Thursday, August 12, 2004

Revolusi Digital dalam Dunia Film

oleh: Eric Sasono

Ketika Dr. Alan Grant (Sam Neill), seorang penggali fosil dinosaurus dalam film Jurassic Park, terkejut melihat Brontosaurus hidup dan berjalan di depannya, sebenarnya ia tak sendirian. Di dunia nyata penonton dan para pembuat film juga terkejut. Ternyata teknologi digital sudah berhasil menghidupkan hewan yang sudah mati jutaan tahun lalu itu ke layar film. Ah, itu kan cuma film. Memang cuma film. Tapi bukankah keberhasilan itu menandakan satu hal penting: batasan para pembuat film saat ini hanyalah imajinasi mereka!

Coba saja, apa yang belum dibuat dalam film sekarang ini. Dinosaurus hidup? Robot yang terbuat dari logam cair yang bisa berubah bentuk dan tak bisa mati? Tokoh siluman cebol berpekribadian ganda yang berakting sama hebatnya dengan Edward Norton dalam film Primal Fear? Teknologi digital sudah membuat pencapaian George Lucas dengan perang kolosal dalam Star Wars bagai jadi fosil saat ini. Segala pintu kemungkinan sudah terbuka. Teknologi sudah ada. Tinggal soal uangnya saja.

Tapi bukankah di negeri ini uang adalah persoalan terbesar para pembuat film? Film termahal saat ini di negeri kita mungkin Eiffel, I'm in Love yang kabarnya menghabiskan biaya sepersepuluh honor Julia Roberts seorang dalam My Best Friend Wedding. Dengan perbandingan begitu, mana kuat para produser film negeri ini membayar teknologi sehebat yang digambarkan di atas? Tapi teknologi digital bisa tetap mengagetkan kita ketika masuk dari pintu lain: gairah membuat film. Negeri ini lima tahun belakangan bagai dilanda demam membuat film. Dengan bermodal cam-corder pinjaman yang biasanya dipakai merekam pesta kawinan, dan teman-teman sekelas-sekampus-sepermainan jadi aktor aktris dadakan, tiba-tiba saja semua orang menjadi pembuat film. Ini bukan sinisme. Ini adalah sebuah perayaan. Sesudah nyaris sepuluh tahun negeri ini dilanda kelesuan dalam produksi film, tiba-tiba saja membuat film jadi terkesan lebih gampang daripada menyusun skripsi atau menghadapi ujian akhir. Ada bahaya, tentu, ketika proses panjang itu digampangkan. Bukan cuma membuat film, sikap menggampangkan akan selalu mengundang bahaya.

Sumbangan pentingnya, gairah macam ini tak pernah ada sebelumnya dalam sejarah negeri ini. Hasilnya? Tak memalukan. Sebuah film digital, sebutlah judulnya Jelangkung, yang mungkin biayanya tak cukup untuk bikin poster di Hollywood, sudah berhasil mengundang lebih dari sejuta penonton, jauh melewati peruntungan Titanic di negeri ini. Dari segi artistik? Eliana-eliana yang dikerjakan Riri Riza beroleh dua penghargaan internasional. Bahkan seorang kritikus film di Bangkok memasukkan film itu ke dalam jajaran sepuluh film terbaiknya tahun 2002, berendengan dengan film-film kelas dunia macam Punch Drunk Love (Sutradara P.T. Anderson) dan What Time Is It There? (Sutradara Tsai Ming Liang).

Di negeri ini, teknologi digital, lewat video digital, sudah memungkinkan proses pembuatan film menjadi sesuatu yang berada dalam rengkuhan. Tak lagi berkesan repot dengan peralatan satu truk dan izin segerobak. Para pembuat film juga menjadi girang. Dengan ide yang tepat, seperti ide Riri Riza dengan Eliana-eliana, teknologi digital menjadi sesuatu yang efektif. Riri Riza sendiri menggambarkan semua ini sebagai immediate filmmaking. Sebuah proses membuat film yang instant, urgent dan segera, tanpa harus tergesa-gesa atau menggampangkan. Ini pula yang terjadi dengan gairah membuat film pendek yang membuat sebuah festival film independen kewalahan menerima peserta yang mencapai 800-an. Hal ini tak akan bisa dilakukan tanpa adanya teknologi digital.

Namun bagi sebagian pembuat film, teknologi digital bukan sekadar urusan uang. Tahun 1995, dua orang pembuat film Denmark, Lars Von Trier dan Thomas Vinterberg, menseriusi pembuatan film secara digital. Mereka membuat gerakan yang disebut Dogme95 yang memuat serangkaian aturan. Aturan tersebut membolehkan, bahkan mengharuskan, pembuatan film secara immediate, dengan kadar spontanitas tinggi. Bawa kamera dan pemain ke lokasi, lantas syuting. Lupakan pencahayaan, lupakan properti syuting, lupakan kostum macam-macam, pokoknya gunakan yang ada di lapangan. Dan hasilnya adalah sebuah gerakan yang dicatat dalam dunia film. Film-film gerakan ini seperti Celebration (Thomas Vinterberg), The Idiot (Lars Von Trier), Julien Donkey Boy (Harmonie Korine) dan Italian for Beginners (Lone Scherfig) mencatat pujian dari para kritikus dunia.

Kalau begitu, apakah peran pita seluloid akan tergantikan oleh bit-bit digital ini? Tampaknya tidak. Sutradara kawakan Martin Scorsese misalnya benci sekali terhadap teknologi digital dan mengaku tak akan pernah menggunakan teknologi ini untuk film-filmnya. Kritikus kawakan Roger Ebert, sekalipun terlihat kagum dengan sebuah proyektor digital keluaran Sony yang bisa mendekati proyektor seluloid, tetap beranggapan seluloid tak akan pernah tergantikan.

Memang tampaknya bukan itu arah perkembangan dan keinginan para pembuat film. Bagaimanapun pita seluloid tak akan tergantikan. Dan membandingkan pita seluloid dengan perkembangan teknologi digital bukan merupakan perbandingan apple to apple. Keduanya berada di jalur yang berbeda. Perbedaan jalur ini bisa dilihat dengan perkembangan terbaru dunia digital dengan temuan kamera high definition. Kamera ini mampu mengambil gambar nyaris sekualitas pita seluloid ukuran 16mm, masih di bawah pita seluloid 35mm yang biasa dipakai membuat film dan diputar di bioskop-bioskop. Kamera ini sudah memungkinkan penggunaan lensa yang biasa dipakai di kamera 35mm, dan seluruh proses transfer dilakukan dalam data digital. Sehingga tak ada penurunan kualitas gambar sedikitpun dari yang didapatkan ketika syuting.

Dengan perkembangan teknologi digital macam ini, kitalah, penonton, yang diuntungkan. Terlepas dari apakah film tersebut disyuting dengan film 35mm atau digital, yang terpenting adalah gambar-gambar yang dihasilkan mampu mengantarkan cerita yang baik. Yang membuat uang kita keluar ketika membeli karcis beroleh imbalan yang layak. Bukankan pada awal dan akhirnya, film dibentuk oleh susunan gambar?



(tulisan pernah dimuat di majalah MTV Trax, dimuat lagi di layarperak.com, 4 Agustus 2004)

1 Comments:

Blogger The Geeks said...

Thanks ya gan udah sharing, thanks kebetulan sedang ada tugas tentang film ni hehe tengkyu bacaanya :)

11:36 AM  

Post a Comment

<< Home