Wednesday, December 01, 2004

Ketika Rindu Bercerita

Ketika Rindu Bercerita
Eric Sasono, Penulis adalah penikmat dan film, tinggal di Jakarta

Judul Film: Rindu Kami Pada-Mu
Sutradara: Garin Nugroho
Pemain: Didi Petet, Neno Warisman, Fauzi Baadila, Sakurta Ginting, Putri Mulia, Raisa Pramesi, Nova Eliza, Reza Bukan, Jaja Miharja
Penulis: Armantono dan Garin Nugroho

“Ini adalah film saya yang paling komunikatif”, kata Garin Nugroho mengomentari film terbarunya, Rindu Kami Padamu. Dan penonton pun tertawa menyaksikan berbagai adegan lucu dalam film ini. Garin tidak sedang melawak. Ini film dengan tema serius yang rutin berkunjung pada saat-saat menjelang Idul Fitri: kerinduan. Garin menunjuk kerinduan pada keluarga, khususnya sosok ibu, menjadi sebuah benang merah yang menghubungkan antar tokohnya. Setengah bergurau Garin bercerita bahwa ibunya memprotesnya. Pasalnya banyak tetangga ibu sutradara terkenal ini yang protes bahwa mereka tak mengerti film yang dibuat anaknya itu. Garin mengutip ibunya, “jangankan Anda, saya saja yang ibunya tidak mengerti..”
Film Garin kali ini memang jauh dari kesan rumit. Film yang seluruh gambarnya diambil di studio ini bercerita tentang sebuah pasar tradisional dan orang-orang di dalamnya. Di sana tinggal Pak Bagja (Didi Petet), seorang guru ngaji di sebuah musholla tanpa kubah. Dan Salah satu murid Pak Bagja, Rindu (Raisa Pramesi), selalu menggambar mesjid tanpa kubah. Rindu melakukannya tidak sekadar mencontoh musholla tanpa kubah tempatnya belajar, melainkan karena Rindu kehilangan kakaknya --seorang pembuat kubah mesjid-- yang pergi setelah rumah mereka digusur.
Rindu tidak sendirian merasakan kehilangan macam ini. Dua orang anak lainnya, Asih (Putri Mulia) dan Bimo (Sakurta Ginting) juga merasakannya. Bimo tinggal bersama kakaknya Seno (Fauzi Badilla) yang berjualan telur. Ia sangat rindu pada ibunya, dan menggantikan sosok itu pada seorang perempuan yang dipanggil Cantik (yang diperankan dengan baik oleh Nova Eliza). Bimo sering bermain di rumah Cantik dan membuatkan mie instant dengan telur untuk Cantik. Cantik tak keberatan sampai ketika seorang laki-laki yang berniat serius padanya salah duga dan menyangka Bimo benar-benar anak kandung Cantik.
Bentuk kerinduan Asih lain lagi. Ibunya pergi meninggalkan Asih dan ayahnya, Sabeni (Jaja Miharja) akibat tak tahan perlakuan ayahnya yang gemar memukul. Asih mewujudkan kerinduan itu dengan sajadah yang digelar di sampingnya ketika sholat. “Ini untuk ibu”, sambil mendorong orang yang berusaha mengisi sajadah itu.
Cerita kemudian bergulir dari kerinduan ketiga anak itu. Garin menghadirkan simbolisasi yang membuat penonton mengikuti cerita dengan enak. Jika pada film-film lainnya simbolisasi tersebut menjadi tanda-tanda yang rumit dan harus ‘dibaca’ dengan rangkaian referensi yang kompleks, kali ini simbolisasi digunakan Garin untuk memancing emosi penonton. Demikian pula musik minimalis dari Dwiki Darmawan yang sepenuhnya mendukung suasana emosional film ini. Misalnya kemarahan Asih saat menyaksikan gambar penggusuran di televisi yang berhasil memancing keharuan. Emosi bisa juga berupa kelucuan seperti usaha Bimo agar Cantik bisa tertarik padanya. Bimo memecahkan telur dengan celana yang dipakainya kemudian merebus celana belepotan telur itu bersama mie instant untuk disajikan kepada Cantik.
Beberapa pecahan cerita (sub-plot) tentang Sabeni dan Pak Bagja dihadirkan guna mengukuhkan tema kerinduan ini. Sabeni berkali-kali menampakkan kerinduan pada istrinya yang berpesan padanya agar membasuh tangan dengan wudhu agar tak lagi memukul istri. Persoalan keseharian menjadi sebuah religiusitas yang sederhana tapi bermakna dalam. Sementara Pak Bagja memilih tinggal di musholla kecil di tengah pasar dan menghindar dari hiruk pikuk politik seperti pilihan adiknya yang punya pesantren besar. Namun sebuah sub-plot terasa agak mengganggu. Yaitu ketika seorang perempuan muda bernama Fara (Yoellita Palar) yang tinggal di kawasan pasar itu didatangi oleh ayahnya dengan mobil mewah untuk diajak bicara. Fara rindu pada masa-masa dimana ayahnya sering mengajaknya bermain karambol, dan kini sang ayah datang tanpa tahu apa yang harus dikatakan kepada anaknya. Garin menyampaikannya dengan penuh humor dan simbolisme yang menarik. Karambol tiba-tiba berubah dari sekadar permainan menjadi perekat hubungan ayah dan anak.
Dengan sub-plot ini tampaknya Garin ingin menegaskan soal kerinduan yang menjadi milik semua kalangan. Tak peduli apakah orang-orang kecil yang tinggal di pasar tradisional maupun kalangan kelas menengah dengan mobil mewah. Namun sub-plot ini terasa sekali sebagai tempelan yang dihilangkanpun tak berpengaruh terhadap keseluruhan cerita utama film ini. Akhirnya terlihat bahwa kecenderungan simbolisme Garin masih tetap melebar ke berbagai arah, bagai film-filmnya yang lain.
Selain simbolisme yang melebar, film ini masih mengandung beberapa kelemahan. Pertama, adalah dalam teknik penyutradaraan, terutama dalam menampilkan gambar-gambar detil untuk memperkuat adegan, yang dalam teknik penyutradaraan biasanya disebut cover-shot. Pada adegan saat Budi (Reza Bukan) mengajak Farah bermain karambol, Garin tidak mengambil gambar karambol tersebut yang sebenarnya bisa memperkuat adegan tersebut. Juga ketika Pak Bagja memalingkan badan saat anak muridnya pergi satu demi satu, tidak ada gambaran kelas yang kosong untuk memperkuat komedi saat ia berbalik badan dan mendapati ruang yang kosong.
Kelemahan kedua adalah pilihan Garin untuk menyelesaikan masalah dengan terlalu mudah. Jika pada film-filmnya yang lain, Garin cenderung tak menyelesaikan masalah dan berargumen bahwa dalam kehidupan nyata masalah juga tak selesai, di film ini seluruh masalah selesai dengan kebetulan-kebetulan yang agak dipaksakan. Padahal Garin berkata bahwa Rindu Kami Pada-Mu ini adalah filmnya yang paling komunikatif di antara film-filmnya yang lain. Apakah ini berarti bahwa komunikatif adalah menyelesaikan masalah dengan menyederhanakan persoalan?
Lepas dari kelemahan itu, ada pertanyaan yang tak kalah mendasar. Narasi di awal, tengah dan akhir film yang dilakukan oleh Rindu secara terbata-bata (pemerannya punya kesulitan bicara) membuat film ini berjarak dengan penonton. Narasi tersebut membuat film ini sangat sadar diri (self-conscious). Akibatnya problem orang-orang kecil di pasar itu menjadi sebuah pertunjukan yang dilihat dengan jarak. Hal ini membuat film ini sejajar dengan kecenderungan film-film Garin yang lain dalam melihat berbagai persoalan dengan kacamata yang eksotis. Hanya saja, jika biasanya Garin melihat persoalan-persoalan besar seperti benturan budaya, represi politik atau pelanggaran hak asasi manusia, kali ini eksotisme itu adalah pada kehidupan orang-orang kecil di sebuah pasar tradisional. Apakah pilihan ini secara sadar dilakukan oleh seorang sutradara besar seperti Garin?

2 Comments:

Blogger moh susilo said...

tulisannya bagus2 sekali !! saya link ya biar gampang mampir..btw saya ada di http:susilo.typepad.com

4:29 PM  
Blogger ericsasono said...

terimakasih. saya sendiri tak terlalu gairah bermain di blog ini. hanya menulis kalau ada panggilan kuat dari dalam diri sendiri. thanks sudah membacanya..

12:33 PM  

Post a Comment

<< Home