Monday, October 25, 2004

Eliana, Perempuan Jakarta

Oleh: Eric Sasono


Mungkin bukan kebetulan wajah perempuan Indonesia terwakili dalam film Indonesia yang muncul belakangan ini. Setelah Pasir Berbisik (Nan T. Achnas) yang mengungkapkan persoalan perempuan dengan gaya simbolis yang kuat, giliran ELIana, eliANA (Riri Riza) kembali menghadirkan persoalan perempuan. Bukan kebetulan karena perempuan di negeri ini memang masih dirundung persoalan, baik dalam perspektif melihat persoalan perempuan maupun dalam realitas social yang mereka hadapi. Sebuah film memang tidak punya pretensi menyelesaikan sebuah masalah. Namun sebuah film adalah representasi dari cara pandang para pembuatnya terhadap masalah tersebut. Sebagaimana halnya representasi, film punya bermacam tendensi. Ada yang bertendensi untuk memotret persoalan saja, ada pula yang berniat untuk menawarkan sebuah pemecahan. Tentu semua --sekali lagi-- dalam perspektif para pembuatnya.
ELIana, eliANA (EE) kemudian menjadi menarik karena kekuatan komunikasinya dalam menyampaikan persoalan perempuan yang sangat spesifik: perempuan di Jakarta, ibukota negeri berpenduduk 220 juta jiwa. Apa saja persoalan perempuan Jakarta yang direpresentasikan oleh EE?

Bertahan hidup
Karakter perempuan Jakarta di film EE digambarkan sebagai perempuan lajang, belum menikah. Dalam film ini digambarkan bahwa bagi perempuan Jakarta, lajang, salah satu persoalan utama adalah bertahan hidup. Wujud bertahan hidup yang paling nyata adalah ketersediaan tempat tinggal. Tempat tinggal adalah persoalan besar di Jakarta, sebuah kota dimana 80 persen kepemilikan tanah berada di tangan 10 persen penduduknya, sementara 20 persen sisa lahan diperebutkan oleh 90 persen sisanya. Akibatnya penduduk Jakarta memadati kawasan satelit sekitarnya (Bogor, Tangerang dan Bekasi) yang membuat alur ulang alik dari dan menuju Jakarta menjadi persoalan utama lalu lintas di kota ini. Selain tinggal di kawasan satelit tersebut, penduduk Jakarta juga tinggal menempati daerah-daerah padat penduduk yang menyediakan perumahan secara informal. Terkadang daerah-daerah semacam ini ada di kawasan kumuh atau semi kumuh. Kawasan pemukiman kumuh ini bertempat di sela-sela gedung bertingkat dan menjadi penyangga bagi kaum pekerja Jakarta untuk mendapat tempat tinggal murah tetapi masih mudah mengakses tempat kerja mereka.
Fasilitas perumahan yang tidak memadai ini merupakan ironi dari Jakarta yang berpenduduk kurang lebih 10 juta jiwa ini. Ironi datang karena sebagian kelas pekerja di Jakarta, termasuk pekerja yang dapat digolongkan kelas menengah, ditolong oleh pemukiman kumuh dan semi kumuh itu. Kelas pekerja menengah ini tinggal di kawasan kumuh, kawasan dimana tidak ada fasilitas umum semisal air bersih, saluran pembuangan air, serta tempat tinggal yang berhimpit-himpit. Terkadang legalitas kawasan ini juga merupakan persoalan besar. Namun di sisi lain, di tempat kerjanya, para pekerja ini harus tampil dengan pakaian yang modis, seakan tak memiliki masalah ekonomi. Bagi kaum perempuan tentu ini merupakan persoalan lebih besar karena tuntutan untuk tampil modis lebih tinggi. Kaum perempuan dibanjiri iklan yang mendorong mereka menjadi konsumen produk-produk mutakhir dari perkembangan mode yang datang dari pusat-pusat komoditisasi mode. Terciptalah standar penampilan kaum perempuan akibat komoditisasi mereka. Untuk tampil di publik, termasuk di tempat kerja, kaum perempuan harus menjadi modis, tanpa mempedulikan kesulitan ekonomi mereka. Dengan kondisi demikian, kawasan pemukiman kumuh seakan menjadi “kawasan belakang” dari penampilan perempuan di sektor-sektor publik yang menjadi tempat bagi mereka untuk mengaktualisasikan diri.
“Kawasan belakang” ini menjadi setting utama film EE. Karakter perempuan Jakarta dalam EE merupakan gambaran tipikal perempuan Jakarta yang menghadapi persoalan dengan “kawasan belakang” itu. Para perempuan lajang dalam EE, paling tidak dua tokohnya Heni (Henidar Amroe) dan Eliana (Rachel Maryam Sayyidina) tinggal di sebuah rumah kontrakan di gang sempit di Jakarta, tetapi tetap tampil modis dalam kehidupan mereka sehari-hari. Eliana digambarkan bekerja sebagai pekerja kantoran yang memakai blazer sehari-harinya. Sedangkan di luar pekerjaannya, Eliana maupun Heni mengenakan baju model tank top yang sedang trend; Eliana juga mengenakan celana tiga perempat yang biasa dipakai para perempuan kelas menengah yang bisa dilihat di pusat-pusat perbelanjaan utama di Jakarta.
Kawasan belakang ini menjadi isu utama yang berkembang menjadi konflik antar tokohnya, terutama antara Eliana dan Heni. Tiga tahun terakhir mereka tinggal bersama, Eliana menumpang pada Heni. Konflik terjadi ketika Heni tak mampu membayar uang kontrakan rumahnya sehingga ia melarikan diri dari induk semangnya, Toha (Rako Priyanto), yang dikesankan tak ragu untuk bertindak keras untuk menyelesaikan urusan utang piutang macam ini. Toha sempat melontarkan kalimat yang menandai ironi “kawasan belakang” ini terhadap karakter Heni. Kata-kata yang dilontarkan Toha: “Dandanan boleh menor, kontrakan ngutang..” sepenuhnya mencerminkan persoalan “kawasan belakang” bagi kaum perempuan Jakarta.
Utang uang kontrakan ini (ditambah persoalan lain yang akan dibahas kemudian) menjadi penyebab larinya Heni dari Eliana yang kemudian memicu Eliana untuk mencarinya semalaman bersama Bunda (Jajang C. Noer) ibunya yang datang khusus dari Padang untuk membawa Eliana kembali ke kota kelahirannya itu setelah Eliana melarikan diri pada hari pernikahannya. Larinya Eliana ini akibat ia tidak menerima kawin paksa yang menjadi persoalan tersendiri yang akan dibahas di belakang.
Menumpangnya Eliana pada Heni menjadi perekat hubungan mereka, tetapi kemudian menjadi titik balik bagi hubungan itu, karena menjadi indikasi ketidakmampuan Eliana untuk mandiri di Jakarta, paling tidak di mata Heni dan Bunda.

Laki-laki
Persoalan berikutnya bagi kaum perempuan di Jakarta adalah laki-laki. Laki-laki digambarkan hadir sebagai ancaman bagi kaum perempuan Jakarta. Paling tidak ada dua gambaran dalam film EE yang sangat mewakili ancaman yang datang dari laki-laki. Gambaran pertama adalah seorang laki-laki yang melihat Eliana dengan pandangan yang memberi isyarat. Laki-laki agak gemuk dan berkumis itu (diperankan oleh Arturo GP) terus memandangi Eliana dengan pandangan genit sambil menggerak-gerakkan alisnya ke arah Eliana. Adegan ini berakhir dengan kuah bakso panas yang tumpah di celana laki-laki tersebut dan Eliana lari menjauh dari laki-laki tersebut yang kemudian marah kepadanya dan mengatainya “sundal”. Eliana menyelesaikan persoalan ancaman (godaan dengan siyarat) laki-laki tersebut dengan penyelesaian fisik.
Gambaran kedua berupa ancaman sejenis ini digambarkan dengan lebih ekstrem pada bagian lain. Yaitu ketika seorang laki-laki muda menggoda, bahkan menarik tangan Bunda di sebuah klab malam. Saat itu bunda sedang menunggu Eliana yang menemui temannya Ratna (Marcella Zalianty) yang menjadi penyanyi di klub malam tersebut. Gambaran ancaman ini lebih nyata dalam penggambaran kedua ini. Bunda digambarkan sebagai seorang perempuan yang daya tarik seksualnya sudah berkurang, jauh di bawah Eliana. Namun pada sebuah konteks lokasi klub malam, dia adalah perempuan: sebuah obyek seks. Laki-laki muda itu tidak sekadar membuat isyarat menggoda melainkan lebih aktif lagi: menarik tangan bunda sambil berkata ”Perlu hiburan bu? Ayo...”
Penyelesaian fisik rupanya sangat penting untuk mengatasi ancaman semacam ini, menjadi semacam perwujudan kebebasan perempuan mengatasi ancaman terhadap tubuhnya. Wujud penyelesaian fisik menandakan bahwa mitos perempuan kalah secara fisik terhadap laki-laki dalam pergulatan menentukan nasib tubuhnya sendiri seakan ingin dibantah dan apabila perempuan berhasil memperlihatkan kekuatan fisiknya, berkelahi, maka ancaman seksual laki-laki ini menjadi tidak berarti. Maka itulah pembuat film EE memilih memperlihatkan laki-laki muda tadi terjatuh akibat tindakan fisik yang dilakukan Bunda terhadapnya. Penguasaan terhadap tubuh, reaksi berupa tindakan fisik kongkret terhadap ancaman laki-laki rupanya menjadi syarat penting bagi ukuran keberhasilan hidup di Jakarta.
Apa yang akan terjadi seandainya ancaman itu tidak dihadapi dengan reaksi fisik semisal yang digambarkan sebagai pilihan Eliana maupun bunda? Dalam kehidupan nyata, banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Dalam film ini, gambarannya adalah: ancaman itu berubah menjadi kesempatan. Laki-laki gendut berkumis yang menggoda Eliana di warung tadi sebenarnya membuat satu isyarat penting yang ditujukan kepada Eliana: uang. Selagi memberi isyarat kepada Eliana, seorang anak buahnya mendatanginya dan bertanya tentang sebuah transaksi jual beli. Sang laki-laki berkumis dengan suara sengaja dikeraskan memperlihatkan bahwa ia punya banyak uang. Dengan lirikan kepada Eliana saat menyatakan hal tersebut, ia seakan ingin memberi isyarat penting dalam hubungan perempuan laki-laki dan perempuan: transaksi seksual secara komersial. Eliana melawannya. Namun rekan kerja Eliana, Ratna tidak melawan ancaman itu. Alih-alih ia melihatnya sebagai kesempatan. Memang tidak ada gambaran yang tegas bahwa Ratna menjadi pekerja seks komersial. Namun dalam film digambarkan bahwa Ratna menjadi penyanyi di sebuah klab malam yang dandanannya menggambarkan niatan untuk mencari keuntungan komersial dari laki-laki atas tubuhnya. Secara implisit, film ini ingin menceritakan bahwa ancaman berupa paksaan seksual laki-laki bisa menjadi kesempatan untuk bertahan hidup dan mungkin lebih dari sekadar itu: menjadi kaya. Paling tidak, Ratna digambarkan menerima banyak hadiah kemungkinan besar dari penggemarnya (baca: laki-laki) dari pekerjaannya itu.
Ancaman seksual laki-laki itu tidak selalu berubah menjadi transaksi komersial yang bersifat material seperti pada diri Ratna. Pada diri Heni, pertukaran itu mengambil bentuk lain. Heni memiliki kekasih gelap seorang pria beristri. Tampaknya Heni tidak mengambil keuntungan material dari hubungan itu, karena penggambaran karakter Heni tidak memperlihatkan hal tersebut. Heni memang ber-handphone, tetapi hal itu tidak mengindikasikan kemakmuran. Asumsikanlah handphone adalah pemberian dari kekasih gelapnya itu, bahwa itu adalah alat komunikasi yang memudahkan hubungan mereka mengingat di tempat tinggal Heni tidak terdapat fasilitas sambungan telepon. Heni tetap tinggal di rumah kontrakan di daerah pemukiman padat yang tidak layak itu. Pakaian Heni pun relatif sama dengan pakaian yang dikenakan Eliana, artinya tidak ada tanda kelebihan ekonomi yang mencolok dari Heni akibat hubungan gelapnya itu.
Heni tampaknya lebih memetik manfaat keamanan psikologis bagi dari hubungannya dengan kekasih gelapnya itu. Hal ini tergambarkan ketika kekasih gelap Heni itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, terjadi pembalikan yang dahsyat pada karakter Heni. Ia menjadi labil, gamang, hingga akhirnya memutuskan meninggalkan hidupnya yang lama yang selama ini ia jalani bersama dengan Eliana. Padahal selama ini mereka tinggal bersama serumah, dan tak ada rahasia antara mereka (kecuali Heni merahasiakan hubungan gelap tersebut) dan Eliana sudah menganggap Heni sebagai “kakak kandungnya sendiri”. Hubungan Heni dengan Eliana itu kemudian berantakan akibat terjadinya kehancuran kondisi psikologis Heni akibat hubungan dengan kekasih gelapnya putus. Heni kemudian malahan mempersoalkan Eliana yang selama ini dikatakannya sebagai "tidak akan bisa hidup di Jakarta tanpa dirinya", yang berarti dua hal: pertama ketergantungan psikologis Eliana terhadap dirinya menghadapi kekerasan hidup di Jakarta dan kedua, seperti yang digambarkan di atas, ketidakmampuan mendapatkan tempat tinggal.

Harga diri
Bagaimana kehidupan perempuan lajang Jakarta ini dilihat dari luar? Bunda mewakili pandangan tersebut. Bunda adalah seorang perempuan dari luar Jakarta (Padang) yang memiliki keterikatan tradisi yang kuat, yang dikontraskan dengan Eliana sebagai wakil fenomena kaum perempuan urban yang berasal dari luar Jakarta tetapi mencari kehidupan di Jakarta. Benturan tradisi melatarbelakangi hubungan mereka. Pada awal film dijelaskan dengan caption (teks di layar) bahwa Eliana melarikan diri dari Padang (sebuah kota di Sumatera) pada hari pernikahannya akibat tidak bersedia dijodohkan secara paksa oleh orangtuanya dengan seorang diplomat yang dianggap mampu mewujudkan cita-cita Eliana untuk banyak melakukan perjalanan keliling luar negeri.
Persoalan benturan budaya ini justru tidak muncul dominan dalam film. Ada persoalan yang dianggap lebih menarik oleh para pembuat film sebagai tema yang harus diperhatikan dalam hubungan antara anak-ibu cum perempuan lajang Jakarta dengan perempuan matang berlatar tradisi yang kuat.
Bunda digambarkan sebagai seorang perempuan yang "seharusnya" menjadi role model bagi Eliana. Penggambaran karakter Bunda memperlihatkan bahwa ia sebenarnya merupakan seorang tipe perempuan yang akan mampu bertahan hidup di Jakarta: sesuatu yang ingin dicapai oleh Eliana. Karakter Bunda yang menjadi model ini digambarkan dalam film ini sebagai hal-hal berikut.
Pertama, dalam beberapa percakapan Bunda digambarkan sebagai seorang yang mandiri secara ekonomi. Ia memiliki usaha sendiri, yang bahkan membuat suaminya meninggalkannya dengan alasan "mana mau ia ikut usaha istri." Latar belakang ekonomi Bunda ini sebenarnya sekaligus menjelaskan satu latar belakang budaya lain dari Bunda, yaitu asal budayanya yang sangat mengedepankan harga diri. Dalam konteks lokal tertentu soal "suami ikut istri" ini bisa menjadi persoalan besar dan menyebabkan putusnya hubungan rumah tangga. Hal ini mencerminkan sebuah pandangan bahwa dalam masyarakat tertentu laki-lakilah bread winner, pencari nafkah utama bagi keluarga. Laki-laki yang nafkahnya tidak sebesar istri (apalagi jika rumah tangga itu semata-mata mengandalkan nafkah istri) berarti kegagalan sang laki-laki tersebut. Bunda mewakili perempuan yang hidup dalam kultur tersebut.
Kedua, Bunda adalah seorang perempuan yang mapan secara psikologis dalam hubungannya dengan laki-laki. Bunda mengalami persoalan yang relatif sama dengan Heni: ditinggalkan oleh pasangannya. Pada diri Heni, peristiwa itu menyebabkan badai psikologis pada dirinya dan membalikkan hidupnya. Pada diri Bunda, nyaris tak ada persoalan seperti itu. Memang Bunda sempat dikatakan mencari suaminya ke Jakarta ketika baru ditinggalkan, tetapi hal itu cuma muncul selintas dalam sebuah percakapan. Justru Bunda digambarkan tidak pernah menangisi perpisahannya itu.
Ketiga, Bunda seorang perempuan yang mampu bertahan dari sebuah ancaman dari laki-laki, termasuk ancaman fisik. Bunda adalah seorang survivor. Seperti sudah disinggung di atas, Bunda digoda seorang laki-laki muda ketika sedang menanti Eliana yang sedang mengunjungi Ratna di sebuah klab malam, dan ia melawan secara fisik. Perlawanannya tersebut mengakhiri ancaman tersebut. Hal ini menegaskan bahwa penyelesaian fisik, pembuktian terhadap penguasaan fisik perempuan oleh dirinya sendiri, menggambarkan merupakan penyelesaian terhadap pelecehan seksual, salah satu persoalan besar bagi kehidupan kaum perempuan di Jakarta.
Sekalipun Bunda adalah role model bagi Eliana, mengapa kemudian Eliana memilih untuk lari dari Bunda? Ada soal benturan budaya, memang. Namun sebenarnya yang lebih mengemuka adalah persoalan penentuan nasib sendiri (self determination). Sekalipun Eliana akan dinikahkan dengan seorang diplomat yang "mampu membawanya pergi keluar negeri" ia memilih untuk bebas, menentukan nasibnya sendiri. Ternyata ia terdampar di Jakarta dan harus hidup menumpang dengan Heni. Tapi itu bukan persoalan bagi Eliana. Penentuan nasib sendiri menjadi lebih penting. Bagi Eliana, Bunda seharusnya menyadari hal itu. Namun Bunda tak menyadarinya. Maka terjadilah konflik ibu dan abak. Konflik ini mewujud dalam film dalam sebuah bentuk yang unik: harga diri. Bagi Eliana, ibunya adalah wakil sebuah usaha menundukkan dirinya. Kedatangan ibunya ke Jakarta untuk menjemputnya kembali ke Padang dengan pesawat pertama esok harinya merupakan sebuah perwujudan dari kekalahannya menghadapi Jakarta. Eliana tidak mau tunduk pada ibunya, yang pada saat itu berarti juga mengaku kalah dari sebuah "kota gila" bernama Jakarta. Celakanya pada saat yang sama Eliana juga menghadapi persoalan serius soal tempat tinggal setelah Heni meninggalkannya begitu saja di rumah kontrakannya bersama utang uang kontrakan selama tiga bulan. Inilah titik yang sangat kritis bagi hidup Eliana. Namun perlawanan tetap datang dari Eliana "sampai titik darah penghabisan".
Sosok Bunda kemudian membesar menjadi sebuah wakil penaklukan terhadap self determination yang sejak awal menjadi alasan Eliana berada di Jakarta. Konflik seputar soal ini digambarkan dengan usaha Eliana untuk menghubungi Heni di telepon genggamnya. Usaha ini tidak mudah mengingat Eliana harus mencari telepon kartu yang bisa menghubungi telepon genggam karena telepon umum koin tidak bisa menghubungi telepon genggam. Sementara Bunda memiliki telepon genggam yang bisa memudahkannya untuk itu. Ternyata Eliana menolak menggunakan telepon genggam milik Bunda dan bersikeras untuk bersusah payah menghubungi Heni lewat telepon umum kartu yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Sepanjang film kekerasan sikap Eliana untuk menolak menggunakan telepon genggam milik Bunda terus muncul menggambarkan bahwa ia tidak akan menyerah. Ia bebas menentukan nasibnya sendiri dan mampu membuktikan bahwa ia sanggup menaklukan Jakarta dengan apa yang ada pada dirinya, tak perlu uluran tangan Bunda.
Harga diri yang dipertahankan oleh Eliana ini digambarkan sebagai sesuatu yang rentan. Eliana sebenarnya sangat bergantung pada Heni. Bagi Eliana, Heni adalah mekanismenya untuk bertahan hidup di Jakarta. Kekerabatan dan hubungan darah menjadi luntur di Jakarta dan hubungan persahabatan menjadi lebih penting, lebih memiliki arti untuk bertahan hidup. Mekanisme inilah yang sebenarnya rentan bagi Eliana. Kerentanan ini justru terungkap dengan kedatangan Bunda. Pada satu adegan, Eliana kemudian mempertanyakan soal hubungannya dengan Heni dari sebuah rahasia yang diungkapkan oleh Bunda yang membuatnya mempertanyakan keseluruhan mekanisme bertahan hidup yang selama ini dipercayainya. Akhirnya Eliana bersedia menggunakan telepon genggam milik Bunda untuk menghubungi Heni sesudah ia menyadari kerentanan hubungannya dengan Heni – mekanismenya untuk bertahan hidup selama ini.

Penutup
Film ini naskahnya ditulis oleh seorang laki-laki (Riri Riza) dan seorang perempuan (Prima Rusdi) dan disutradarai Riri Riza. Bagaimanapun lumayan mengejutkan bahwa dari tangan sutradara laki-laki (Riri Riza) ini justru persoalan perempuan di Jakarta hadir dengan begitu matang. Pilihan-pilihan moral yang dibuatnya juga menarik. Meskipun film ini sebagian besar adegannya adalah malam hari sehingga mengesankan kesuraman gambaran Jakarta tetapi pilihan moral yang digambarkan film ini tetap cerah. Senyum Eliana di pagi hari setelah semalaman bertualang bersama bunda menandakan bahwa masih ada harapan bagi kaum perempuan di Jakarta.