluruhan struktur cerita (sekalipun plotnya maju mundur) dengan tema balas dendam, Pai Mei yang mengibas-ngibaskan jenggot berkali-kali sambil tertawa palsu, sampai adegan The Bride (Uma Thurman) memikul dua ember kayu sambil mendaki tangga bukit, lengkap dengan pakaian warna coklat tanpa lengan seperti Jackie Chen dalam Drunken Master.

Kemudian rujukan lain dalam Kill Bill adalah film-film “spaghetti-western”, terutama pada Kill Bill volume 2. Film spaghetti-western adalah film-film western, film koboi berbiaya murah yang dibuat oleh negara-negara Eropa, terutama Italia. Misalnya saja film Django (1966) yang diperankan oleh Franco Nero.

Beberapa establish shot untuk membuka adegan menggambarkan padang pasir yang kering dapat dirujuk kepada film-film spaghetti-wesetern. Demikian pula dengan adegan ketika Budd (Michael Madsen) menodong The Bride yang tergeletak, merujuk kepada Django. Yang lebih mencolok adalah musik yang digunakan dalam Kill Bill volume 2, terutama untuk segmen yang melibatkan karakter Budd.

Perendengan Terbalik
Juxtaposition saya terjemahkan sebagai perendengan. Mungkin ini berasal dari bahasa Betawi yang artinya meletakkan dua buah obyek berdampingan untuk dibandingkan. Sengaja tidak saya gunakan kata mensejajarkan, karena kata ini kerap bermakna menyamakan derajat dua (atau lebih) hal yang tidak sama derajatnya. Maka saya gunakan kata perendengan ini.
Film tentu saja mengenal perendengan macam ini. Biasanya obyek-obyek simbolis dalam film dibuat berendeng agar menimbulkan makna-makna diluar obyek itu sendiri. Misalnya perendengan nama dengan karakter, perendengan dua bangunan karakter tokoh dan sebagainya. Contoh? Misalnya karakter Sam Spade (Humphrey Bogart) pada film Maltese Falcon (John Huston, 1944). Spade digambarkan sebagai seorang detektif swasta yang tak bisa diam dan terus menggali fakta sejauh mungkin. Nama Spade (sekop) ini tentu berkaitan dengan karakternya yang suka menggali. Atau misalnya perendengan antara narasi dalam The Third Man (Carol Reeds, 1948) tentang kota Vienna yang terbagi empat dengan gambar polisi internasional di kota itu yang sedang melakukan upacara bersama. Ada contoh lain yang unik dari karakter Jack Gittes (Jack Nicholson) dalam film Chinatown (Roman Polanksi, 1974). Gittes yang sangat besar rasa ingin tahunya (nosy) dilukai hidungnya (nose) karena sifatnya ini. Ini semua adalah contoh perendengan yang sejajar antara dua simbol dalam sebuah film.

Tarantino bukan yang pertama dan satu-satunya yang menggunakan perendengan terbalik. Sudah banyak sutradara lain yang menggunakan ini, untuk menciptakan berbagai efek para gambar-gambar yang mereka buat. Salah satu yang cukup monumental adalah sutradara besar Stanley Kubrick dalam film A Clockwork Orange. Dalam film itu, Kubrick membuat adegan pembunuhan terhadap seorang tokoh perempuan diiringi dengan musik klasik! Dengan penggambaran ini, Kubrick seakan ingin menghadirkan ironi antara keindahan dengan kekerasan. Metode ini begitu kuatnya dan kemudian ditiru oleh banyak sekali sutradara seperti misalnya Francis Ford Coppola ketika membuat adegan penembakan sebuah desa dari helikopter dengan diiringi musik Ride of Valkyiries karya Wagner dalam film epic-nya Apocalyse Now!. Atau Gus Van Sant dalam Elephant yang mengiringi penembakan dalam video game dengan musik Fur Elise-nya Beethoven.

Ironi adalah salah satu kata kunci yang ingin dihadirkan dalam sebuah usaha perendengan terbalik. Dan Kubrick yang sudah membuat gambaran monumental di atas tersebut memang merupakan salah satu sutradara paling depan dalam menghadirkan ironi di film-filmnya. Namun Tarantino punya niatan berbeda dalam menghadirkan perendengan terbalik macam ini. Ia tampaknya hanya ingin bercanda saja. Tak ada poin semacam menghadirkan ironi antara dua simbol. Semuanya berangkat dari selera humor Tarantino saja.

Perendengan terbalik Tarantino bisa dilihat adegan ketika seorang petinju yang diperankan Bruce Willis dikejar oleh bos penjahat Ving Rhames dalam Pulp Fiction. Kejar mengejar mereka malah berakhir di sebuah gudang bawah tanah dua orang rasis militan yang homoseksual. Mereka akan diperkosa bergiliran oleh kedua homoseksual ini. Alih-alih menghadirkan pemecahan antara kedua tokohnya, Tarantino justru menghadirkan sebuah humor yang ironik bagi kedua tokoh yang bergelimang kekerasan ini. Demikian pula ketika John Travolta dan Samuel L. Jackson dalam Pulp Fiction ditembak dari jarak sangat dekat oleh orang yang mereka tagih hutangnya, dan tak satupun peluru berhasil mengenai mereka. Masih dalam Pulp Fiction, setelah karakter Samuel Jackson membunuh orang tersebut, ia terus berceloteh mengenai keinginannya untuk mundur dari dunia kriminal dan memulai hidup baru. Dan ketika ia baru memutuskan hal tersebut, justru ia bertemu dengan dua orang perampok amatir di sebuah rumah makan, dan harus mengatasi mereka – tampaknya ia akan melakukannya dengan kekerasan.

Dalam Kill Bill, perendengan terbalik paling nyata adalah pada karakter The Bride alias Black Mamba alias Beatrix Kiddo yang diperankan oleh Uma Thurman. Dengan sengaja, Tarantino memberi nama Black Mamba kepada karakter yang diperankan oleh sesosok perempuang blonde, tinggi jangkung asal Swedia yang sangat kuat berciri seorang dari ras Arya. Semangat bercanda ini bahkan diwujudkan oleh Tarantino dalam bentuk protes dari Copperhead alias Vernita Green (Vivica Fox) yang berkulit hitam kepada Black Mamba. Copperhead yang berkulit hitam memprotes seharusnya dirinyalah yang mendapat nama Black Mamba dan bukan Beatrix Kiddo yang Aryan itu.

Kata-kata vulgar yang puitis (poetic profanity)
Quentin Tarantino, seperti kita bahas di atas, mengambil inspirasi bagi karya-karyanya justru dari karya-karya populer. Dan ini tampak dengan tingginya tingkat profanity, atau kevulgaran kata-kata dalam dialog-dialog yang dibuatnya. Juga biasanya dialog-dialog yang dibuat Tarantino ditandai dengan ketidakdalaman dan ketidakpentingan tema dialog tersebut. Jelas sekali Tarantino menjadikan tokoh-tokohnya sebagai wayangnya. Dan sebagaimana wayang, tokoh-tokoh dalam film Tarantino dititipinya sang dalang: Tarantino sendiri. Dan kata-kata tersebut adalah kata-kata yang tak penting atau penuh dengan sumpah serapah.

Dalam Reservoir Dogs, dialog di awal film sudah menunjukkan tingginya tingkat profanity. Ketika enam orang karakter utama ini berkumpul di sebuah restoran sebelum berangkat merampok, topik pembicaraan mereka adalah soal memberi tip kepada pelayan dan diskusi tentang lagu Like A Virgin dari Madonna. Alih-alih membicarakan sesuatu yang penuh makna, dialog dalam film ini dimaksudkan sebagai dialog yang sebetulnya tak bermakna dan dapat diganti dengan dialog apapun.

Demikian pula dalam Pulp Fiction. Ketika Vince dan Jules dalam perjalanan, mereka sibuk memperdebatkan mengapa orang Inggris menggunakan sistem metric. Topik ini jelas tak berhubungan sama sekali dengan tujuan kepergian Vince dan Jules, yaitu untuk menagih utang.
Percakapan-percakapan yang sebetulnya isinya hanya nonsense saja dan dipenuhi dengan kata-kata kasar semisal f-word, atau nigger bertaburan dalam film-film Tarantino. Dari sini justru daur ulang Tarantino terhadap produk-produk budaya pop (yaitu film-film pop) mendapatkan artikulasi yang penuh. Alih-alih menghasilkan karya yang menjadi konsumsi kalangan “high-brow”, Tarantino justru membiarkan karyanya bermata dua. Di satu sisi, ia menghadirkan sebuah media pop sebagaimana ia memandang sebuah film. Bagi Tarantino, film adalah media untuk dikonsumsi secara populer, dengan penonton sebanyak-banyaknya. Sehingga ia mengejek gaya elitisme para pembuat film.

Di sisi lain, Tarantino justru memberikan semacam kritik, tepatnya semacam cultural commentary terhadap Amerika. Ia seperti menghadirkan perayaan terhadap budaya Amerika yang cair. Dengan menghadirkan profanity dengan cara seperti ini, Tarantino telah membuat budaya “low-brow”, budaya kelas pekerja di Amerika memiliki nilai kultural yang penting. Di sinilah Tarantino, seperti kata kritikus James Berardinelli, mengatakan bahwa Tarantino telah memberi nilai puitis pada profanity. Relatif hanya Tarantino dan penulis skenario-drama dan sutradara David Mamet yang mampu melakukan hal semacam ini pada dialog-dialog yang mereka buat, atau Kevin Smith yang memang terkenal dengan dialog-dialog yang sangat cerewet pada film-filmnya.

Hal ini dapat dimaknakan sedemikian oleh para kritikus, karena Tarantino memiliki kecerdasan dalam mengarang dialog tersebut. Sekalipun dialog-dialog tersebut menghadirkan nonsense dan dapat digantikan dengan dialog apapun, tetapi selalu menimbulkan semacam gelitikan: kenapa hal itu tak terpikirkan ya…

Coba saja tengok dialog (lebih tepat monolog) antara Bill (David Carradine) dengan The Bride (Uma Thurman) dalam Kill Bill volume 2 tentang Superman. Bill mengoceh tentang Superman sebagai tokoh superhero idolanya ketimbang Batman maupun Spider-Man. Karena kalau tokoh-tokoh lain memakai topeng untuk masuk ke dalam alter-ego mereka, Superman justru sebaliknya. Clark Kent-lah yang menjadi alter-ego bagi Superman. Dengan menjadi Clark Kent, Superman berpura-pura menjadi lemah dan tak berdaya. Clark Kent sebetulnya adalah sebuah kritik Superman terhadap kelemahan manusia! Dialog ini cerdas sekali, dan nyaris tak terpikirkan, bahkan oleh para penggemar komik Superman sekalipun. Di sinilah kecerdasan Tarantino dalam mengolah sumber-sumber produk budaya pop --yang dianggap rendah-- menjadi sesuatu yang punya nilai kultural yang tinggi, sekaligus pada saat yang bersamaan masih dapat dikonsumsi secara pop.

Gaya Ketimbang Bentuk (style rules!)
Tarantino sangat mendahulukan gaya dalam film-filmnya mendahului isi. Sebetulnya dari dialog-dialog yang sarat profanity sudah tampak bahwa dialog bagi Tarantino adalah kendaraan untuk bergaya, bukan untuk mengungkapkan karakter maupun mendorong plot. Demikian pula dengan rujukan-ke-dalam yang semata-mata mendahulukan gaya ketimbang mengajukan premis dalam film-film Tarantino. Hal ini ditambah lagi dengan berbagai elemen lain dalam film-filmnya.

Struktur adalah salah satu yang paling memperlihatkan didahulukannya gaya oleh Tarantino. Seluruh film Tarantino tidak ada satupun yang mempunyai plot atau jalan cerita linear. Ceritanya sendiri sebetulanya sederhana dan bisa dimasukkan dalam cerita beralur maju. Namun Tarantino selalu membaginya dalam segmen-segmen yang bisa dimundurkan-dimajukan semaunya tanpa membuat penonton kehilangan urut-urutan waktu film.
Dalam Reservoir Dogs, film sempat beralur maju, sampai kemudian dua tokoh kunci kembali dari perampokan ini. Mulailah alur berjalan maju-mundur. Adegan flashback masuk mengiringi narasi yang terpisah-pisah sebagaimana diceritakan dari berbagai sudut pandang tokoh-tokohnya. Demikian pula dalam Jackie Brown.

Dalam Pulp Fiction, hal itu sangat jelas dan sempat mengejutkan ketika adegan Vince Vega ditembak oleh Butch (Bruce Willis) muncul dan kemudian lanjutan adegan Vince Vega dengan Mia Walalce (Uma Thurman) muncul kembali sesudah penembakan tersebut. Kesan yang muncul adalah tokoh yang sudah mati bisa hidup kembali. Padahal kedua adegan tersebut adalah milik dua segmen yang berbeda, dengan waktu film yang berbeda. Maka sebetulnya tak ada penghancuran terhadap logika waktu film. Yang terjadi hanya pembolak-balikan plot saja.
Dalam Kill Bill, seperti halnya Pulp Fiction, adegan dibagi dalam bab-bab yang disampaikan tidak secara berurutan. Paling tidak dalam volume 1. dalam volume 2, bab-bab tersebut disampaikan berurutan sehingga tak terjadi urutan yang maju mundur.

Gaya juga didahulukan oleh Tarantino dalam format tampilan di layar. Ini baru pertamakali ia lakukan dalam Kill Bill. Dalam film ini, kita bisa menikmati berbagai format tampilan film di layar bioskop, dan tidak satu saja. Biasanya kita kenali film yang lebih dari satu format. Misalnya format warna untuk alur maju dan format hitam putih untuk adegan flashback. Namun Tarantino tak menggunakan perbedaan-perbedaan format itu untuk mendukung narasi. Ia sengaja hanya bermain-main dengan format saja.

Dalam Kill Bill kita bisa menyaksikan format film hitam putih yang muncul pada awal film, baik volume 1 maupun 2. Kemudian monolog The Bride ke arah kamera pada pembukaan volume 2 yang mengingatkan pada film-film tahun 50-an. Lantas hitam putih dipakai juga pada adegan perkelahian di rumah minum antara The Bride dengan Crazy 88. Dan terakhir, format hitam putih dipakai dalam adegan pembantaian di gereja dua cemara di El Paso, Texas.

Lantas Tarantino juga memasukkan format animasi, yang mengambil bentuk animasi Jepang --anime-- untuk segmen penjelasan tentang masa kecil O-Ren-Ishii. Tampaknya untuk format ini, Tarantino sedang akal-akalan untuk menutupi adegan kekerasan yang sangat frontal di layar seandainya ia menggunakan format live-action. Dengan format animasi, stilisasi animasi berhasil menyamarkan sedikit aspek kekerasan yang frontal.

Kemudian Tarantino juga sempat menggunakan format klasik (1.66 :1) dalam adegan pendek, yaitu sesudah The Bride bangun dari pingsan sehabis ditembak oleh Budd. Format ini kini sudah tak dipakai lagi, dan sekarang film sudah menggunakan format widescreen (1.85:1) atau bahkan cinemascope (2.35:1). Jelas sekali penggunaan format klasik ini bermakna gaya-gayaan saja.
Film Tarantino yang mendahulukan gaya ini terkadang menghasilkan suatu tafsiran terhadap film-filmnya: taknalar (senseless). Ada derajat ketaknalaran (senselessness) dalam film-film Tarantino ketika gaya mendahului muatan. Yang paling mencolok bagi saya adalah adegan The Bride ketika ia masuk ke rumah minum untuk membalas dendam kepada O-Ren-Ishii. The Bride berangkat ke rumah minum itu dengan menggunakan sepeda motor besar dan memakai jaket kulit warna kuning dengan strip hitam sepanjang lengan dan tungkai. Setelah sebentar mengamati rumah minum itu, The Bride kemudian masuk ke toilet dan mencopot jaket kulitnya. Ternyata di balik jaket kulit itu, ia memakai pakaian yang seratus persen sama rupanya dengan jaket kulit itu, hanya bahannya saja yang berbeda. Apa makna adegan itu? Tak ada. Itu hanya bercanda, dan gaya-gayaan yang kelewatan saja. Tak ada penjelasan yang make sense, untuk selera humor macam ini. Dan di situlah Tarantino memperoleh predikat kecerdasan dan selera humor yang tak ada duanya.

Demikianlah Tarantino bagi saya. Ia adalah seorang pembuat film yang sangat melek film. Kebanyakan pembuat film memang melek film. Tetapi Tarantino adalah sebuah ensiklopedi film berjalan. Ia mengingat berbagai judul film dan berbagai detail di dalamnya.

Dengan segudang referensi ini, Tarantino mengerjakan film sebagai sebuah karya seni yang serius. Namun ia tak menggunakan referensi tersebut untuk membuat film-film “seni” yang rumit dan hanya diputar di festival-festival, Tarantino justru sengaja berkreasi dengan menggunakan ungkapan-ungkapan yang popular dan ditujukan untuk menjangkau pasar yang masal. Hasilnya adalah catatan penting dalam sejarah kreatif film dunia.

In 2003, Uma Thurman will kill bill.
Who cares?
Well, style does.

eric sasono

4 Comments:

Blogger Bayu Probo said...

Tulisan Anda benar-benar menarik.

11:49 AM  
Blogger Louih Luganda said...

This comment has been removed by the author.

10:17 AM  
Blogger Louih Luganda said...

This comment has been removed by the author.

10:23 AM  
Blogger Louih Luganda said...

Saya sangat menyukai gaya-gaya dialog di Pulp Fiction. Dan menurut saya gaya dalam Pulp Fiction menjadi rujukan bagi film Snatch seperti yang saya tulis di resensi saya ttg film Snath-nya Guy Ritchie. Silahkan mampir jika berkenan di dillingermoviereview.blogspot.com. Ngomong-ngomong, tulisan anda ini sangat menarik.

10:25 AM  

Post a Comment

<< Home