Wednesday, August 18, 2004

Piala Oscar untuk Gollum?

Oleh: Eric Sasono

Lord of The Rings: The Return of The King sudah mencatatkan sejarah menyapu bersih seluruh nominasi sebelas oscar-nya untuk penghargaan tahun 2004 ini. Fenomena ini menunjukkan bagaimana film ini menjadi sebuah celebration atas craftsmanship kerja para kru trampil. Bayangkan bagaimana imajinasi bahkan mimpi dapat terwujud sampai detal-detailnya ke dalam layar bioksop. Tanpa kerja ketrampilan yang sangat tinggi, mustahil rasanya petualangan para hobbit di middle earth dapat terwujud dengan sesempurna apa yang kita lihat di trilogi ini. Lepas dari pencapaian ini, ada satu hal yang menjadi ganjalan yang ingin saya bagikan dengan Anda. Yaitu pentingnya peran aktor digital dalam trilogi ini.
***
Seorang pengamat film bernama Arya Gunawan sempat terkejut menonton film Jurassic Park karya sutradara Steven Speilberg. Di tahun 1993 itu, Arya Gunawan menulis di harian Kompas bahwa satu saat aktor-aktris digital akan mengambil tempat manusia sebagai aktor. Mungkin ia menyimpulkan demikian karena saking hidupnya karakter-karakter dinosaurus dalam film itu, padahal mereka adalah hasil kerja komputer maupun boneka raksasa. Tulisannya, saat itu, sempat saya rasakan lucu karena saya merasa kemungkinan itu terlalu jauh. Lagipula mana bisa manusia digantikan oleh mesin. Manusia punya ‘jiwa’ dan mesin tak akan pernah punya, apapun pengertian jiwa itu. Namun Arya Gunawan punya argumen yang kuat. Perkembangan teknologi, terutama teknologi digital, memang tak tertahankan dalam film. Beberapa karakter digital begitu esensial dan tak tergantikan. Arya Gunawan dalam tulisannya waktu itu menariknya dari beberapa fenomena yang sudah muncul sebelumnya sebagai pertanda pentingnya aktor digital semisal film The Abyss (James Cameron, 1989) yang menceritakan kehidupan cerdas di bawah laut. Dengan perkembangan macam ini, dan melihat selanjutnya ke depan, maka dominannya aktor/aktris digital hanya tinggal menunggu giliran saja.
Meskipun sempat saya anggap lucu, saya akui Arya Gunawan ada benarnya dalam poin yang lebih besar. Di tangan seorang yang punya visi, seperti Steven Spielberg misalnya, teknologi dapat menjadi lebih dari sekadar alat. Teknologi dapat menjadi esensial. Ia menjadi bagian cerita yang ikut menentukan bentuk-bentuk pesan yang ingin disampaikan, bukan sekadar sarana penyampaian pesan. Spielberg memang salah satu yang paling depan dalam soal itu. Makanya tak heran jika Jurassic Park, atau pekerjaannya yang lain seperti Artificial Intellegence (2001), Minority Report (2002), atau yang terdahulu seperti Jaws (1975) dan ET (1982), menjadi begitu inspiratif fan memicu perbincangan yang lebih jauh ketimbang sekadar film itu sendiri.
Banyak nama yang juga kerap dapat dibilang mengerti betul menggunakan teknologi. Saya senang menyebut nama sutradara Robert Zemeckis sebagai salah satu diantaranya. Ia lumayan mengejutkan ketika menyatukan karakter animasi dengan live action dalam film Who Frammed Roger Rabbit? (1988) sekalipun Walt Disney sudah melakukannya sekian puluh tahun sebelumnya dalam The Three Cabaleros (1944). Ide Zemeckis yang dianggap gila ini ternyata berhasil mencatat perkembangan penting dalam penyatuan karakter animasi dengan live action, sehingga kemudian banyak yang ikut serta dengan eksperimen macam ini seperti Space Jam ataupun Looney Toones: Back in Action belakangan. Zemeckis juga dianggap cerdas sekali ketika ia menyisipkan gambar tokoh khayalan Forrest Gump (Tom Hanks) ke dalam footage dokumenter sejarah dalam filmnya yang beroleh Oscar, Forrest Gump (1994). Tiba-tiba saja peristiwa sejarah direkonstruksi ulang sedemikian rupa sehingga mampu meyakinkan bahwa satuan waktu dalam film dapat menjadi bersifat arbitrer ketika direkonstruksi dalam film. Zemeckis juga sangat mengesankan buat saya ketika memuat adegan kekerasan dalam Death Becomes Her (1992) menjadi sesuatu yang esensial, menjadi muatan, bukan sekadar penyampaian pesan. Kekerasan seperti kepala berputar seratus delapan puluh derajat ataupun perut yang bolong, menjadi sebuah humor yang sedemikian sarkastik terhadap pemujaan terhadap tubuh dan keinginan kaum perempuan untuk hidup muda selamanya. Teknologi sudah menjadi pesan itu sendiri, bukan sekadar sarana mengantarkan pesan.
Ada nama besar lain seperti George Lucas, yang menurut banyak pengamat sejarah film sudah mengembalikan penonton ke bioskop dengan teknologi THX-nya. Ketika video menyerbu Amerika dan bioskop dilanda kelesuan di tahun 70-an, Lucas menyodorkan sesuatu yang penting: menonton film harus dilakukan dalam bioskop, karena teknologi video tak akan pernah menghadirkan pengalaman yang sama dengan menonton di bioskop. Lewat serial Star Wars-nya, Lucas mencatatkan prestasi penting dalam hal ini.
Satu nama yang penting lagi adalah tentu Peter Jackson asal Selandia Baru. Mungkin trilogi Lord of The Ring (LOTR) adalah catatan terpenting sutradara ini. Namun ingin saya ingatkan bahwa Jackson juga pernah membuat The Frighteners (1996) dan Dead Alive (1992). Dalam The Frighteners, Jackson berhasil membuat karakter-karakter hantu yang “diperankan” oleh CGI (computer generated imagery) dengan sangat hidup dan unik dan memiliki karakter masing-masing. Sudah terlihat visi Jackson di sini. Juga dalam Dead Alive dengan gambaran kekerasan terhadap tubuh (gore) yang demikian esensialnya. Namun tak dapat dipungkiri prestasi terbesar Jackson adalah pada LOTR.
Pada LOTR ini, Jackon sempat membuat seorang pengamat mengatakan bahwa seharusnya George Lucas seharusnya malu ketika menonton LOTR. Ternyata pencapaian Lucas dalam Star Wars sangat jauh dibandingkan dengan pencapaian Jackson dalam LOTR. LOTR seakan menyadarkan orang bahwa apa yang dikerjakan Lucas dengan perang kolosal dalam Star Wars belum selesai ketika menonton LOTR. Peter Jackson sudah berhasil membawa sesuatu yang imajinatif, extravagant, megah bagaikan sebuah orkestra yang melibatkan ribuan musisi, tapi ia masih sempat memperhatikan detail hingga pakaian para pemain orkestra tersebut. Perbandingan ini bias jadi merupakan sebuah pujian berlebihan, tapi Jackson sudah membawa ke sebuah pengalaman visual yang belum pernah dikerjakan oleh sutradara lain sebelumnya.
Namun Jackson tak terhenti pada sekadar bermegah-megah. Kemegahan LOTR malahan membuat saya agak capek, karena ternyata preferensi saya dalam menonton film tidak pada kemegahan. Saya lebih sering menghargai intesitas ketimbang kemegahan. Dan Jackson memang membayarnya dalam sebuah bentuk lain yang terus menjadi pikiran saya. Namanya Smeagol atau Gollum. Tiba-tiba saja saya merasa apa yang ditulis Arya Gunawan lebih dari sepuluh tahun lalu, yang saya sebutkan di atas tadi, seperti sedang menemukan jalannya pada karakter Gollum ini. Gollum adalah tokoh siluman berkepribadian ganda yang mencoba merebut cincin sakti yang dibawa oleh Frodo Baggins. Frodo berhasil menaklukannya dan akhirnya Gollum mengantarkan Frodo, ditemani Sam Gamgee, ke kerajaan Sauron. Yang istimewa dari Gollum atau kembarannya Smeagol ini adalah: ia diperankan oleh hasil rekaan komputer CGI. Memang ada seorang aktor sungguhan bernama Andy Sarkiss yang berakting dan tubuhnya ditempeli sensor elektris yang lantas diterjemahkan menjadi sinyal dan kemudian diubah oleh komputer menjadi karakter Gollum ini. Sarkiss juga mengisi suara Gollum. Namun yang kita tonton di layar sepenuhnya adalah hasil kerja komputer. Rekaan komputer ini begitu meyakinkan dan nyata sehingga saya terpikirkan tulisan Arya Gunawan itu tadi.
Sebenarnya fenomena Gollum alias Smeagol ini bukan yang pertama. Sebelumnya memang sudah ada tokoh-tokoh lain semisal E.T dan film-film yang saya sebutkan di atas tadi. Namun satu yang patut sekali untuk dicatat adalah kemunculan peri bernama Dobey dalam film Harry Potter and The Chamber of Secrets. Dalam film itu Dobey digambarkan sebagai tokoh peri bertubuh cebol berbaju compang-camping dengan cuping telinga yang sangat besar. Ia diperintahkan untuk menghalangi Harry Potter kembali ke sekolah sihir Hogwart. Tokoh ini juga “diperankan” oleh CGI dan tampil dengan sangat meyakinkan.
***
Jika film merupakan sebuah jejaring kenyataan yang dianyam oleh hukum-hukumnya sendiri, maka tugas akting atau seni peran adalah mengantarkan penonton untuk meyakini bahwa para tokoh dalam jejaring kenyataan itu benar-benar mengalami berbagai peristiwa yang kita lihat dibangun berdasar jaring-jaring kenyataan tersebut. Kita lihat prinsip ini dengan melihat satu contoh. Sebut saja, misalnya Robert DeNiro dalam Taxi Driver (1974). Film tersebut mengantarkan jaringan kenyataan tentang kehidupan yang sepi dari seorang supir taxi di kota New York. DeNiro yang memerankan supir taxi itu sudah berhasil membawa kita menikmati kesepian itu lewat seluruh bangunan aktingnya. Berbagai perlengkapan akting digunakan oleh DeNiro untuk menunjukkan hal tersebut. Jika kita mau mem-breakdown elemen-elemen akting, kita dapat melihat tiga macam elemen akting yang dipergunakan oleh seorang aktor/aktris dalam tugas meyakinkan para penonton.
Pertama adalah lewat dialog/monolog. Ini adalah elemen vokal dari sebuah akting. Dalam elemen ini tercakup hal-hal seperti artikulasi, intonasi, warna suara, muatan emosi hingga aksen atau dialek.
Elemen kedua adalah gesture atau bahasa tubuh. Bahasa tubuh kerap lebih ditujukan untuk menengok ke kondisi inner feeling satu karakter dalam aktingnya. Gesture lebih sering digunakan untuk menunjukkan emosi yang between the lines, ketika penonton diajak untuk menengok ke dalam kondisi psikologis yang tak diungkapkan.
Elemen ketiga adalah business acting, yaitu ketika seorang aktor berinteraksi dengan benda-benda dan lingkungan fisik di sekitarnya. Dalam hal ini, seni peran ditujukan untuk memperlihatkan bangunan karakter kepada penonton.
Secara garis besar, elemen-elemen akting ini bertugas dua hal dalam hubungannya dengan penonton: pertama, menghadirkan bangunan karakter yang diperankan oleh aktor tersebut, dengan maksud agar karakter itu memiliki bangunan logika yang padu mengapa dan bagaimana ia berada dalam realitas rekaan bernama film. Di sinilah yang namanya penghayatan terhadap peran mendapat tempat. Seorang aktor harus mampu “masuk” ke dalam karakter yang diperankannya. Kedua, karakter-karakter itu berinteraksi dengan lingkungan fisik dan manusia-manusia, karakter-karakter lain, di dalam film secara meyakinkan sehingga hubungan sebab-akibat dan logika terjelaskan dan punya dasar yang padu.
Demikianlah kita dapat melihat bagaimana seorang aktor/aktris menggunakan perangkat-perangkat dalam akting untuk meyakinkan penonton terhadap peran yang dibawakannya. Kemudian pertanyaannya bagaimanakah “seorang” aktor/aktris yang merupakan kreasi digital (sebuah CGI) dapat membawakan peran? Perangkat apakah yang ia gunakan sehingga bisa meyakinkan penonton akan karakter tersebut. Kita kembali kepada gagasan utama bahwa film adalah sebuah rekonstruksi ulang terhadap kenyataan.
Sebagai sebuah rekonstruksi ulang terhadap kenyataan, film membentuk hukum-hukumnya sendiri yang diantarkan kepada penonton dengan meyakinkan. Sebuah bangunan logika sebab-akibat coba dihadirkan guna meyakinkan penonton bahwa orang-orang, dan segala peristiwa yang terjadi dalam film benar-benar terjadi di dunia nyata. Jika kita berpegang pada hal ini, dimanakah letak acting para aktor/aktris digital itu dalam dunia rekaan ini?
Mari kita bandingkan dengan film animasi. Dalam film animasi, kenyataan direkonstruksi ulang tidak dengan maksud untuk meyakinkan penonton akan dunia nyata tersebut. Dalam sebuah film animasi, kenyataan dalam film sengaja dibuat dengan stilisasi (stylized reality) sehingga tak mungkin penonton memiliki keterkaitan dengan dunia rekaan tersebut. Berbagai karakter, benda-benda dan peristiwa dalam sebuah film animasi, secara umum, dapat dikatakan tak dapat ditemukan dalam kehidupan nyata. Penonton tak mungkin memiliki keterhubungan dengan karakter dan lingkungan kenyataan dalam sebuah film animasi sebagaimana dengan sebuah film live action.
Dalam kaitannya dengan akting, “aktor/aktris” film animasi dalam film animasi tak memiliki sebuah nilai akting yang intrinsik. Tak ada usaha para aktor/aktris film animasi untuk meyakinkan penonton akan peristiwa-peristiwa dalam dunia animasi tersebut. Dalam pengisian suara film animasi tak berusaha untuk mendekatkan karakter dalam dunia nyata. Pengisian suara dalam film animasi biasanya mengambil karakter-karakter yang ekstrem yang jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisian suara karakter dibiarkan hitam-putih guna menegaskan sifat antagonis-protagonis karakter-karakter tersebut. Dengan demikian sesungguhnya dalam film animasi, tak terdapat nilai intrinsik akting sama sekali.
Hal ini bertentangan dengan film live action yang kita bahas di atas. Dalam film live action, acting punya nilai intrinsik. Ada suatu kualitas acting yang memang berasal dari dalam dan bukan sekadar konvensi antara pembuat film dan penonton bahwa si pemain berperan menjadi orang lain. Bukan karena kita sepakat dan pembuat film bahwa Arnold Schwarzennegger memang sedang menjadi manusia robot dari masa depan (dalam Terminator) karena yang kita tonton memang cuma film. Tapi memang ada kualitas acting di dalamnya yang disampaikan oleh Arnold --lepas dari baik atau buruknya-- yang seharusnya mampu membuat kita percaya bahwa ia adalah memang robot, seperti yang diperankannya dalam film tersebut.
Kualitas intrinsik ini mampu membuat kita menilai acting seorang pemain apakah ia bermain baik atau buruk dalam menyelami karakter yang diperankannya. Dari unsure-unsur acting seperti dialog --dan aksen-- gesture, dan business acting, akan tampak apakah seorang pemain bisa menyelami karakter tersebut. Dari sini kita bisa menilai.
Sementara nilai non-intrinsik akting ini adalah kemampuan untuk make-believe, untuk membuat penonton percaya terhadap para pemain ini dalam lingkungan dunia rekaan bernama film. Nilai make-believe dalam sebuah film adalah kemampuan para pembuat film untuk menjadikan dunia rekaan itu dipercaya oleh para penonton. Berbagai benda, lingkungan, tokoh-tokoh dan segala macam peristiwa dalam film menjadi dapat diterima oleh penonton. Dengan demikian, maka acting pada “pemain” digital menjadi bagian dari kerja para pembuat film untuk meyakinkan penonton, bagian dari proses make-believe.
Apakah ini berarti bahwa para aktor/aktris digital itu tak layak beroleh imbalan berupa award dan sebaiknya para kreatornya saja? Nanti dulu. Satu hal yang buat saya penting adalah: proses make-believe bukan urusan penonton! Ketika seorang penonton datang ke bioskop (membeli atau menyewa DVD) kemudian menyaksikan film, sudah terbangun kesepakatan tak tertulis bahwa sang penonton akan menunda segala macam perasaan tidak percaya (bahwa yang ditontonnya hanya film dan bukan dunia nyata) dan menikmati film itu baik-baik. Jika “kesepakatan” macam ini tak terbentuk dan sang pembuat film harus menjelas-jelaskan berbagai makna dalam filmnya, maka komunikasi film itu sudah gagal. Dengan demikian sebuah usaha make-believe sebaiknya ditinggal di behind the scene saja.
Dengan demikian, maka bagi penonton yang terpenting adalah: apakah tokoh rekaan CGI yang tampak di layar cukup meyakinkan atau tidak. Apakah ketika kita menyaksikan film tersebut kita tak bertanya tentang keberadaan tokoh-tokohnya. Dan semuanya masuk akal-masuk akal saja.
Dalam hal inilah, maka Gollum alias Smeagol hadir ke hadapan penonton --ke hadapan saya-- sebagai seorang aktor yang mumpuni. Dalam film itu, tampak elemen acting Smeagol/Gollum tampak sempurna. Dalam dialog-dialognya tampak sekali perubahan karakter siluman berkepribadian ganda ini. Suaranya bisa begitu tak berdosa ketika ia meminta ampun kepada Frodo Baggins dan Sam Gamgee. Dan sebaliknya, saat kepribadian jahatnya muncul, suaranya menjadi berubah. Perubahan ini mengingatkan saya pada acting Edward Norton dalam Primal Fear (1996), yang membuat Norton beroleh nominasi Oscar sebagai peran pembantu pria terbaik.
Kemudian dari gesturenya, perubahan kepribadian juga tampak. Mulai dari cara berjalan, matanya ketika mendelik dan seterusnya. Yang paling menarik justru adalah busines acting dan konteks dari kehadiran Gollum. Interaksi dia dengan benda dan tokoh sekitarnya demikian meyakinkan, sama meyakinkannya dengan keberhasilan Peter Jackson dan segerombolan timnya membuat seluruh bangunan cerita LOTR demikian meyakinkan. Demikian meyakinkannya sehingga bagi saya, Gollum atau Smeagol ini lebih baik aktingnya daripada beberapa pemain film sungguhan dalam film itu. Maka bagi saya Gollum alias Smeagol ini seharusnya mendapatkan Oscar atau penghargaan seprestisius itu. Secara keseluruhan, bagi saya Gollum sudah berhasil berakting dengan sangat baik, jauh lebih baik ketimbang para aktor/aktris nyata yang bermain dalam film itu. Inilah yang seharusnya beroleh penghargaan lebih ketimbang yang sudah diterima film ini.
***
Dengan menonton LOTR, baik The Two Towers maupun The Return of The King, saya merasa bahwa yang dikatakan Arya Gunawan bahwa suatu saat aktor/aktris digital akan menggantikan para pemain film yang sesungguhnya sedang menemukan jalannya. Bisa saja suatu saat benar-benar terjadi para pembuat film menggunakan para pemain digital karena biayanya pasti lebih murah ketimbang menggunakan bintang-bintang kelas satu.
Ternyata sesuatu yang saya anggap lucu bisa saja berubah seiring berjalannya waktu. Jika Anda juga masih merasa bahwa apa yang saya sampaikan di sini juga sama lucunya dengan anggapan saya terhadap tulisan Arya Gunawan itu, ya tak apa juga.
(28 Juni 2004)


0 Comments:

Post a Comment

<< Home